"Jadi Klan Bath menolak kerjasama yang kita ajukan? Sombong sekali mereka. Karena putra nya sangat mahir. Lantas dia fikir bisa merebut tahta kekuasaan? Mimpi saja sampai mereka mati. Hal itu tidak akan pernah terjadi."
Raja Retori murka bukan main saat tahu jika pada saat ini Klan Bath menolak perjodohan antara Freya dan Aldric. Pasti mereka sedang merasa di atas angin karena putranya adalah orang yang paling kuat di Acavalati. Retori rasa mereka semua lupa jika meski Freya adalah seorang perempuan tapi putri dari Retori itu punya kemampuan yang sangat menakjubkan.
Jadi jangan salahkan dia. Jika suatu saat akan menyesal karena telah menolak kerjasama.
"Benar Tuan ku, mereka menolak untuk kerjasama dengan kita."
"Biarkan saja. Yang penting kamu sudah menyuruh Gerld untuk mengatur semua kan? Aku tidak mau kalau putri ku sampai tergores sedikit pun hanya karena harus masuk ke dalam hutan terlarang."
Jujur saja jika pada saat ini Retori takut jika Freya akan terluka jika sampai berada dalam hutan terlarang. Oleh karena itu dia meminta agar Gerld menempatkan Freya di pinggir hutan terlarang saja. Hal itu sebagai antisipasi Freya akan di serang oleh binatang buas.
"Saya sudah memastikan pada Gerld untuk melindungi Tuan putri Freya dan dia sudah setuju. Nyonya Gerld bahkan sudah memasangkan Tuan putri dengan seorang yang punya hewan buruan itu. Jadi tidak ada yang perlu untuk dikhawatirkan lagi Tuan."
"Itu artinya Freya akan keluar sebagai juara kan?"
"Tentu Tuan. Nona Freya akan menjadi pemenang dalam seleksi kali ini. Sementara Pangeran Aldric... Nyonya Gerld sudah mengirimnya ketempat yang menyeramkan."
***
"Eric... perasaan Ayah makin cemas. Ayah takut jika Retori telah membuat suatu hal yang diluar kehendak kita. Karena kita telah menolak perjodohan Aldric. Bagaimana jika adikmu di curangi? Kamu tahu kan kalau saat ini adalah waktu seleksi pertama setelah masuk ke Acavalati. Dia akan masuk ke dalam hutan terlarang."
Frederick sangat hafal dengan hutan itu. Di dalam hutan yang tidak pernah terjamah itu ada banyak sekali hewan purba dan buas. Barang siapa yang sudah masuk akan kesulitan untuk keluar.
Bukan raja Bath itu meremehkan putranya sendiri. Hanya saja dia takut jika Putra nya itu akan di curangi.
Fredrick tentu sangat tahu bagaimana licik dan culasnya Retori. Dia pasti sudah kerjasama dengan Gerld hanya untuk menjegal Aldric.
"Ayah tidak perlu takut. Aku sudah mengajari Aldric untuk bertahan di sana. Aku yakin Aldric akan keluar dari sana sebagai juara. Sudah aku bilang jika adikku itu sangat keren."
Eric tidak akan ragu sedikit pun dengan kecerdasan yang dimiliki Aldric. Selain Eric sudah mengajari tentang semua cara menenangkan chalenge di Acavalati. Menurut Eric juga Aldric punya kemampuan diatas rata rata. Maka jika menemukan jalan buntu. Aldric akan dengan mudah mengatasinya.
"Lagi pula. Jika Aldric dalam keadaan terdesak. Aku akan datang untuk menolongnya." janji Eric kemudian.
***
"Arhhggg...."
Ular purba dengan tinggi raksasa itu mengerang kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa akan terpecah belah. Kekuatan yang dimiliki hampir saja hilang. Predator paling bahaya itu pada akhirnya menjerit tidak tertahan. Tak selang lama tubuhnya limbung dan membuat beberapa pohon kecil roboh.
Arabella bernafas lega, setelah hampir saja jadi kudapan raksasa itu. Jika Aldric tidak segera menangani ular tersebut. Bukan tidak mungkin saat ini mereka sudah ada dalam lambung si ular.
"Ck... bukan buruan seperti ini yang aku mau. Ini terlalu remeh!" ujar Aldric dengan kecewa. Dia memenggal ular kepala tiga itu dan memantrai sebentar hingga hilang.
Tampak pada saat ini. Pria itu tampak sangat kecewa.
"Dengan kita selamat saja sudah bagus kan? Kenapa masih memikirkan buruan kita akan bagus atau tidak? Ayo kita kembali!" ajak Arabella kemudian.
Arabella tidak ingin bertemu dengan makhluk mahluk mengerikan seperti itu. Dia tidak siap dan juga tidak ingin mempertaruhkan nyawa. Setelah mendapat hewan buruan seperti yang di inginkan oleh Nyonya Gerld. Dia merasa sudah puas.
Menurut gadis dari Sigyn itu, buruan yang di lakukan Aldric sudah sangat keren. Memang siapa yang akan sanggup menaklukkan predator purba seperti ular kepala tiga tadi? Jika bukan Aldric, mungkin tubuhnya sudah tidak bersisa.
"Apa kau bilang? Kembali?" tanya Aldric dengan tertawa. Seolah perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Ara adalah sebuah lelucon.
Pemuda itu menggelengkan kepala dan segera naik ke ranting pohon yang sudah di bentuk menjadi gunungan. Aldric duduk di samping Arabella dan menatapnya geli.
"Iya. Kita sudah mendapatkan hewan buruan. Apalagi?"
"Kamu fikir bisa keluar dari hutan ini dengan begitu saja jika permainannya belum selesai? Mimpi!" jawab Aldric dengan memainkan busur panah. Pangeran dari Bath itu tersenyum remeh. Benar benar tidak mengerti dengan kebodohan yang di lakukan Arabella.
"Maksudnya? Bukankah Nyonya Gerld bilang, kita hanya perlu menangkap satu binatang purba dan kita secara otomatis akan lolos seleksi?"
Setidaknya itu yang Arabella dengar dari Nyonya Gerld. Semua peserta hanya perlu menemukan satu binatang purba terbaik dan memenggal kepalanya. Setelah itu mereka bisa kembali.
Ya, meski Arabella tahu, peserta dengan hewan buruan terkecil akan di beri nilai rendah. Tapi? Siapa yang akan meremehkan binatang hasil buruan Aldric dan Arabella. Lihatlah, ular itu punya bobot puluhan ton dan panjang ribuan meter.
Arabella yakin seyakin, yakinnya. Tidak akan ada yang bisa menyaingi dirinya.
"Teorinya seperti itu. Tapi faktanya siapa yang tahu?"
"Bisa tidak, kalau bicara secara jelas. Kaum jelata sepertiku tidak faham ucapan puitis seperti itu!"
"Ohh iya, aku lupa kamu bodoh!" jawab Aldric dengan santai.
Arabella enggan menjawab dan masih menunggu Aldric meneruskan kalimat.
Helaan nafas panjang terdengar dari Aldric.
"Mulai sekarang jangan pernah percaya ucapan Gerld. Dia itu pembohong besar!" ujar Aldric pada akhirnya. "Kamu fikir saat dia bilang ingin kita melakukan perburuan, dia benar benar ingin kita membawa hewan purba? Tidak! Sebenarnya dia sedang memberi makan para penghuni hutan terlarang ini!"
Mata Aldric memandang jauh, lewat fikiran alam bawah sadar. Dia bisa melihat kalau saat ini semua peserta sedang mati matian mengalahlah para binatang purba berbahaya penghuni hutan terlarang. Tentu saja kecuali satu orang yang saat ini sedang bersantai bermain ayunan.
"Memberi makan? Pangeran Aldric aku benar benar tidak mengerti-"
"Gerld ingin ada yang mati diantara kita semua. Pintu gerbang hutan tidak akan bisa terbuka jika belum ada yang mati. Itu aturannya. Kita tidak akan bisa mengubahnya!" jelas Aldric pada akhirnya.
"Apa? Tapi bagaimana bisa? Bukanya kita disini untuk dilatih jadi penyihir terhebat di Kwanta?"