"Ya kali aja Bang Satya pegel kan nunggu lama, siapa tau di jalan ketemu gitu sama Bang Sendy," Sheina berusaha tetap berpikir positif.
"Kan kalau pegel ada kamu yang mijitin." Kali ini lelaki itu semakin berani mengedipkan sebelah matanya.
"Permisi bang, Sheina kerjain vermak dulu." Sheina melipir pergi menuruni anak tangga dan melakukan kegiatan seperti biasa di sepetak ruangan utama.
Pintu depan anehnya tertutup. Sheina semakin mencurigai adanya motif lain di balik pencarian abangnya oleh lelaki itu. Ia pun bergegas membukanya dengan alasan kegerahan.
Sheina awalnya fokus mengerjakan vermak pakaian titipan pelanggannya sebelum akhirnya bersikap gelisah karena menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang sedang memerhatikannya.
Sheina melirik sepelan mungkin hingga akhirnya meringis kuat setelah mendapati sosok lain di belakang lelaki itu yang sedang sama-sama memperhatikan dirinya dari anak tangga sambil duduk-duduk santai.
Tangan Sheina gemetaran tidak lagi lancar dalam mengendalikan kain yang melaju beriringan dengan deru mesin jahit yang tak karuan. Kakinya juga gemetaran kadang tidak seimbang dalam mengendalikan laju jarum.
Keringat dingin sudah bercucuran di wajahnya. Sementara ia menghentikan aktifitasnya dan kembali menoleh ke arah dua lelaki beda dimensi itu. Sosok misterius dibelakang Satya melambaikan tangan diiringi senyuman percaya diri.
Sementara Satya lelaki asli justru beranjak mendekati gadis yang duduk gelisah dibalik mesin jahitnya. Lelaki itu berpikiran bahwa Sheina terlihat pasrah padanya tanpa disadari bahwa ada makhluk akstral yang mengekor di belakangnya.
"Kamu pasti kecapekan ya," ucap Satya tanpa ragu menyentuh dagu cewek itu.
Sementara Sheina berusaha menelan ludahnya dengan susah payah kala matanya mendapati sosok makhluk halus itu sedang menggerayangi punggung Satya seolah-olah ingin mencekiknya.
Sheina menepis tangan lelaki di depannya dengan ketus. Merasa tak terima, Satya justru semakin berani mencengkram rahang cewek itu dengan telapak tangannya. Sheina mendongak kesakitan. Bahkan dia tidak sanggup bersuara hanya untuk meminta tolong.
Makhluk halus itu memanfaatkan lengan jaket Satya yang berlubang untuk mencabut selembar bulu ketiaknya. Sret! Satya berteriak dan refleks melepaskan cengkramannya untuk melepaskan jaketnya yang dirasa menjadi sarang serangga.
"Cepet keluar!" perintah makhluk halus itu pada Sheina yang bernapas tersenggal-senggal.
Sheina langsung berlari keluar sambil berteriak meminta tolong, "Tolooong ada setaaan!" Sesekali tidak sengaja menabrak pepohonan seperti pohon jambu.
"Dasar cewek gak tahu diri! Bego pula! Yang jahat itu kan manusia! Kok bawa-bawa gue?" gerutu makhluk tersebut.
Sementara Satya tampak kebingungan melihat jaket denimnya yang perlahan-lahan melayang ke atas. Dan dalam sekejap dia langsung ngacir keluar gara-gara dikejar jaketnya sendiri.
♡♡♡
Sheina memarkirkan sepedanya di halaman bangunan yayasan kursus perancangan busana tempat barunya merintis impian. Tak berselang lama sebuah sedan merah datang memasuki gerbang tua.
Munculah lelaki gagah berdasi keluar dari pintu tepat di samping Sheina. Mereka sama-sama kaget lagi untuk kedua kalinya karena saling bertatap muka.
"Feran!" panggil Sheina tapi tidak dipedulikan lelaki itu. "Gue tau lo masih dendam kan? Ijinkan gue buat minta maaf di kesempatan ini!"
Lelaki itu berhenti mendadak dan menoleh ke kiri dengan angkuh. Menunggu cewek itu yang bergegas mendekatinya.
"Maaf saya sibuk!" Lelaki itu melipir pergi.
Sheina tak pantang menyerah untuk mengejarnya. "Kalimat itu terlalu basi buat dijadikan alasan, stop Feran!"
Feran menghentikan langkahnya setelah jemari lentik itu menahan lengannya. "Kata maaf anda gak akan pernah merubah masa lalu saya yang sudah hancur!"
"Setidaknya kata maaf gue menetralisir semua rasa bersalah gue!"
Feran memutar bola matanya, tidak bisa menyangkal jika selama ini dirinya mengharapkan rasa sesal yang membekas di hati gadis itu.
"Dengan segala kepahitan yang gue lewati, itu adalah bayaran atas semua kekeliruan gue sampai akhirnya dipertemukan dengan lo agar semuanya tuntas!"
"Tapi kemunculan anda justru pertanda badai kehidupan saya gak pernah tuntas!"
"Syifa udah menikah di usia mudanya, satu tahun yang lalu."
Feran tersentak merasa ada pusaran badai yang meruntuhkan jantung di dadanya. Mulutnya yang gemetar menganga diiringi oleh gerakan lehernya yang berusaha terbebas dari cinta tak sampai yang mencekiknya.
Sheina semakin menunduk lesu melirik gerakan tak karuan bola mata lelaki itu yang berkaca-kaca. Tapi kabar ini memang sudah semestinya disampaikan. Namun perasaan berat itu tidak pernah surut di hati Feran.
"Sudah cukup! Jangan mendoktrin awal pagiku dengan semua kebusukanmu itu!"
Sheina mengerjapkan mata karena dikagetkan oleh telapak tangan lelaki itu yang tiba-tiba saja melayang di hadapan wajahnya lalu pergi dengan mimik wajah yang menegangkan.
"Feran, kamu harus move on!" teriak Sheina lantang.
Lelaki itu menoleh dengan tatapan peringatan. "Jangan bersikap seolah-olah saya ini manusia rapuh! Bukannya suami Syifa sudah jelas lebih segala-galanya dari saya? Jadi gak usah diungkit-ungkit lagi!"
"Tapi aku juga gak sekekanak-kanakan seperti yang kamu pikirkan ...." gadis keras kepala itu menutup bibirnya sia-sia.
♡♡♡
Suasana ruangan kelas yang dipenuhi ornamen jadul peninggalan Belanda terlihat tentram tanpa suara gaduh kecuali penuturan panjang dari seorang pembimbing tentang pengenalan peralatan dan pernak-pernik jahit.
Awalnya Sheina menikmati pengalaman barunya berada di tengah-tengah kalangan menengah ke bawah, namun beberapa saat kemudian sesuatu di luar nalar terjadi.
"Setaaan!" pekik Sheina reflek setelah memergoki kepala patung manekin di depan yang menoleh ke kiri di mana guru pembimbing itu berada.
Lantas semua orang memusatkan perhatian padanya termasuk guru pembimbing yang tersinggung. "Kamu ngatain saya setan?"
"Eng ... enggak kok Bu," sahut Sheina mulai tegang karena dua hal buruk akan terjadi secara bersamaan lagi. Pertama kemunculan setan dan kedua mendapat hukuman.
"Kamu jangan ngeyel! Dari kemarin-kemarin memang sudah senewen sama saya, kamu dendam ke saya?"
Gadis pemilik rambut tak terlalu panjang itu terperanjat di mejanya sendiri. Tanpa menunggu lama, Bu Tetty langsung menendangnya ke luar.
Sheina bergegas keluar sambil ngedumel hingga akhirnya bertabrakan dengan sesuatu hal yang abstrak. Sesosok makhluk halus berteriak memintanya untuk berhenti. Lagi-lagi cewek itu berteriak histeris dan ngacir begitu saja.
Bukan hantu namanya kalau tidak bisa mencegahnya secara tiba-tiba dari depan, muncul di balik pilar. Sheina putar balik berlari ke arah berlawanan melewati pintu ruangan kelasnya di mana murid-murid lain melongok keluar melihat tingkah anehnya.
Dari arah depan muncul lagi hantu itu dan menghentikan Sheina dengan cara menarik tali kantong selendangnya.
"Setan kampret! Ngapain lo ngejar-ngejar gue? Naksir?! Sorry gue belum mau mati." gerutu Sheina.
"Dasar cewek, geer, baperan! Gue bukan setan kali, apalagi kampret! Nama gue Nando!"
"Terus lo malaikat tanpa sayap gitu?" pelotot Sheina.
"Gue arwah gentayangan," tegas makhluk halus bernama Nando itu membuat cewek di depannya berteriak histeris.
Terlampau gemas, Nando sengaja menyeringai sambil menyakar udara yang dibuat-buat untuk menambah rasa takut cewek itu.
♡♡♡