Kepalaku sakit. Rasanya nyeri tak tertahankan. Pandangan mataku bahkan tidak terlihat jelas. Semua buram. Dan tubuhku terasa remuk redam. Sangat sakit. Suara percakapan beberapa orang di kelilingku tidak terdengar jelas.
"Dia kekurangan darah! Siapkan darah!" Ucap seseorang yang terdengar samar. Di mana aku. Yang ada pengelihatanku hanya suasana berwarna putih dengan orang orang yang memakai pakaian putih. Atau aku sudah ada surga? Dan di surga juga aku masih harus di obati? Apa memang seperti itu?
"Baik dok! Bagaimana dengan kepalanya?"
"Dia mengalami gagar otak ringan. Kita harus melakukan oprasi kecil untuk ke..."
Aku menggerang kesakitan ketika rasa sakit di kepalaku semakin menjadi. Tanpa sadar tanganku meraih sesuatu untuk menahan tubuhku yang ingin sekali bergerak. Mataku yang terpejam langsung terbuka untuk bilang jika aku tengah kesakitan.
"Tenang... anda akan baik baik saja. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengobati anda."
Sebuah suara tegas yang begitu lembut itu membuatku melihat sosok yang ternyata jasnya tengah aku cengkram kuat. Ternyata seorang dokter. Pengelihatanku perlahan mulai terlihat meski sedikit buram. Namun aku hanya bisa melihat mata jernih yang menatapku tajam. Indah dan aku suka dengan mata itu. Setelah itu, aku memejamkan mataku karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit itu membuatku tidak sadar lagi.
●○
Rasa nyaman yang aku rasakan kini membuatku enggan untuk membuka mata dan kembali melanjutkan tidurku. Namun, semua itu hilang ketika aku mengingat gea dan rama yang menghianatiku. Dadaku kembali terasa sesak di sertai rasa sakit hingga membuat air mataku mengalir. Mereka jahat sekali. Tidak, dunia ini kejam sekali padaku. Tidak ada yang peduli padaku. Bahkan jika kini aku matipun pasti tidak akan ada yang peduli dan mencariku.
"Heii... apa kamu baik baik saja? Ada yang sakit?"
Aku tertegun mendengar itu. Siapa? Aku menggeleng. Pasti itu hanya suara di kepalaku. Ku pegang kepalaku yang terasa nyeri itu. Sakit... kenapa aku harus selamat! Kenapa aju tidak mati saja karena kecelakaan itu?!
"Sakit... aku ingin mati!" Ucapku lemah. Seseorang memegang tanganku membuatku tersentak dan perlahan membuka mata yang terasa sangat berat itu.
"Aku sudah berusaha menghidupkanmu dan kau mau mati? Hargailah hidupmu. Apa kau baik baik saja? Tubuhmu sedikit panas. Tidak apa ini karena oprasi tadi. Kau akan baik baik saja."
Suara itu lagi. Siapa? Sebenarnya dia ini siapa? Kenapa hanya suaranya yang selalu terdengar jelas di telingaku? Mataku menyipit melihat wajah seorang laki laki di depanku kini. Aku tidak bisa melihatnya. Selain karena buram dia juga memakai masker.
Rasa dingin terasa di keningku membuat sakit itu sedikit mereda. Tubuhku rileks dan tidur tenang. Apa semua tangan dokter sehebat itu? Hanya dari sentuhan tangannya saja sudah membuatku tidak merasa sakit. Tangan dingin itu seperti mengeluarkan sesuatu yang membuat sakitku mereda.
"Terimakasih." Gumanku sebelum akhirnya kembali tidur.
●●○
Suara kicauan burung terdengar membangunkanku dari tidurku. Rasanya tubuhku terasa sedikit ringan. Meski masih terasa sakit di punggung tanganku karena infus. Aku menghela nafas menatap atap ruang inap rumah sakit ini. Di kanan kiriku ada sebuah kelambu untuk menjadi sekat antara ranjang ini dengan yang lain.
Aku tersenyum miring. Tidak ada yang menemaniku disini. Hanya aku sendiri. Tidak ada papa dan mama yang mengkhawatirkan aku. Dan juga lena yang menemaniku. Dulu, ada rama dan gea yang akan menemaniku. Ahh... itu tidak mungkin. Mereka sama saja dengan orangtuaku. Kenapa aku selalu menangis jika memikirkan mereka?! Bodoh! Memang aku sangat bodoh sekali menangis mereka yang sudah menghianatiku.
"Jangan berpikir terlalu berat. Kepalamu masih belum baik. Itu bisa berakibat buruk pada kepalamu!"
Suara itu menyentakku hingga membuatku menoleh ke arah samping. Seorang dokter laki laki dengan masker menutupi hidung dan bibirnya. Dia tengah mengecek infusku. Aku mengalihkan pandanganku darinya dan menghapus air mataku. Aku tidak ingin orang lain melihatku menangis. Itu sama saja dengan menunjukkan lukaku.
"Kepalamu tidak sakit lagi?!" Tanya dokter itu. Aku diam tidak menjawab menatap lurus ke arah gorden di depanku.
Rasa dingin terasa di keningku yang terbalut perban itu. Aku mendongak menatap apa yang ada disana. Namun yang aku temukan adalah sebuah tatapan mata tajam menatapku. Dokter itu dia tengah menyentuh keningku. Aku mengernyit melihat pandangan datar dan tajam itu. Apa seperti itu dokter mengobati pasien? Bukankah hal itu bisa membuat pasiennya takut? Aku menyentak tangannya agar menjauh dari kepalaku.
"Panasmu sudah turun. Ini obat yang harus kau minum." Ucap dokter itu. Dia berjalan pergi setelah mengatakan itu.
"Berapa lama saya harus di rawat?!" Tanyaku cepat sebelum dokter itu mebghilang di balik gorden. Dokter itu menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh dia menjawabku.
"Untuk sekarang, kau masih harus di rawat!" Ucapnya dan berjalan cepat pergi dari sini. Aku mendengus kesal. Kenapa semua orang begitu padaku?! Apa wajahku menyeramkan hingga tidak ada yang betah denganku?! Menghela nafas lelah aku menatap atap kamar sendu.
Hidupku kembali seperti masa di mana aku tidak memiliki siapapun. Sepertinya memang aku harus berpegangan pada diriku sendiri. Tidak ada orang lain lagi yang akan mau memegangiku dan menjadikan dirinya sandaran untukku. Tidak apa. Aku sudah terbiasa dulu. Meski beberapa tahun ini aku sudah terbiasa dengan adanya gea dan rama. Ahh... menyebut nama mereka saja sudah membuat dadaku terasa sesak.
Kepalaku terasa berdenging nyeri membuatku meringis kesakitan. Aku memejamkan mataku dan memegangi kepalaku yang di perban itu. Rasanya sakit sekali sampai rasanya mataku saja tak bisa terbuka karena sangat sakit.
"Aku kenapa? Akhh! Sakit!" Keluhku. Aku mendongak mencari sebuah tombol yang biasa di pakai untuk memanggil dokter atau perawat. Dengan susah payah aku berusaha menekan tombol itu. Setelah berhasil memencetnya aku kembali memegangi kepalaku.
"Dokter tolong kepala saya sakit sekali!" Keluhku ketika suara sibakan gorden terdengar.
"Saya sudah bilang jika anda tidak boleh terlalu stress dan memikirkan banyak hal. Sebentar akan saya periksa dulu!" Ucap dokter itu. Sepertinya dokternya adalah dokter yang kemari tadi.
Dokter itu menarik tanganku yang memegangi kepalaku dan menggantikan dengan tangannya. Entah apa yang dia lakukan dengan kepalaku aku tidak tahu.
"Rileks... atur pernafasan. Tarik nafas... dan keluarkan." Ucap dokter itu. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Aku meringis saat dokter itu menyentuh leher belakangku.
"Jangan memikirkan masalah anda dulu. Fokus pada kesembuhan anda sendiri. Jika seperti ini akan semakin lama anda di rumah sakit."
"Berapa lama?" Tanyaku.
"Lima atau satu minggu. Apa kau merasakan ini?" Tanyanya entah melakukan apa. Aku hanya diam dan bingung.
"Tangan dan kakimu mati rasa. Sebaiknya kau beristirahat dengan baik dan juga minum obat yang sudah di siapkan. Karena keluargamu tidak ada, akan ada suster yang merawatmu." Jelas dokter itu. Aku membuka mataku. Namun pengelihatanku jadi buram membuatku menerjab bingung.
"Pengelihatanmu juga mungkin akan terganggu beberapa jam saja. Tidak apa. Kau hanya perlu menenangkan pikiran agar tidak terlalu stress." Ucap dokter itu seakan mengerti kebingunganku.
"Akan saya panggilkan suster untuk membantumu makan dan minum obat." Ucapnya. Aku menoleh ke arah dokter yang kini berjalan menjauh.
"Dokter... terimakasih." Gumanku. Ku lihat dokter itu menghentikan langkahnya. Seperti tadi, tanpa berbalik dan mengatakan apapun dia melanjutkan langkahnya untuk pergi. Sepeninggal doker itu aku menghela nafas panjang. Doker itu benar. Aku harus sembuh dan setelah itu melanjutkan kembali hidupku yang menyebalkan ini.
●●○
Sudah hampir lima hari aku di rawat di rumah sakit. Lena tahu keadaanku. Dia sekali datang menjenguk. Mama dan papa mereka bahkan tidak repot repot untuk datang. Kepalaku sudah sedikit membaik. Pengelihatanku juga sudah normal. Kepalaku tidak terasa seberat waktu itu.
Kini aku tengah duduk di kursi taman rumah sakit. Sendirian. Melihat beberapa orang melakukan hal yang sama sepertiku. Duduk diam memenghirup udara segar di taman ini sedikit membuatku tenang. Setidaknya di rumah sakit ini tidak membuatku bertemu dengan rama dan gea.
"Mama... kapan Hani bisa pulang dari rumah sakit?"
Suara itu membuatku menoleh. Di samping kananku ku lihat seorang gadis kecil duduk di atas kursi roda menatap kesal ke arah ibunya yang berjongkok di depannya. Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengelus kepala putrinya.
"Kalau putri mama yang cantik ini sudah sembuh, kita akan pulang." Ucapnya lembut. Sungguh interaksi yang membuat siapapun iri melihatnya. Atau hanya aku? Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu.
Mama bahkan tidak pernah bicara baik baik padaku. Beliau bicara jika memarahiku atau bicara buruk padaku. Aku menatap sendu mereka. Gadis kecil itu beruntung sekali. Bisa di cium dan di peluk seperti itu oleh ibunya.
"Kalau pulang hani mau kita jalan jalan." Ucap gadis itu senang.
"Iya sayang. Kita akan jalan jalan dengan papa. Oh iya papa nanti sore kesini." Balas ibunya. Ku lihat mata gadis kecil itu berbinar senang.
"Benarkah?! Yeayy... aku minta permen!" Serunya senang. Aku ikut tersenyum kecil melihatnya.
"Bukankah itu hal yang membahagiakan? Kenapa kau menangis?"
Aku tersentak mendengar celetukan itu. Kepalaku menoleh ke arah kiri dan mengernyit tidak suka melihat dokter Devan duduk di sampingku. Sejak kapan dia ada di sana. Tanganku terulur menyentuh pipiku dan benar saja. Pipiku basah karena air mata. Aku tidak sadar menangis melihat mereka tadi. Aku memalingkan wajahku darinya dan menyeka air mataku dengan cepat.
"Saya tidak menangis!" Kesalku dan menegakkan badanku menatap ke depan.
"Aku tadi melihatnya. Kau tersenyum tapi matamu mengeluarkan air mata." Ucapnya. Aku mendengus kesal tidak menjawabnya.
Di rumah sakit ini aku paling tidak suka pada dokter Devan. Dokter yang merawatku. Dialah dokter yang selalu memeriksa dan menyembuhkanku. Tapi aku sangat tidak suka padanya. Selain karena wajahnya yang selalu datar dan ucapannya yang juga menyebalkan, dia sering memergokiku dan melihatku menangis.
Aku tidak suka. Kenapa dia selalu tahu ketika aku sedang memikirkan sesuatu dan merasa sedih. Yang lebih menyebalkannya lagi, kedatangannya bukan membuatku menjadi lebih baik namun malah semakin buruk saja.
"Itu tetesan air dari atas! Bukan air mata!" Ketusku. Doker devan mendengus.
"Cuaca pagi ini sangat cerah. Tidak mungkin tiba tiba ada air hujan menetes. Jika ada air itu mungkin burung sedang kencing?" Ucapnya. Aku berdecak menoleh ke arahnya.
"Apa dokter tidak memerika pasien anda?! Kenapa anda mengganggu saya?!" Kesalku.
"Kamu juga pasienku. Kalau kamu lupa." Ucapnya tanpa melihatku. Menghela nafas kesal aku berdiri dari dudukku.
"Saya boleh pulang hari inikan?!" Tanyaku berbalik ke arahnya. Dia mendongak menatapku.
"Iya sore ini kamu sudah boleh pulang." Jawabnya. Aku tersenyum senang. Akhirnya! Aku sungguh tidak betah ada di rumah sakit selama lima hari ini. Sudah banyak sekali waktu terbuang yang seharusnya aku gunakan untuk menyelesaikan skripsiku.
"Terimakasih dokter sudah membantu menyembuhkan saya." Kataku sambil menundukkan kepala sebentar. Setelah itu aku berbalik pergi.
"Aku menyukaimu!"