Annisa
Kamu di mana? Ke rooftop sekarang, anak-anak lain nungguin.
Elka yang sedang membayar minumannya langsung mengantongi ponsel dan berbalik sembari membawa orange jus di tangannya. Ia berjalan agak cepat seraya sesekali menyeruput minumannya. Ketika hendak menaiki tangga, ia malah bertemu dengan Rimba, seketika ia mengeryit.
"Lho, Rimba! Lo nggak ke rooftop?"
Pemuda itu agak kaget. "Ini baru otw, gue pikir lo semua udah di sana."
"Lah, gue pikir lo semua yang udah di sana!" kata Elka tertawa kecil.
"Ya, udah bareng aja. Anak-anak yang lain udah pada nunggu," katanya mulai menaiki tangga dan diikuti Elka di belakangnya. "Sam yang ngechat gue tadi."
"Bisa kompakan gitu yah? Gue yang ngechet si Nisa."
Rimba menoleh. "Oh, ya?" Yang dibalas anggukan oleh Elka. "El, sini dong! Jalannya di samping gue, jangan di belakang."
Gadis itu menurut saja, memposisikan dirinya bersebelahan dengan Rimba. "Lo abis dari kantin?" tanya Rimba memperhatikan Elka yang sedang menyeruput minumannya.
"Iya, lo dari mana?" balas Elka.
"Tadi dipanggil sama pembina eskul." Elka mengangguk paham, tak ingin bertanya lebih karena dia paham dengan eskul yang dimaksud Rimba, yaitu basket.
Keduanya masih terus berjalan menaiki tangga dengan langkah yang terbilang santai. Elka merogoh ponselnya dan mulai memainkan benda itu sambil sesekali menyeruput orange jusnya. Di sampingnya, Rimba melirik kecil lalu berdehem.
"Bagi minuman lo, El!"
Seakan tanpa beban, Elka menyerahkan minumannya yang langsung disambut penuh suka cita oleh Rimba. Selang beberapa detik, Elka membelalakan mata dan terhenti pada pijakannya.
Rimba ikut terhenti namun langkahnya sudah ada pada undakan di atas Elka. Ia membalikan badannya, menatap Elka bingung dengan masih meminum orange jus.
Elka menatapnya dengan gamang. "M-inuman g-gue. I-itu a ...."
Seakan tersadar, Rimba langsung tersedak dan menepuk-nepuk dadanya. Ia gelagapan, matanya tak berhenti mengedar ke segala arah karena gugup.
Elka mengerjap, mengulum bibirnya sendiri. "Emm ... i-itu, gue duluan!" Tanpa mendengar respons Rimba, ia langsung melajukan langkahnya meninggalkan pemuda yang masih sibuk menampik rasa malunya.
Di tempatnya berdiri, Rimba mengembuskan napas panjang. "Gila! Kenapa harus secanggung ini pas ada suasana yang menyinggung ke sana, sih? Padahal udah pernah. Eh?" Rimba menampar pipinya. "Dasar pengambil kesempatan!" umpatnya pada diri sendiri.
Dia tak sadar, bahwa sejak tadi tingkahnya itu menarik perhatian lalu-lalang di tangga. Mereka cekikikan, merasa aneh sekaligus lucu pada tingkah bad boy casanova sekolah. Rimba berdecak, kemudian menggumam, "She is just Elka, oke? Dia hanya Elka, right? Nggak usah lebay!" peringatnya lagi.
***
Setelah perundingan di rooftop yang menghasilkan keputusan mengenai interogasi kepada teman-teman korban dan memenuhi panggilan kepolisian untuk memberikan kesaksian, mereka memutuskan untuk membagi tim menjadi dua kelompok.
Vano dan Lea akan menginterogasi teman-teman korban, sebab keduanya-lah yang tidak turut ikut masuk ke dalam gudang saat mereka mencari jejak. Sementara sisanya akan pergi ke alamat yang dikirimkan Iptu Tomi pada Elka, yang luar biasanya Pak polisi itu meminta kontak Elka lewat DM Media sosial.
"Oke, Van, Lea, seperti yang gue pesanin. Rekam hasil interogasi kalian, tanpa mereka tahu. Kalian cukup menyimak dan tanyakan hal-hal mendasar sampai keanehan atau kecurigaan mereka." Vano dan Lea langsung mengangguk kuat-kuat, mengiyakan perkataan Elka.
"Oke, gais! Kita pisah di sini. Vano dan Lea silakan langsung cari tiga orang itu dan sisanya ikut gue ke mobil!" titah Rimba berjalan lebuh dulu keluar dari rooftop.
Akhirnya mereka terbagi menjadi dua kelompok yang beroperasi secara bersamaan hari ini. Mobil yang dikendarai Rimba perlahan keluar dari gerbang sekolah dengan modal sogokan pada satpam sekolah, sementara Vano dan Lea mulai mencari siswi yang informasinya sudah ada di tangan keduanya.
Kembali ke kelompok Rimba, lima remaja yang ada di dalam mobil itu sibuk memerhatikan jalan menuju alamat yang Elka tunjukkan. Pasalnya jalan itu sama sekali tidak menuju kantor polisi setempat. Selang beberapa menit mereka melaju dengan mobil, kawasan yang mereka tuju adalah kawasan apartemen elit.
"Lo yakin itu alamatnya, El?"
Elka menolehkan kepalanya ke belakang. "Gue yakin, Ndra. Jelas-jelas Pak Tomi ngirim itu kok."
"Apartemen?" guman Rimba menghentikan mobilnya. "Ini apartemen," ulangnya lagi.
"Coba kamu telepon pak polisinya, El."
Elka berdecak. "Ini polisi satu nyusahin banget! Bukannya di kantor polisi, malah alamat kagak jelas begini," gerutu Elka, mulai mendial nomor di ponselnya.
TOK TOK TOK
Lima remaja di dalam mobil itu tersentak, langsung menoleh ke arah kaca mobil yang diketuk. Elka menurunkan ponselnya dari telinga, memfokuskan pandangannya dan kemudian menghela napas kuat-kuat. Orang itu mengibaskan tangannya, menyuruh mereka keluar.
"Kenapa Bapak memberi alamat di sini?" tanya Annisa setelah keluar dari dalam mobil.
"Heran gue, nggak langsung ke kantor aja. Emangnya lo nggak kerja?" Siapa lagi yang bisa sekasar itu kalau bukan Elka? Tomi langsung mengulum tawa, siswi satu ini memang ajaib sekali.
"Ikuti saya. Nanti dulu protesnya."
Kelimanya menurut saja, walau Elka masih sempat-sempatnya mencibir tanpa suara. Mereka mengikutu langkah Tomi ke dalam lift dan menuju lantai sepuluh gedung bertingkat itu. Lift terbuka, dan mereka kembali melangkahkan kaki hingga berhenti di pintu bernomor 200.
"Ini apartemen saya. Saya ingin mendengar laporannya di sini, karena ingin mendengar dugaan kalian juga. Saya yakin kalau kalian melakukannya di kantor polisi, terlalu rumit karena harus berdasarkan bukti yang kuat. Sementara, kadang dugaan dari orang awam itu bisa saja tepat," kata Tomi menekan kode apartemennya, lalu mempersilakan mereka masuk.
"Bener juga, sih." Elka menyahut sembari mengikuti langkah Tomi dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut bangunan itu, mewah.
"Bapak tinggal sendiri di apartemen semewah ini?" tanya Annisa.
"Iya. Sudah biasa. Sejak seumur kalian juga saya memang tinggal sendiri."
"Dalam artian, Bapak orang yang mandiri?" lanjut Sam bertanya.
Tomi tersenyum singkat. "Bisa dibilang begitu. Oiya, silakan duduk dulu. Saya buatkan minuman."
"Tidak perlu!" tolak Elka cepat. "Biar saya saja.
Tomi menatapnya lama kemudian berdehem. "Kamu tidak berpikiran kalau saya akan mencelakakan kalian, kan?"
Elka mengangkat bahu. "Who knows?"
"Elka!" panggil Rimba memperingatkan.
"Kamu sangat berani untuk ukuran anak remaja perempuan, Melka."
Elka balik menatap Tomi intens. "Dan itu memang kelebihan saya," katanya, kembali dalam mode formal.
"Maafkan dia, Pak. Elka memang sedikit—" Ucapan Rimba terpotong oleh suara bel apartemen yang berbunyi.
Perhatian mereka teralih ke pintu apartemen itu.
"Biar saya yang buka," kata Tomi melangkah ke pintu.
Elka hanya memandang sebentar kepergian Tomi, kemudian ia mendudukan bokongnya di samping Annisa yang langsung mendapat pelototan Rimba.
"Maksud lo apa, sih tadi pake acara ngomong gitu?"
Elka memutar mata. "Jangan memercayai siapa pun selain dirimu sendiri."
"Tapi, lo berlebihan!"
"Gue nggak ngerasa berlebihan!"
Rimba menghela napas. "Bisa aja, Pak Tomi tersinggung sama omongan lo tadi."
"Berarti dia baperan. Lagian dari pada itu, maksud gue tuh lebih ke nggak ingin merepotkan. Dia duluan yang melayangkan dugaan atas pemikiran gue. Padahal, gue hanya mau membantu, dia cowok masa buatin minuman ke cewek? Nggak enak lah!" jelas Elka dengan nada menjengkelkan.
"Kalau dari tadi lo jelasin baik-ba—" Perkataan Rimba terhenti saat melihat sosok yang berjalan di samping Tomi.
Seorang wanita dengan umur yang mungkin saja sebaya dengan Tomi, tersenyum ke arah mereka. Kelima remaja itu menatap Tomi dan wanita di sampingnya secara bergantian.
Elka memiringkan kepalanya, mengamati penampilan wanita itu dengan saksama. Celana panjang hitam kain yang ukurannya mengikuti lekuk tubuh, kemeja pink dusty dengan lengan berikatan pita batas sikut, rambut pendek sepangkal leher dengan poni tipis dan sapuan make up natural. Dewasa dan cantik, itulah yang bisa Elka simpulkan dari penampilan wanita tersebut.
"Hallo, saya Karin rekan kerja Tomi," sapa wanita itu ramah dan mulai mengulurkan tangannya kepada Rimba dan lainnya.
Tiba giliran Elka, wanita itu menatapnya lama seakan mengamati. "Kamu ... apa kita pernah bertemu?" Pertanyaannya yang nyaris sama seperti yang diajukan Tomi saat mereka bertemu kali pertama.
Elka berdehem kecil. "Sepertinya tidak. Ah, iya. Saya Melka."
Wanita itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menatap Elka kaget. "Melka. Melka Agustin Vender?"
Giliran Elka yang terkejut, dia mengangguk kaku. "Apa Anda mengenal saya?" Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menolehkan kepalanya pada Tomi yang tengah tersenyum kecil.
Elka menatap dua orang itu bingung. "Apa ada yang salah?"
Tomi menggeleng. "Tidak. Silakan duduk kembali," katanya.
Karin masih menatap Elka lekat-lekat, dan jujur saja hal itu membuat Elka kurang nyaman. Tatapan wanita itu seolah menilai dan Elka membenci hal itu.
"Maaf, Bu Karin, apa ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Elka dengan wajah datar.
Karin mengerjap, merasa kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "T-tidak."
Tomi yang melihatnya hanya tersenyum singkat. Sementara teman-teman Elka lainnya masih dalam mode bingung pada pertemuan dengan wanita ini.
Tomi berdehem, menyita perhatian seluruh pasang mata yang ada di ruangan itu."Jadi, Karin adalah dokter forensik yang akan membantu saya dan tentunya kalian dalam penyelidikan kasus ini."
"Kami?" pekik kelima remaja itu kompak yang dibalas senyum tipis dan anggukan mantap oleh Tomi.
***
Jangan lupa tekan love.