Di dalam kelas, Gemini sedang ada kuis. Beberapa kali gadis itu menatap teman sebangkunya. Beberapa kali juga ia menatap soal di kertas dengan helaan nafas panjang. Gemini benar-benar tidak pernah pandai jika ada ujian seperti ini. Ia hanya mencoret kertas dengan wajah pasrah. Ia tidak bisa, ia tidak bisa menjawab soal-soal yang berada di kertas itu.
"Waktu tinggal 10 menit lagi. Bagi yang belum mengerjakan semua, diharapkan untuk kerjakan dengan cepat, karena waktu tinggal sedikit lagi." Rasanya Gemini sangat frustasi sekarang. Ia menoleh ke arah Melati, teman sebangkunya.
"Sssttt, Mel. Bantuin gue napa. Kasih bocoran ih," bisik Gemini, namun Melati hanya tetap fokus dengan lembaran soalnya sendiri. Gemini menghela nafas kasar. Susah banget jadi orang bodoh. Jawab soal begini saja susahnya setengah mati. Malah teman sebangku pura pura tuli lagi. Semoga benar-benar tuli tuh si Melati.
"Waktu tinggal 2 menit lagi." Beberapa siswa-siswi yang sudah selesai dengan soal-soal mereka, mulai mendekati Pak Rijal dan mengumpulkan kertas kuis mereka.
Gemini mengerucutkan bibirnya dan dengan pasrah berjalan maju ke depan. "Ini pak, punya saya."
Pak Rijal meraih lembaran milik Gemini. Keningnya mengkerut "Jawaban kamu mana?"
"Nggak bisa jawab pak, susah," jawab Gemini pasrah.
"Susah gimana?"
"Ya susah, Pak. Saya nggak bisa jawab."
"Pas saya jelaskan tentang materi ini kamu bilang, kamu sudah bisa. Malah kamu yang paling semangat jawab"
"Ya itu kan biar bapak cepat ke luar dari kelas." Pak Rijal menghela nafas panjang.
"Pas istrahat nanti, kamu datang ke ruangan saya. Tidak ada toleran ya Gemini. Jika kamu tidak datang, nilai kamu akan benar-benar merah."
"Jangan dong Pak."
"Ya sudah kalau gitu, nanti saat istrahat, kamu datang ke ruangan saya."
"Iya Pak," pasrah Gemini.
Gemini duduk di bangkunya dengan wajah kesal, mencoret-coret lembaran kertas di atas meja dengan sangat kesal. Ketiga temannya duduk di samping Gemini "Kenapa nggak nanya gue aja sih tadi. Padahal gue udah jawab semuanya loh. Gue nunggu-nunggu lo minta jawaban gue, tapi lo nggak minta minta," ujar Melati dengan wajah mengerut.
Gemini yang mendengar itu malah mengencangkan pegangannya pada pulpen di tangannya. Menatap Melati dengan tajam "Lo dari tadi gue ngode-ngode nggak lo dengar tuh. Malah lo asik dengan kertas lo sendiri. Sok nggak dengar lagi gue panggil panggil. Ah! Teman macam apa itu?!" sindir Gemini kesal.
"Iya tuh, gue aja panggil Melati dari belakang nggak dengar-dengar. Padahal gue mau minta bocoran jawaban. Sok tuli si Melati, tuli beneran baru tau rasa!" Kesal Anjani.
Melati mengerucutkan bibir seraya menatap teman temannya memelas "Ya maaf, gue beneran nggak dengar lo semua panggil," ujar Melati memelas.
"Iya lah, nggak dengar lo asik sendiri sama jawaban. Padahal sebelum masuk kelas, lo sendiri yang suruh kita buat minta jawaban di lo. Eh, giliran di panggil lo malah pura pura tuli." decak Gemini kesal.
"Udah lah, jangan menghakimi Melati kayak gitu. Gue aja nggak bisa jawab soalnya. Tapi gue usahain buat jawab, walau salah yang jelas usaha sendiri," timpal Tiara.
"Alah kalian berdua sama aja," decak Gemini kesal.
*****
"Hari ini Pak Kamal nggak bisa masuk. Tapi pak Kamal kasih tugas buat kita, halaman 121, dari nomor 1 sampai 50. Dikerjakan sekarang juga, bisa kerja di perpus, tapi jangan di tempat lain. Sepulang sekolah nanti di kumpul sama gue," ujar Liam, ketua kelas di kelas Elio.
Semua yang berada di kelas tersenyum bahagia. Akhirnya Pak Kamal tidak hadir juga hari ini. Yah, walaupun pak Kamal tetap memberikan mereka tugas yang dapat menguras emosi saking banyaknya.
Elio yang mendengar itu langsung meraih buku dan juga pulpen miliknya, bersiap untuk ke luar kelas. Namun, ketiga temannya lebih dulu menahan tangannya.
"Mau kemana?" Dana berdiri di samping Elio.
"Mau ke perpus. Kalau ngerjain tugas di sini nggak bisa konsen karena berisik."
"Kita ikut ya."
"Ya udah, ayo." Mereka berempat pun keluar dari kelas dan pergi ke perpus.
Sampainya mereka di sana, Elio langsung mencari buku paket bersama teman-temannya. Setelah mendapatkan buku paket. Mereka terlihat serius mengerjakan soal matematika sebanyak 50 soal. Bell istrahat berbunyi, membuat Garu merasa sangat laper.
"Gue ke kantin dulu deh. Laper banget. Kalian ngerjain aja dulu, biar gue yang beli cemilan dan minuman buat lo bertiga," ujar Garu seraya menutup bukunya, "Dana minumnya jus jeruk kan?" Dana mengangguk "Kalau Elio pasti jus alpukat?" Elio mengangguk "Dan lo Kris, minumnya apa?"
"Giliran gue ditanya. Elio sama Dana lo udah tau. Benar-benar definisi teman laknat lo," protes Kris kesal.
"Eh, gue nanya karena lo suka ganti ganti minum. Kalau Elio sana Dana, udah jus itu-itu aja yang mereka minum. Nggak pernah diganti, kecuali air putih. Kalau lo beda lagi." Kris menghela nafas kesal.
"Yau dah deh, jus alpukat aja deh gue, sama air putih ya." Garu bergumam dan melangkah menjauh.
Setelah Garu sudah pergi, mereka bertiga lanjut mengerjakan tugas mereka.
*****
"Jadi mau pilih nilai merah atau kerjakan resume mata pelajaran saya sebanyak 50 lembar pakai kertas HVS. Kerjanya harus di perpus. Saya kasih waktu sebanyak satu minggu," ujar Pak Rijal seraya menatap Gemini yang terlihat pasrah di depannya.
"Pak, nggak bisa ditambah waktunya?" Tanya Gemini dengan wajah memelas.
"Nggak bisa Gemini. Satu minggu sudah banyak menurut saya."
"Tapi ini 50 lembar loh Pak," protes Gemini.
"Satu minggu atau saya panggil kedua orang tua kamu. Pilih mana?"
"Aish, Bapak. Ya udah deh, satu minggu kerja resume sebanyak 50 lembar pakai kertas HVS." Pak Rijal tersenyum sembari mengangguk.
"Baiklah, silahkan ke luar dari ruangan saya."
Dan sekarang, Gemini sudah berada di dalam perpustakaan dengan ketiga temannya. Teman-temannya membantu mencari buku paket mata pelajaran pak Rijal. Setelah mendapatkannya, Gemini dan ketiga temannya duduk di kursi yang sudah disiapkan di dalam perpustakaan.
Gemini terlihat pasrah dan kesal, dikeluarkannya kertas HVS sebanyak 50 lembar yang baru ia beli di koperasi.
"Aihhh, banyak banget yang harus di tulis. Bisa-bisa tangan gue langsung patah setelah nulis. Pak Rijal benar-benar jahat banget. Masa disuruh bikin resume sebanyak 50 lembar," protes Gemini kesal.
"Udah nggak usah banyak protes. Kita bantu kerja, oke." ujar Melati seraya membuka salah satu buku paket.
Gemini mengikuti, dan Tiara juga ikut membuka buku paket. Sedangkan Anjani menatap sekeliling tempat, hingga matanya melihat Elio dan kedua temannya sedang mengerjakan sesuatu. Anjani langsung tersenyum, ia dengan segera memukul pelan tangan Gemini.
"Ada apasih?!" Tanya Gemini risih.
"Lihat dibagian kanan pojok sana Gem, si doi lagi ngerjain sesuatu," ujar Anjani seraya menatap Elio dan teman temannya sekali-kali.
Gemini dan kedua temannya ikut menatap ke arah kanan pojok. Tanpa terasa, Gemini tersenyum dan meraih ponselnya. Membuka aplikasi kamera dan mengarahkan ponselnya ke arah Elio.
"Mau ngapain Gem?" Tanya Melati.
"Mau foto doi lah. Lumayan, buat tambah koleksi foto si doi." Ketiga temannya ikut menatap Elio yang terlihat sedang serius. Mereka bertiga tersenyum, hingga..
Cekrek...
Gemini dan ketiga temannya langsung terkejut dan membalikan badan mereka gugup. Gemini langsung menurunkan ponselnya seraya menatap ke samping.
Elio dan kedua temannya langsung menoleh ke arah kiri ketika suara seseorang yang kamera terdengar. Mata mereka menatap meja Gemini dan temannya. Reflek Gemini dan ketiga temannya langsung menutup wajah dengan buku paket di atas meja.
"Udah lah, kita fokus lagi ke tugasnya," ujar Dana cuek.
"Bukannya belajar malah main foto-foto. Benar-benar datang ke perpus cuman untuk foto doing," ujar Kris sembari mengerjakan tugasnya. Sedangkan Elio tidak banyak bicara. Ia langsung fokus kembali ke tugas miliknya.
Sedangkan di meja sebelah, mereka berempat langsung saling menyalahkan.
"Kok pakek suara sih. Untung aja mereka nggak lihat. Kalau lihat bisa-bisa malu banget kita."
"Apalagi suara kameranya besar banget."
"Ya Sorry. Gue nggak tau."
"Udah lah, lanjut nulis aja. Nggak bakal selesai kalau kita belum mulai-mulai."