Jika bukan karena mentari pagi dan teriakan mama, pasti Scarlett tidak akan beranjak dari tempat tidurnya yang empuk. Sejak semalam Scarlett memutuskan untuk mencari pekerjaan baru di restoran, namun rencananya gagal total karena bangun kesiangan, ditambah lagi kini Scarlett suka begadang karena keranjingan main media sosial.
Siapa sangka Scarlett yang lucu telah tumbuh menjadi gadis ceria nan manis. Senyumnya hampir membuat pabrik gula tutup. Gadis manis dengan lesung pipi. Mata indah berwarna coklat cerah. Berambut ikal panjang dengan kulit hitam manis. Ahhh indah sekali parasnya.
"Bangun Scarlett, anak gadis tidak boleh bangun kesiangan!"
"iya mama, ini Scar udah bangun, mama berisik tau"
"oh sudah mulai menjawab mama ya, bukannya semalam kamu yang suruh mama buat bangunin kamu?, udah lupa?!"
"eh ia mama, maaf ya, lagian semalam Scar begadang"
"kamu ini nggak konsisten ya, lain kali nggak usah bikin rencana bangun pagi, kalau malam malah begadang begitu!"
"iya mama, lagian mama kok jadi omelin Scar begini sih"
"lagian kamu ngundang mama buat ngomel sih"
"udah mam, Scar mau mandi, trus mau ke tempat Paman Robert, mau minta kerjaan sama Paman"
"ya udah sana, jangan lupa sarapan, mama udah siapin di meja"
"ok deh mam"
"ya, jangan jadi beban bangsa dan negara terus. Cari kerjaan sana sampai dapat baru pulang"
"kalo nggak nemu, gimana mam?"
"tidur di luar, kalo nggak nginap aja di tempat Paman Robert!"
"kok mama tega sih"
"Scar! mandi sana keburu siang, dari tadi nanya mulu, mama malas jawab pertanyaan kamu"
"lagian mama gitu"
"Scarletta Maria!"
Jika mama sudah memanggil nama lengkap, hentikan bicara dan pergi sebelum sendal mahal mama seharga 10 ribu itu mendarat cantik di wajah indahmu.
Aku tinggal bersama mama dan Kaka Hendrik, sejak Papa berpulang, hidupku benar-benar kacau, usia ku yang baru beranjak 18 tahun mengharuskan aku berhenti sekolah. Aku hanyalah seorang gadis dengan pendidikan seperti kebanyakan orang, tidak punya kesempatan untuk menikmati bangku kuliah. Padahal aku sangat ingin berkuliah dan mengambil jurusan jurnalistik.
Aku punya banyak impian, sangat banyak. Sampai Kadang aku berpikir bagaimana aku akan memulai mimpi itu. Hidup dalam keadaan yang pas-pasan membuatku mengurungkan banyak hal dalam hidupku. Namun jika Tuhan mengijinkan aku ingin kuliah, itu saja untuk saat ini.
Mama selalu menjadi sosok terhebat dalam hidupku. Mama berjuang untuk aku dan kaka Hendrik agar hidup layak dan bahagia. Aku bersyukur untuk semua hal yang mama lakukan untuk aku dan Kaka. Sejak kepergian Papa untuk selamanya mama punya tanggung jawab lebih untuk menghidupi kami bertiga. Aku rindu papa yang kini berada di surga.
Itu sekelibat cerita tentang keluargaku. Nanti aku ceritakan lagi.
Beban di pundakku terasa hilang. Selesai mandi aku dandan sekedarnya dan sarapan, Aku tidak pernah melewatkan sarapan yang mama siapkan, aku sungguh menghargai usaha mama.
"Mama, Scar berangkat ke tempat Paman ya, sampai jumpa nanti sore"
"iya Scar, semangat! nanti sore tunggu Kaka Hendrik supaya kalian bisa pulang berdua."
"baiklah mam."
Melihat mama tersenyum membuat duniaku berwarna, hanya mama seorang yang mampu mengubah segala gelisahku jadi harapan. Jika ada lomba mama terbaik pasti mamaku yang menjadi juara.
Aku menyusuri jalan dengan mengendarai sepeda motor yang dihadiahkan papa saat ulang tahun ku yang ke 17. Jalanan padat sekali, biasanya tidak membutuhkan waktu lama ke tempat Paman, tapi kali ini rasanya sangat lama. Lampu merah membuatku akan sangat terlambat. Aku memutuskan mengambil jalan pintas, namun sungguh sial, aku salah arah dan motor di depanku menghantam motorku, aku terjatuh lutut dan siku ku berdarah.
Sontak jalanan makin Keos karena macet, motor yang menabrakku pengemudinya masih bisa berdiri sendiri, sedangkan tubuhku lemah terkulai aku tidak sanggup berdiri.
Seseorang dengan sigap menggendongku dan membawaku ke tepi jalan, sedangkan motorku di dorong oleh orang sekitar ke warung di sebelah jalan. Sial! aku mengumpat dalam hati, jika keadaan ku begini aku akan terus menjadi beban keluarga.
Tubuhku lemas, seseorang yang menggendongku saat ini masih bersamaku, aku memeluknya sambil meringis kesakitan. Dia seperti merasakan sakitku, dia menenangkan aku. Dia mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek. ku pastikan saat ini kaosnya sudah berlumuran darah.
Setelah merasa cukup tenang, dia memanggil taksi dan segera membawaku ke rumah sakit terdekat.
Motor dan orang yang menabrakku tadi aku sungguh tidak peduli lagi. Aku pingsan dalam perjalanan ke rumah sakit. Yang terakhir kali dalam pikiranku hanya dia.
Siapa?
aku harus berterima kasih