"Berarti umurnya 16 tahun ya?" Gemini mengangguk.
"Abang umurnya 17 tahun. Berarti kalian berdua cuman beda Satu tahun. Kamu mau nggak jadi calon mantu Bunda?" Tanya Nana frontal.
Gemini yang ditanya seperti itu pun menatap Nana tak percaya. Senyuman lebar tak mampu ditahan oleh Gemini. Ia mencoba menahan senyum bahagianya, tapi tak bisa. Ia benar-benar sangat bahagia mendengar Nana bertanya seperti itu.
"Tan...tante kok tanyanya gitu sih," Gemini tertawa canggung,
"Mana mau kak Elio sama Gemini. Gemini itu anaknya bodoh Tante. Sedangkan kak Elio anaknya pintar banget. Gemini nggak cocok jadi calon mantu tante. Pasti Tante bakal malu nantinya," ujar Gemini mencoba menolak. Padahal didalam hati sudah berjingkrak-jingkrak kesenangan.
Nana mengerutkan keningnya tak suka "Ih, kamu ngomong apaan sih. Kamu itu nggak bodoh, cuman nggak pandai aja. Kalau belajar lebih giat lagi pasti bakal pintar. Lagian ya, abang itu udah pintar banget. Jadi, pasangannya nggak perlu pintar lah, biasa aja udah nggak apa-apa. Kan kalau kamu ada tugas yang sulit dan nggak bisa ngerjain, kamu bisa minta tolong sama Abang. terus setelah itu, kalian belajar bareng bareng, berduaan, terus tanya ini tanya itu. Ya ampun itu so sweet banget tau nggak. Dulu, Bunda pernah ngalamin semua itu loh dengan mantan Bunda," ujar Nana sembari mengingat masa-masa mudanya pas pacaran dengan mantan pacarnya dulu.
"Tante pernah ngalamin hal-hal kayak gitu?" Tanya Gemini tak percaya. Ia tertawa kecil ketika melihat wajah antusias Nana.
"Iya, tapi jangan kasih tau Daddy ya. Bisa ngamuk dia kalau Bunda ngomongin mantan," bisik Nana pelan.
Gemini hanya mengangguk dan sesekali tertawa kecil.
"Iya Tante."
"Biasain jangan panggil Tante ya, Gem. Panggil Bunda aja mulai sekarang," ujar Nana sembari tersenyum.
Gemini yang mendengar itu menggigit bibirnya dengan sedikit kuat untuk menahan rasa bahagianya.
"I..iya Bunda." Setelah itu, mereka berbicara berdua tanpa henti. Hingga tak lama kemudian Elio turun dari tangga dan melangkah ke arah mereka.
"Bun, laper," ujar Elio seraya menatap Gemini yang saat ini juga ikut menatapnya.
Ya, ampun. Calon laki gue ganteng banget deh. Mau gue bawa pulang jadinya, hahahah, Batin Gemini dalam hati.
"Oh, iya. Ya udah, kita makan dulu yuk. Yuk, Gem, kita makan dulu. Udah kasih tau Mama kan kalau Gemini ada di sini?" Tanya Nana seraya menatap Gemini.
"Iya, Bunda. Udah kasih tau kok tadi sebelum pulang sekolah," jawab Gemini.
"Mama nggak marah?" Gemini menggelengkan kepala.
"Nggak, Bunda. Lagian, mama sama papa lagi di luar kota. Cuman kakak aja yang ada di rumah."
"Oh, ya?" Gemini mengangguk. "Kakaknya laki-laki apa perempuan?"
"Laki laki, Bund." Nana mengangguk. Kemudian mereka pergi ke meja makan dan mulai makan bersama. Kebetulan, Tiar baru saja pulang dari bekerja. Hingga keluarga kecil Tiar sudah berada di meja makan ditambah dengan Gemini.
Selesai makan, mereka pun duduk-duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang. Lama mereka berbincang, hingga Gemini pulang diantar Elio.
"Makasih ya kak, udah antarin Gemi," ujar Gemini sembari tersenyum. Elio mengangguk dan ikut tersenyum.
"Makasih juga udah mau datang ke rumah," ujar Elio seraya menatap rumah Gemini.
"Di rumah ada orang kan?"
"Iya, ada kok kak."
"Ya udah kalau gitu. Pergi dulu ya." Gemini mengangguk.
"Hati-hati kak."
"Siap, Gem." Dan akhirnya, mobil yang dikendarai Elio menjauhi rumah Gemini.
Selepas mobil Elio pergi, Gemini tak henti-hentinya tersenyum. "Arggggghhh, senang banget Ya Allah."
*******
Pagi harinya, Gemini berjalan di koridor sekolah dengan senyuman yang tak hentinya memudar. Sampai-sampai, para siswa-siswi yang melihatnya menatap Gemini penasaran. Hingga langkah kaki Gemini terhenti ketika banyak siswa-siswi terlihat bergerombol berdiri di depan mading. Gemini yang penasaran langsung mendekati mading.
"Ada apaan sih?" Tanya Gemini penasaran "Minggir-minggir dong sedikit."
"Ih apaan sih. Antri dong," ketus salah satu siswi dengan kesal. Gemini yang mendengar itu langsung menatap tajam ke arah siswi itu. Hingga siswi itu pun memberikan jalan untuk Gemini dengan terpaksa.
Gemini langsung mendekati mading dan melihat sesuatu yang membuat siswa-siswi sekolahnya terlihat heboh. Mata Gemini terlihat sangat fokus, hingga dalam sekejap, ia menatap tak percaya ke arah mading.
"Ya ampun, kak Elio sama Abel memang pasangan ter-fav deh. Udah sama-sama pintar, ganteng dan cantik, sama-sama baik, terus murah senyum."
"Iya, beneran. Kak Elio itu cocoknya sama Abel yang pintar, dari pada sama dia." Sambil menatap Gemini.
"Nggak cocok banget."
"Iya tuh. Sok ngedeketin kak Elio, padahal dia orangnya bodoh. Nggak pintar-pintar amat. Mana mau kak Elio sama dia," ujar siswi-siswi itu seraya menatap Gemini.
Gemini yang mendengar itu langsung mengepalkan kedua tangannya dan berjalan menjauhi mading. Sampainya ia di kelas, tas yang ia pakai sedari tadi dilempar dengan kasar di atas meja. Duduk di kursi dengan kedua tangan mengepal.
"Lo kenapa, Gem?" Tanya Anjani saat melihat Gemini yang terlihat sangat kesal. Gemini tak menjawab, malah matanya berkaca-kaca dan tampak ingin menangis.
Melati dan Tiara mendekati Gemini dan Anjani. "Gemini, kenapa sih? Eh, jangan bikin kita khawatir dong. Cerita sama kita," ujar Melati khawatir.
"Hiks....Hiks.. gue memang nggak cocok sama kak Elio. Gue yang orangnya bodoh gini mana mau kak Elio sama gue. Hiks.. baca buku aja kadang gue males, males banget malah. Padahal kak Elio sukanya baca buku. Gimana kak Elio bisa suka gue kalau apa yang disuka kak Elio nggak gue sukai. Gue memang nggak cocok sama kak Elio. Hiks.. gue..."
"Ih, lo ngomong apaan sih?!" Tanya Tiara sedikit kesal.
"Yang nentuin suka atau nggaknya itu kak Elio. Lo jangan insecure gini dong, Gem. Kan lo sendiri yang bilang tadi malam, kalau bundanya kak Elio, mau lo jadi calon mantunya. Gue yakin, bundanya kak Elio tanya begitu, karena kak Elio-nya ada rasa sama lo. Gue yakin itu, Gem."
Gemini memang sudah bercerita tentang ia yang diajak Elio ke rumahnya. Semuanya, termasuk Nana yang meminta Gemini menjadi calon mantunya.
"Tapi--"
"Udah lah, Gem, jangan nangis lagi. Kita ada di pihak lo. Bunda sama Daddynya kak Elio kan ada di pihak lo juga kan? Jadi nggak usah sedih. Mana Gemini yang percaya diri itu. Kok malah cengeng gini," ujar teman-teman Gemini. Gemini terdiam sembari menghela nafas panjang. Benar apa kata teman-temannya. Gemini punya Restu dari orang tua Elio. Tinggal mendekati anaknya, dan semuanya selesai.
*****
Saat jam istrahat, Gemini lebih memilih ke taman seraya membawa buku paket, buku tulis dan pulpen miliknya. Setelah jam istrahat, Gemini ada tugas yang harus dikumpulkan. Tetapi, ia belum mengerjakannya. Jadinya, ia lebih memilih mengerjakannya di taman dari pada di kelas atau perpustakaan.
Teman-teman Gemini memilih ke kantin. Tadinya mereka ingin ikut Gemini ke taman dan memberikan contekan untuk Gemini. Tetapi Gemini menolak. Ia ingin mengerjakannya sendiri tanpa contekan dari siapa pun.
Dan akhirnya, di sinilah Gemini. Di taman sekolah. Gemini menghela nafas panjang karena tak mengerti dengan soal-soal tersebut. Ia membuka buku paket dan melihat contoh soal di sana. Namun tetap saja, otak pas-pasan Gemini tak mampu untuk menyerap.
Gemini menggaruk kepalanya dengan pulpen dan membolak-balikkan buku paketnya. Sampai tak sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Lagi ngerjain apa?" Suara pertanyaan itu membuat Gemini yang tadinya sedang fokus ke buku langsung terkejut seketika. Ia menatap ke samping dan langsung gugup saat melihat Elio yang berada di sampingya.
"Eh, ka..kak Elio. Sejak kapan di sini?" Tanya Gemini bingung dan kaget. Elio tersenyum sembari menatap buku paket milik Gemini.
"Baru aja " jawab Elio. "Hmm, lo lagi ngerjain tugas?" Gemini mengangguk.
"Bisa?" Gemini menggelengkan kepalanya.
"Sini, coba lihat." Elio langsung mengambil buku tulis Gemini. Menatap soal-soal yang ada di sana.
"Ini gampang kok. Mau diajarin nggak?" Gemini mengangguk.
"Ini tinggal kali silang, terus bla bla bla bla....Udah mengerti kan?" Gemini mengangguk seraya tersenyum.
"Sekarang, jawab semua soal-soalnya kalau udah mengerti."
Gemini dengan cepat mengerjakan 10 soal matematika dengan serius. Elio menatap tulisan Gemini sembari tersenyum dan sesekali tertawa kecil. Hingga 10 soal itu pun selesai dikerjakan Gemini.
"Gimana? Benar semua nggak kak?" Elio memeriksa hasil pengerjaan Gemini dengan serius. Kemudian menatap Gemini sembari tersenyum.
"Cuman satu kali menjelaskan langsung bisa ngerjain semua ya." Elio mengangguk.
"Pintar."
Gemini tersenyum senang. "Benar semua kak?"
"Iya, jawabannya benar semua."
"Makasih kak." Gemini tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia pikir menjawab soal-soal itu sangat susah. Ternyata, ia lebih dari bisa.
"Orang kalau belajar dengan serius, pasti bakal bisa. Nggak ada orang yang bodoh di dunia. Hanya saja, mereka kurang belajar makanya tak pandai," ujar Elio dengan serius.
Keduanya sama-sama terdiam. "Kak Elio lagi suka sama seseorang ya?" Elio menatap Gemini dengan diam. Kemudian tersenyum dengan lebar.
"Kayaknya iya," jawaban Elio sukses membuat Gemini mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kak Elio lagi suka sama Abel ya?"
"Abel siapa?"
"Ya, Abel. Anak kelas 12 ipa 1 yang pintar itu." Kening Elio mengkerut.
"Hmm, Abel yang itu," ujar Elio saat sudah mengingat Abel.
"Iya kak, kak Elio suka sama Abel yang itu kan?"
"Nggak."
"Terus kakak suka sama siapa kalau bukan Abel?"
"Hmmm, sama .orang di sebelah."