*Perjalanan*
Aku, hmmm.. Entah berapa lama aku berdiri disini. Rasanya angin telah meniupkanku sampai di jalan ini. Jalan yang telah lama kulalui. Jalan yang selalu macet dengan kebisingan kota.
Akh,... mengapa harus ke jalan ini?!!!. Mengapa ke jalan yang selalu enggan untuk menyapaku ?!!!. Akh, orang itu lagi. Orang yang selalu menyapaku dengan senyumannya yang khas.
ah... akhirnya sampai juga jalan raya.
"Pak, ke kampus 2 ya. Nggak ngetem kan?.".
"Iya neng. ok".
Hmm... hidup memang penuh warna.
"Mang,jalan neglasari satu ya".
"Iya mang. Jalan neglasari satu ya. kita berdua".
"iya. didempet,didempet ya.".
"Iya mang".
"eh andi duduk sini. jangan dekat pintu".
"ok, bu"
" Nanti kita kumpul dibelokan warung nasi ya. Setelah ke rumah-rumah besar sana. nanti kumpulnya di warung nasi. Ingat ya. Jangan telat. Dan jangan lupa. Rumah-rumah besarnya jangan terlewat. kan lumayan seribu dua ribu dikumpulkan jadi lima puluh ribu".
"ok, bu"
Aduhhh,apa lagi ini?!!!. Kenapa ibu dan anak itu sih, yang selalu seangkot?. sebel rasanya aku. Seenaknya saja, dia nyuruh anaknya minta-minta. Memangnya siapa dia?. Ibu macam apa dia?. Sampai anaknya sendiri harus melakukan pekerjaan itu. eu... eu... euh... rasa-rasanya ingin kumaki dia.
Sepertinya kemiskinan sudah menjadi profesi di negeri kita ini. Bayangkan saja. Di tiap ruas jalan, banyak orang yang peminta-minta. Pagi diantar motor, malam dijemput mobil. Atau rombongan anak dengan pakaian compang-camping,naik angkot dan dengan rencana setengah matangnya,mereka menyebar dan kembali pulang berkumpul disatu titik. Atau malahan anaknya merupakan sebuah sewaan?. Hmmm...
Astaghfirullah, kenapa aku menggeneral semuanya sih?. Minimal masih ada kan yang jujur diantara mereka.. Walaupun seperti menemukan jarum di air yang keruh. Astaghfirullah, kenapa hati ini selalu ngedumel sih?. akh... ya sudah. Untuk besok-besok, aku buat lsm saja. Aku didik mereka. Aku arahkan mereka biar menjadi manusia yang mandiri. Yang tidak hanya mengandalkan dengkul saja. Tapi otaknya juga harus pintar inovatif.
Aku buat perusahaan pembinaan keterampilan. Aku pasarkan produk mereka. Lalu buat sekolah gratis bagi mereka dan aku anjurkan mereka untuk menjadi bapak angkat bagi yang lainnya. Saling menopang dan memajukan antar mereka.
Ya udahlah. Itu adalah rencana jangka pendek. Sekarang lebih baik, aku baca buku saja. Biar tidak jenuh.
"Kupinang engkau dengan hamdallah"
aduh. Kenapa buku ini sih?. ah... berabe. Apa itu nikah?. Nikah hanya buat kita ruwet kan?. Iya nggak?. Coba tanya saja pada temanku yang nikah. Jawabannya pasti satu. Capek,titik. Belum harus beli beras,lauk pauk, bayar listrik.
Belum punya anak. Harus beli pakaiannya,pendidikannya bagaimana. ah apa itu nikah?. Orang saja,yang sudah nikah,masih bisa selingkuh. Coba deh tanya di kota-kota besar. Banyak kok tante-tante atau om-om yang nyari mangsa. Karena di rumah, katanya lauknya hambar. Coba deh tanya. Berapa banyak sih yang setia pada pasangannya?. Pasti satu berbanding seribu.
ah bikin pusing saja.
***
Akhirnya kuinjakkan juga kakiku pada halaman kampus ini. Rasa-rasanya aku ingin pulang saja ke rumah. Tapi... ah ya sudah aku telusuri saja jalan ini. toh,tidak akan ada ruginya aku disini. Kecuali ongkos hehehe....
Huh,ngapain lagi orang ini. Berdiri di gerbang kampus. Rasa-rasanya sebel aja aku. Sok kaya, sok berjuis. Padahal mah menindas orang saja. Ngapain aku ketemu dia. Bikin rese saja.
Dasar tukang menindas orang saja. Seenaknya saja dia ngatur disiplin. KKN harus tanggung jawab. Jangan seenak e dewe. Jangan ini,jangan itu. Tapi kenyataannya dia dengan seenaknya mengatur se gank nya dapat nilai tinggi. Padahal teman-temannya itu jarang ada di tempat ppl. Hanya karena temannya itu punya mobil. Dengan mudahnya dia mendapat nilai A. Hidup memang rumit ya?.
ah ngapain aku mikirin orang lain. mending kalau ada bagusnya. ini mah nggak.
hmm... udara disini sejuk ya. Kedamaian ini, kenangan ini, kebesaran-Nya ini. Masya Allah, membuatku rasa-rasanya ingin disini selama-lamanya. Pohon yang rindang, ilalang yang tumbuh, angin yang menggelora, Semua menyatu dalam rasa bayangan keyakinan akan masa depan. so sweat kan?. Ups. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?.
hmm... pernah terpikir nggak sih?. Berguguran daun itu Allah Maha Tahu. Apalagi hati manusia ya?!!!. Kayaknya kalau dihitung-hitung sejak pergi dari rumah sampai ke sini, banyak deh pikiran-pikiran kotornya. Kayaknya kalau dihitung-hitung dengan jari. Belum satu hari sudah numpuk dosaku. Apalagi sebulan. Kok, aku sebagai manusia,nggak sadar ya. Tiap kejadian kan banyak maknanya. Banyak beribu-ribu kebaikan yang dapat diambil. Siapa tau aja. Pas ketemu orang se-KKn,aku sadar akan kurangnya instropeksi diri. Mungkin pas ketemu pengemis tadi,mungkin akan menyadarkanku. Banyak loh yang membutuhkan uluran kita.
Atau siapa tau, ketika aku baca "kupinang engkau dengan hamdalah", mungkin Allah ingin menyadarkanku secepatnya nikah. Jangan berpikir negatif dulu. Siap tau dengan nikah aku jadi aman dan mau ngapa-ngapain gampang. Tidak akan takut dosa kan?.