"Aku bosan!"
"Hey, aku bosan! Bisakah kau tinggalkan pekerjaanmu itu sebentar?"
"Ayo ajaklah aku mengobrol! Jangan diam saja!"
"Sepertinya aku akan mati kebosanan disini."
"Dreynan, aku bosan!"
Bibir Asrein tak henti-hentinya mengeluh hingga membuat Dreynan yang sedang berkutat dengan tugas-tugas kerajaan yang menumpuk merasa kesal.
"Kalau kau bosan kenapa kesini?!" Marah Dreynan tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas didepannya. Tangannya bergerak seiring dengan goresan tinta yang terukir dilembaran kertas tersebut.
Dia sudah dipusingkan dengan pemberontakan rakyat diwilayah barat. Mereka bilang bahwa pihak kerajaan mengambil secara paksa hasil panen para petani, padahal kerajaan tidak pernah melakukan hal itu. Dia curiga pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dugaannya sekarang yaitu ada salah satu penghianat dikerajaan ini yang berusaha membuat rakyat memberontak. Tapi siapa?
Dan jujur keberadaan Asrein disini malah menambah beban pikirannya. Telinganya sudah panas mendengar variasi keluhan adiknya itu sedari tadi.
"Apa salahnya jika mengunjungi kakak sendiri?" Asrein berguling ke kiri hingga membuat posisinya berubah menjadi telungkup diatas ranjang Dreynan. Ya, mereka tengah berada di kamar yang juga merangkap sebagai ruang kerja milik Dreynan.
"Tapi kau tidak bisa diam, dan itu mengganggu konsentrasiku!"
"Baiklah-baiklah, aku akan diam!" Asrein berguling kembali kekanan hingga posisinya menjadi seperti sebelumnya. telentang.
Dreynan kembali memfokuskan dirinya untuk membuat surat panggilan kepada ketua aksi pemberontakan itu untuk berunding bersama.
Sebenarnya ia menyesal lahir sebagai anak pertama, karna hal itu menyebabkan dirinya dinobatkan sebagai Pangeran Mahkota.
Ayahnya yaitu Raja Varlsyien menyerahkan semua tugas kerajaan kepadanya agar menjadi sosok Raja yang bijaksana nan kuat kelak. Tapi tugas-tugas ini malah membuat dirinya jarang sekali bertemu dengan Dyeza, istrinya. Terhitung sedikit sekali interaksi antara ia dengan gadis itu, dan ia takut akan semakin susah mencuri hatinya nanti. Sungguh ia tidak mau tertinggal sama saudara-saudaranya yang lain!
Prang!
Dreynan menoleh cepat dan langsung mendapati bola sihir kesayangannya sudah pecah berkeping-keping diatas lantai. Disampingnya terdapat sang pelaku yang hanya menampilkan cengiran lebar.
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN BOLA SIHIRKU?!"
Dreynan berteriak murka dan langsung menghampiri Asrein yang sedang terduduk ditepi ranjang. Dia menatap nanar bola sihirnya yang sudah tidak karuan bentuknya. Sebenarnya ia bisa saja membuat lagi, tapi bola sihir ini merupakan hadiah pertamanya saat berhasil menguasai ilmu sihir sorcerer secara keseluruhan dulu. Wajar saja jika ia sangat marah.
"Tadi aku mau pergi, tapi tak sengaja menyenggolnya!" Asrein membela diri. Dia tadi memang hendak pergi melihat pekerjaan Dreynan, namun sialnya tangan gantengnya ini malah menyenggol bola sihir itu. "Lagipula yang menyenggol kan tanganku, jadi tangan ini yang salah, bukan aku!" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk tangan kanannya.
Rahang Dreynan kian mengeras ketika mendengar ucapan konyol Asrein tersebut. Tangannya mengepal kuat untuk menahan emosinya yang siap meledak kapan saja. Kalau saja Asrein bukanlah adiknya, bisa dipastikan dia sekarang sudah tidak bernyawa.
"Kau itu selalu saja menyusahkan! Kepalaku serasa mau meledak akan tingkah lakumu itu kau tahu?!"
"Memangnya kepala bisa meledak? Dikepalamu ada bom kah?" tanya Asrein dengan wajah polos-polos menyebalkan.
"DIAM! PERGI KAU DARI KAMARKU!!"
"Pengusiran." Bibir Asrein menggerutu pelan. "Memang lebih baik dikamar Yezra."
"YA SUDAH PERGI SANA!!"
"Iya iya, tidak usah teriak-teriak segala!" Asrein berbalik lalu kemudian berjalan pergi seraya bibirnya masih tak henti-hentinya menggerutu.
"Jahat sekali jadi kakak! Untung aku adik yang baik, ganteng, dan tidak sombong!"
☔☔☔☔☔☔☔☔☔☔☔
"Ayo cepat katakan!"
Asrein yang tengah berjalan menyusuri koridor langsung menghentikan langkahnya ketika suara familiar tersebut terdengar ditelinganya.
Keningnya berkerut. Itu suara Dyeza, tapi dengan siapa dia berbicara?
Berkat rasa keingintahuan-nya yang besar, Asrein mendekat ke kamar Dyeza untuk mendengarkan apa yang terjadi didalam atau dalam bahasa manusia yaitu 'menguping'.
"Apa lihat-lihat! Pergi kau atau ku congkel kedua bola matamu!" ucap Asrein ketika melihat kedua penjaga pintu melihatnya dengan tatapan heran.
Sontak saja setelah mendapat ancaman tersebut, kedua penjaga itu langsung segera lari setelah meminta maaf.
"Huh, menyebalkan!" Asrein menggerutu pelan sebelum menempelkan telinganya tepat didepan pintu.
Kamar ini memang kedap suara, namun ia tetap dapat mendengar suara didalam berkat kekuatannya yang berada diatas rata-rata seorang necromancer.
"5 tahun yang lalu, kau datang ke kerajaan ini bersama Zarel dan Eyden. Tingkahmu begitu polos dan menggemaskan, dan hal itu membuat kelima pangeran itu menyukaimu, ah bukan lebih tepatnya terobsesi padamu."
Mata Asrein kian menajam dengan aura hitam yang mulai muncul dari balik tubuhnya. Rahangnya mengeras ketika ia mengenali suara siapa itu.
Sialan kau Hrym!
Napasnya bergemuruh seiring dengan dadanya yang naik-turun karna emosi. Dia mendengar semua penjelasan yang dipaparkan oleh Hrym s****n itu sampai akhir.
"Mereka, kelima suamimu, membantai habis semua kerabatmu tanpa tersisa satupun. Mereka membunuh keluargamu dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan. Dan kau tahu..."
"Nyawa kedua orang tuamu melayang di tangan Eyden."
Asap hitam yang menguar dari balik tubuh Asrein kian memekat saat mendengar ucapan terakhir Hrym yang hampir membuat jiwa necromancy-nya berontak hendak membunuh lelaki itu sekarang juga.
Dengan penuh emosi, Asrein melangkah pergi saat itu juga dengan amarahnya yang membara.
"HRYM s****n!! BERANI-BERANINYA DIA MEMBOCORKAN HAL ITU!!"
"TERKUTUKLAH KAU HRYM! AKU BERJANJI AKAN MEMBUNUHMU s****n!!"
"Hoaamm, ngantuk..."
Serempak semua pangeran menatap tajam Zarel yang sedang berguling-guling di atas ranjang milik Eyden guna mencari posisi paling nyaman untuk tidur.
"ZAREL!!"
"Ada apa? Aku hanya ingin tidur. Salahkah?" Zarel menatap ketiga suadaranya yang meneriakinya tadi dengan pandangan sayu. Demi kerang ajaib, ia sangat mengantuk sekarang!
"Ini bukan saat yang tepat untuk tidur, Zarel! Kita harus memikirkan bagaimana cara kita untuk menghadapi Dyeza sekarang!" Yezra tak kuasa untuk tidak marah kepada sang kakak yang super konyol ini. Dalam keadaan genting seperti sekarang, Zarel malah bertingkah seperti ini.
"Hah, aku tidak menduga kalau Hrym s****n itu akan membocorkan hal itu dan mengarangnya!" Marah Asrein. "Ingin sekali rasanya aku mencabik-cabik tubuhnya itu kalau saja dia bukan anak dari Selir Hwan!"
Ya, mereka tidak mungkin membunuh putera selir Hwan tersebut karena dahulu selir Hwan sangat baik dan menyayangi mereka dengan setulus hati. Sebelum dia ditemukan tewas akibat bunuh diri, padahal sejujurnya mereka semua tahu kalau ibu kandung mereka sendiri yang membunuh selir Hwan.
"Bagaimana ini Eyden? Kita tidak mungkin membiarkan Dyeza salah paham tentang kita gara-gara cerita karangan dari Hrym." Dreynan menatap ke Eyden yang hanya menatap ke luar jendela dengan pandangan sulit diartikan. Biasanya, Eyden-lah yang suka memecahkan masalah dengan ide-idenya yang cemerlang. Dia pernah menawarkan posisi Pangeran Mahkota kepadanya, namun dia menolak mentah-mentah tawarannya itu.
"Aku sudah menduganya." Sama sekali tidak ada ekspresi ketika Eyden mengatakan hal itu. Tidak jelas apa arti dari tatapannya pada satu titik yang sudah ia amati sedari tadi.
Sebuah gazebo kecil yang biasa ia gunakan untuk tidur.
"Dia terlalu dibutakan oleh ambisinya yang besar."
Eyden berbalik dan menatap satu persatu keempat saudaranya.
Dreynan yang sedang menatapnya dengan harap-harap cemas.
Yezra yang sedang duduk dengan mata yang memancarkan sinar terluka dan marah.
Asrein yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan bahu bergetar. Pertanda kalau ia tengah menahan emosinya agar jiwa necromancy-nya tidak lagi memberontak keluar.
Dan Zarel yang sudah jauh pergi ke alam mimpi dengan memeluk gulingnya dengan sangat erat.
Eyden menghela napas berat. Badannya berbalik kembali dan menatap hal yang sama.
Sebuah gazebo.
"Aku mempunyai satu rencana."
"Apa?" Dreynan bereaksi dengan cepat. Biasanya jika Eyden mempunyai sebuah rencana, maka 99,9 % rencana itu bisa dipastikan akan berhasil. Walaupun terkadang sangat membingungkan dan penuh misteri.
"Mendekatlah!"
Tanpa disuruh dua kali, mereka bertiga langsung mendekati Eyden.
"Kita harus mempersiapkannya dengan cepat."
Eyden mulai menjelaskan rencananya dengan wajahnya yang masih menampilkan ekspresi datar nan dingin. Sesekali terlihat raut terkejut dari wajah ketiga saudaranya saat ia menjelaskan.
Hingga puncaknya, Yezra berteriak marah dan hampir memukulnya kalau saja tidak dihalangi oleh Dreynan. Kemudian ia pergi keluar dengan langkah penuh emosi setelah sebelumnya sempat menendang pintu untuk melampiaskan amarahnya.
Dan sekali lagi Eyden hanya menghela napas berat. Ia sudah memperhitungkan hal itu.
"Kau dan Zarel tetap berada disini." tunjuknya kepada Asrein. "Salah satu diantara kalian harus bisa mengulur waktu!"
"Dan Dreynan akan ikut denganku!"
Asrein mengangguk kecil walaupun hatinya sedikit tidak setuju dengan rencana Eyden kali ini. "Pergilah! Aku akan membangunkan pangeran tidur ini terlebih dahulu."
Tanpa banyak bicara, Eyden dan Dreynan langsung berjalan keluar dari kamar untuk segera mempersiapkan rencana walaupun tanpa sosok Yezra yang sepertinya tidak ikut andil dalam rencana kali ini.
"Zarel bangun! Kita harus mengulur waktu!" Asrein mengguncangkan tubuh Zarel dan merebut gulingnya. Namun yang dibangunkan sama sekali tidak terganggu dan malah meraih bantal disampingnya.
Zarel sesekali mencium bantal tersebut dengan mata masih terpejam seraya menggumam.
"Dyeza..." sesekali ia juga tersenyum. Hm, sepertinya dia tengah bermimpi tentang Dyeza sekarang.
Kontan saja hal itu membuat Asrein merasa kesal. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman licik. "Kau memaksaku untuk melakukan ini!"
Tak diduga Asrein tiba-tiba menarik tubuh Zarel dengan sekuat tenaga hingga menyebabkan tubuh Zarel terhempas diatas lantai.
"Aduh!" Teriak Zarel spontan ketika keningnya sukses membentur dinginnya lantai marmer dengan lumayan keras.
Sedangkan Asrein, ia sama sekali tak bisa menghentikan tawanya seraya melihat Zarel yang kini sudah berdiri sambil menggerutu.
"Adik durhaka! Tega-teganya kau berbuat seperti itu kepada kakakmu sendiri!" sungut Zarel seraya mengusap keningnya yang memerah. "Awas saja jika ketampananku berkurang karna keningku yang melebar akibat ulahmu!"
Tawa Asrein langsung berhenti spontan, dan tatapannya berubah menjadi tatapan mengejek. "Memangnya kau tampan?"
Mata Zarel langsung membulat sempurna ketika mendengar ejekan Asrein tersebut. "tentu saja! Bahkan Dyeza sampai tergila-gila padaku! manusia dibumi pun juga!"
Asrein melipat kedua tangannya didada seraya menatap Zarel yang kini tengah berkacak pinggang. "Tidak! Aku lebih tampan darimu dan Dyeza tergila-gila padaku, bukan padamu!"
"Semua orang pun juga tahu kalau aku lebih tampan dari kau!" Zarel tak mau mengalah.
"Percaya diri sekali kau! Pokoknya aku lebih tampan darimu, titik!!" Asrein pun juga tak mau mengalah.
Hm, seperti ini jadinya jika dua orang keras kepala bertemu!
"Aku hapus titik itu! Aku lebih tampan dari kau, titik permanen!!"
"Tidak, ku hapus titik itu!"
"Tidak bisa! Itu sudah permanen, tidak bisa dihapus dengan seenaknya!"
"Bisa saja! Aku bisa melakukan semua yang aku inginkan!"
Zarel menghela napas frustasi. Perdebatan ini tidak akan berakhir jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah. Tapi berharap Asrein akan mengalah adalah suatu hal yang mustahil.
"Baiklah-baiklah, kau memang tampan! Jadi ada apa kau membangunkanku?" ucapnya tak rela.
"Sudah ku bilang aku memang lebih tampan darimu." Asrein mengulas senyum kemenangan. "Eyden menyuruh kita untuk mengulur waktu agar rencananya berhasil dengan lancar."
"Rencana apa?"
"Makanya jangan tidur terus!" Asrein memutar bola matanya jengah. "Rencananya nanti...."
Dan Asrein pun mulai menjelaskan semua rencana Eyden secara terperinci.
"APA?! KAU GILA?! TIDAK!! AKU TIDAK SETUJU!!" marah Zarel dengan mengepalkan kedua tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Asrein menghela napas. "Ini semua demi kebaikan Dyeza juga! Kau harus mengerti!" bujuknya.
"Tapi kenapa harus seperti itu?! Apa tidak ada rencana lain?!" Zarel melayangkan protes.
"Itu satu-satunya cara."
Zarel mendengus pasrah. "Baiklah! Zarel yang tampan ini akan mengulur waktu nanti."
"Percaya diri sekali, kau tidak tampan!"
"Aku tampan!"
"Tidak!"
"Tampan!!"
"Tidak!!"
"TAMPAN!!!"
"TIDAK!!!"
"IYA!!"
"TIDAK!!"
"IYA!!"
Brakk!!
"Dimana Eyden?!"