"Tapi ini tetap saja keterlaluan. Kita seperti kelinci percobaan. Nyawa kita seakan tidak ada harganya!"
Arabella masih terus melangkah. Mengikuti kemana pun Aldric berjalan. Pria itu seakan tidak peduli pada setiap ocehan Arabella yang dianggap sebagai angin lalu.
"Sedari awal aku sudah katakan. Ketika kamu masuk ke Acavalati. Ini bukan untuk main main. Kamu harus bertaruh nyawa untuk Klan mu. Meski nyawa dan juga hidupmu akan jadi taruhannya. Karena itu tidak sembarang orang bisa masuk ke Acavalati. Kalau kamu tidak suka. Harusnya sejak awal kamu katakan saja. Bukan malah marah marah seperti ini."
Menurut Aldric Arabella telah lancang karena memaksa dirinya membantu para peserta yang lain yang ada dalam bahaya. Menurut Aldric. Untuk apa juga dia harus membantu semua orang. Saat alasan dia ada disini adalah untuk berkompetisi.
Satu diantara mereka semua harus ada yang mati. Itu hukum alam dan tidak bisa untuk di elak lagi.
"Menurut Klan atas seperti kalian ini. Nyawa manusia tidak ada harganya ya? Dengan mudah membuat seseorang kehilangan nyawa. Kalau sedari awal aku tahu Acavalati hanya tempat pencabutan nyawa. Aku tidak akan sudi berada disini. Seharusnya aku mendengarkan apa kata ibuku. Untuk tidak pernah datang ke tempat ini."
Rasanya Arabella sangat menyesal karena telah menjadi anak yang sangat durhaka. Selama ini dia tidak pernah sekalipun mendengar kan ucapan sang ibu.
Nerthus sudah selalu memperingati Arabella agar jangan pernah dekat dekat dengan Acavalati. Namun Arabella bebal. Dia selalu saja beranggapan kalau larangan sang ibu sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa sang ibu melarang dirinya pergi ke Acavalati. Padahal tempat itu adalah impian setiap penyihir yang ada di kwanta. Namun sekarang, setelah melihat sendiri tempat seperti apa Kwanta itu. Arabella jadi menyesal telah menjadi bagian di dalamnya.
Andai saja dia tidak masuk ke tempat itu sedari awal. Mungkin dia tidak perlu melihat para orang orang mati dengan begitu saja.
"Klan atas? Kamu fikir kami ada di posisi itu hanya karena kebetulan? Tidak Arabella. Ada harga mahal yang harus kami bayar untuk bisa sampai ke tahap itu. Kamu dan Klan mu mungkin sudah senang hidup dalam kemiskinan dan juga kehinaan. Tapi kami tidak Arabella. Kita mengorbankan diri kita untuk bisa mengangkat nama Klan. Kamu bahkan tidak tahu kan? Jika kakak ku merelakan kepalanya menjadi musang agar Klan kami tetap berada di puncak?" ujar Aldric dengan panjang lebar. Dia mulai tidak sabar dalam menghadapi kekanakan Arabella.
Arabella berkeinginan membantu semua orang tapi dia tidak mampu. Dan karena ketidak mampuan itu dia justru jadi menyalahkan orang lain. Menurut Aldric itu adalah hal paling memalukan yang pernah dia dengar.
Semua orang selalu berfikir kalau suatu Klan berada di puncak adalah karena sebuah keberuntungan. Yang tidak mereka ketahui, siapa pun yang saat ini mencapai puncak, telah berusaha keras dan mengorbankan segala sesuatu.
Bahkan mungkin mereka tidak pernah tahu. Jika Kakak Aldric, Pangeran Eric, telah rela menjadi kan kepala musang karena salah satu kompetisi di Acavalati.
Termasuk Arabella pada saat ini. Yang telah menuduh kalau Aldric tidak punya perasaan. Dan senang atas kematian orang lain. Mengolok kalau Klan atas hanya peduli pada diri sendiri.
"Kalau kamu ingin dirimu berguna untuk orang lain. Silahkan perbaiki dirimu sendiri. Buat dirimu kuat. Bukan terus merengek seperti ini. Bukan terlihat seperti pahlawan. Kamu justru menyedihkan. Orang orang di Sigyn pasti malu punya warga seperti mu."
Sudah terlanjur marah besar. Aldric pergi meninggalkan Arabella yang kini hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Mungkin gadis itu tersinggung dengan ucapan Aldric, atau mungkin gadis itu sedang marah dengan ucapan Aldric. Tidak pernah ada yang tahu pastinya.
Yang jelas. Aldric tidak akan bersikap lembut sekali pun pada wanita. Jika dia rasa Arabella tidak berjalan sesuai dengan seharusnya,dia akan tetap menegur nya.
"Arabella... apa yang telah kau lakukan. Kamu telah menyinggung perasaan orang lain."
Sebenarnya Arabella tidak pernah berniat untuk membuat Aldric tersinggung. Dia tidak pernah tahu jika Aldric dan Klan nya mengalami penderitaan yang begitu besar.
Selama ini Arabella hanya fokus pada penderitaan dirinya dan para Klan nya, tanpa pernah tahu, jika Aldric juga sama tersiksa nya.
Arabella sadar. Tidak selamanya keinginan dirinya untuk membantu orang lain adalah baik. Ada kalanya dia memang harus acuh pada orang lain. Bukan karena dia tidak peduli. Namun itu harus dia lakukan, karena jika tidak, maka dia tidak bisa membantu lebih banyak orang lain kedepannya.
Yang ada Arabella hanya akan jadi orang yang sangat menyebalkan.
***
Pangeran Aldric terus melangkahkan kaki saat suara jeritan itu makin terdengar dengan begitu jelas. Sebenarnya, suara jeritan itu telah membuat nya merasa miris. Tapi memang apa yang bisa dia lakukan?
Ini adalah keputusan manusia monster yang sering di panggil dengan sebutan Nyonya Gerld itu. Wanita itu tidak akan berhenti melakukan penyiksaan sebelum merasa puas.
Semakin pangeran Aldric melangkahkan kaki. Suara itu makin terdengar semakin dekat. Hingga langkahnya terhenti saat di depannya pada saat ini ada seekor beruang raksasa yang punya tinggi setara dengan pohon. Beruang itu terlihat sedang memakan madu madu yang ada di sarang lebah.
Sudut bibir Aldric berkedut. Dia mendengus dengan kasar sambil melihat ke arah beruang itu.
"Bagus sekali. Aku menemukan buruan yang sangat indah. Saat kekuatan sihir ku hilang. Tapi tidak apa. Aku rasa ini adalah waktu pembalasan yang terbaik."
Aldric sudah mencari beruang itu sejak pertama kali masuk ke dalam hutan dan tidak kunjung menemukannya.
"Beruang itu punya satu totol putih tepat pada punggungnya. Marahnya merah menyala dengan wajah penuh kemarahan. Jika kamu menemukan beruang yang seperti itu kamu tidak perlu ragu lagi Aldric. Itu adalah beruang jelmaan kembaran Gerld. Dia di kutuk menjadi beruang purba yang ada satu satunya di hutan terlarang itu." Aldric sangat ingat betul perkataan yang disampaikan oleh sang kakak sebelum ia masuk ke dalam Acavalati.
Suatu saat Aldric akan bertemu dengan beruang Purba yang punya tinggi di atas rata rata. Sekali melihat Aldric pasti akan mengenalinya. Dan yang perlu di lakukan oleh Aldric adalah membunuh beruang itu. Sama persis seperti Nyonya Gerld yang sengaja mengganti kepala Eric menjadi kepala musang.
"Mari kita coba. Sekuat apa kulitnya!"
Bukan pangeran Aldric namanya jika dia hanya akan membiarkan beruang itu pergi begitu saja meski kekuatan sihirnya musnah. Yang ada Aldric akan makin semangat untuk mengirim beruang itu ke neraka.
Dengan menarik busur. Aldric melepaskan satu anak panah tepat pada bagian b****g beruang itu. Hingga membuat beruang itu meraung.
"Arwghhh.... "
Beruang itu mengaungkan suara hingga kesegala penjuru hutan. Kemudian mencabut anak panah yang ada di b****g kepada Aldric.
Mata beruang itu menyalang marah. Matanya yang sudah merah menyala kini tambah berkibar kemarahan. Seakan giginya siap mengoyak Aldric dalam satu gigitan.
Pangeran Aldric terkekeh dan justru menertawakan beruang itu. Baginya beruang tersebut sudah bereaksi berlebihan.
"Ternyata kau benar benar adiknya Gerld. Tempramen kalian sudah benar benar mirip. Ck...Sayang sekali kalian harus terpisah. Haruskah aku menyatukan kembali?"
Aldric melipat kedua tangan di depan d**a. Seakan menentang beruang itu. Dia tidak akan takut sekali pun beruang akan mengamuk padanya.
"Kau tahu? Kakak mu itu seorang yang sangat menyebalkan. Dia selalu memaksa setiap murid di Acavalati masuk kesini hanya karena ingin mendapatkan kabar tentang kamu. Ck... sekali kali kamu harus mendatangi Kakak tercinta mu itu sambil mencakar nya."
Aldric terus berucap. Sedang satu anak panah kembali dia lesakkan untuk mengenai leher dari beruang tersebut. Meski pada saat ini tidak berhasil. Karena beruang itu berhasil menangkap anak panah dengan tepat.
"Kamu memang anak yang tidak tahu diri. Apa keluarga Bath sudah tidak punya guru kesopanan? Hingga putranya tumbuh menjadi seorang yang tidak punya sopan santun?"
Beruang jelmaan dari adik Nyonya Gerld itu mematahkan anak panah Aldric menjadi dua. Kemudian melemparkan ke samping.
Dia sering bertemu para murid Acavalati yang ada di hutan terlarang untuk melaksanakan perintah dari Gerld. Namun baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak punya sopan santun.
Andai dia masih menjadi manusia. Dia akan memberikan pengajaran gratis. Agar Aldric tumbuh menjadi orang yang punya tata krama. Atau kalau paling tidak, bisa menghargai orang lain.
"Ck... Zetty... ayolah, sopan santun hanya untuk digunakan pada manusia. Kalau pada binatang. Seperti nya tidak perlu. Kau ini kenapa. Selalu berfikir kalau dirimu adalah manusia. Ingat Zetty. Kamu... sudah berubah menjadi beruang. Artinya sekarang ini kamu adalah binatang."
Aldric tidak pernah mau berhenti untuk membuat Zetty marah. Dia terus saja mengolok hingga emosi Zetty itu akan meledak dan baru setelah nya dia akan menyerang Zetty dengan begitu mudah.
"Kalau aku adalah binatang. Maka kakak mu apa? Manusia setengah binatang. Aku yakin kalau hingga saat ini kepala kakak mu itu masih musang kan? Dia belum bisa melepas kutukan kan?"
Zetty tidak kalah sarkas dengan Aldric dengan membalas setiap perkataan Aldric dengan kata kata yang lebih menyakitkan.
Memang dia fikir Zetty tidak tahu jika selama ini Aldric akan emosi jika kakaknya dihina.
"Nah... kau memang suka sekali banyak bicara. Sama seperti kakak mu dan itu tidak penting!"
Aldric kembali meluncur satu demi satu anak panah hingga membuat beberapa bidikan mengenai tubuhnya.
Memang anak panah Aldric tidak akan membunuhnya tapi tetap saja itu meninggal kan rasa sakit yang amat terasa.
"Kubilang hentikan sebelum kesabaran ku habis!"
"Ayo serang aku!"
Aldric tidak mau menghentikan aksinya dan justru pada saat ini terus saja melayangkan panahan demi panahan.
"Kenapa? Tidak berani? Haha... payah!"
Kabut kemarahan makin terlihat jelas. Beruang itu meringsek maju untuk menyerang Aldric.
***
Arabella makin mempercepat langkah kaki sembari mengabaikan segala suara yang terus berdengung di telinga. Dia ingin mengejar langkah Aldric yang baru beberapa langkah namun tiba tiba Aldric sudah hilang dan tidak dapat dia temukan dimana keberadaan nya. Sedang pada saat ini jejaknya tidak dapat ditemukan.
"Kemana dia? Perasaan dia baru saja pergi? Apa dia menghilang!"
Kepala Arabella terus saja menoleh ke kanan dan kiri. Mencari dimana keberadaan Aldric pada saat itu. Tapi tidak kunjung menemukan dimana Pangeran Bath itu berada. Entahlah, pemuda itu seperti hilang ditelan dibumi.
Sejauh apapun Arabella mencarinya. Tetap saja tidak dia temukan. Yang ada hanya suara jeritan yang saling bersahutan.
"Pangeran Aldric... dimana kamu? Pangeran.... "
Arabella berteriak sekencang mungkin, berharap ada sahutan dari pria yang pada saat ini dia cari. Namun semua itu nihil. Aldric tidak kunjung menjawab.
"Pangeran Aldric-"
Arabella menghentikan suara teriakannya saat melihat kalau pada saat ini Aldric sedang berkelahi dengan seekor beruang.
Keduanya saling menyerang satu sama lain. Bahkan tidak jarang Aldric mencoba menebas beruang itu. Namun sang beruang berusaha untuk menghindar.
"Astaga... pangeran Aldric ada dalam masalah. Aku harus bisa membantunya!"
Arabella tidak bisa membiarkan Aldric menghadapi beruang besar itu sendiri. Namun dia juga tidak bisa gegabah membantu Aldric untuk melawan beruang itu. Bagaimana pun juga pada saat ini kekuatannya telah hilang. Arabella tidak akan dapat menggunakan kekuatan sihirnya.
"Ayo Arabella ayo... Cepatlah berfikir, cari cara untuk menyelamatkan Pangeran Aldric."
Sejak tadi Arabella hanya mondar mandir tidak tentu arah. Dia mencoba untuk menyelamatkan Aldric tapi tidak kunjung mendapatkan ide.
"Aku tahu!" Wajah Arabella berubah menjadi berbinar. Dia telah menemukan cara jitu untuk dapat membantu Pangeran Aldric.
***
Sementara itu. Aldric masih terlihat begitu tenang saat menghadapi kemarahan dari beruang Purba. Tidak ada ketakutan sedikit pun dari wajahnya. Dia justru terus memprovokasi beruang itu hingga emosinya tidak dapat di kendalikan lagi.
"Apa kau marah karena harus berakhir menjadi beruang? Sementara Gerld yang bodoh itu yang pada akhirnya jadi kepala sekolah Acavalati? Padahal kamu tahu jika kemampuan mu di atas rata rata. Jadi bagaimana sekarang perasaan mu? Pasti sangat sakit sekali ya?"
Beruang itu terus menyerang dan hendak meremukkan tubuh Aldric. Namun sayang. Karena emosi. Dia sering tidak fokus dan tidak mampu untuk menyerang tepat sasaran.
Berulang kali tenaga nya keluar tapi justru hanya terbuang percuma. Bukannya Aldric dapat dia lumpuhkan. Yang ada Aldric malah makin mempermainkan dirinya.
Beruang itu juga bingung. Karena kekuatan sihir yang dia miliki tiba tiba tidak berfungsi sama sekali.
"Kenapa? Kamu bingung kenapa kekuatan mu hilang begitu saja? Hahaha... payah. Ini semua kan ulah dari kakak mu. Aku rasa kakak mu itu sengaja menetralkan hutan terlarang ini supaya aku bisa mudah membunuh mu. Sangat menarik sekali."
Zetty, sang jelmaan beruang tambah murka. Kemarahan nya makin memuncak setelah mendengar ucapan dari Aldric. Dia mulai mencurigai Gerld seperti kata Aldric yang berusaha untuk mencelakai nya.
Dulu Gerld sendiri yang berjanji. Akan membuat hutan terlarang tersebut terus berkekuatan sihir agar Zetty bisa menjadi penguasa hutan terlarang.
Mau bagaimana pun juga Zetty adalah bukan sepenuhnya binatang, dan dengan kekuatan sihir, Zetty bisa menguasai hutan tersebut.
Bukanlah Gerld juga yang bilang. Kalau dia akan berusaha mengirimkan para murid Acavalati ke hutan terlarang agar Zetty bisa melihat perkembangan murid di sekolah sihir impiannya itu. Dimana dulu Zetty sangat berambisi untuk menjadi kepala sekolah disana.
Sayang, takdir rupanya berkata lain. Zetty terkena sihir oleh iblis laut dan berubah menjadi beruang untuk selamanya. Dan pada akhirnya Zetty tidak pernah bisa kembali ke keadaan semula. Dan semua itu terjadi karena Zetty menolong Gerld, kakaknya.
Untuk menebus rasa bersalah itu, Gerld memperbolehkan Zetty mengeliminasi salah satu murid setiap tahun. Yaitu dengan cara mengirim para murid ke hutan terlarang. Sekaligus murid itu akan di jadikan santapan Zetty.
Dan jujur saja. Sepanjang dia melihat murid Acavalati. Menurut Zetty, Aldric adalah yang paling tidak sopan.
"Tidak usah mencoba mempengaruhi aku bodoh tengik. Kamu fikir aku akan percaya dengan ucapan mu? Mimpi saja. Aku percaya dengan Kakak ku lebih dari siapa pun. Jadi buang jauh jauh semua bualan mu itu!"
Zetty mengamuk dan mencakar lengan Aldric dengan kuat. Hingga membuat luka scar sepanjang enam puluh centi, yang menampilkan goresan dalam.
Ada rasa perih yang begitu sakit yang dirasakan Aldric. Namun pemuda itu pura pura untuk tidak merasakannya. Dia tidak ingin membuat Zetty bangga dengan perlakuan nya.
"Bohong? Untuk apa aku bohong. Kakakmu Gerld sudah menjadi orang yang sangat berbeda. Kamu pasti belum tahu kan? Kalau sekarang dia mengabdi pada Retori? Kakak mu itu jadi penjilat sepatu raja yang telah membuat mu jadi seperti ini. Kamu belum tahu fakta itu, kan? Dan lihat... sekarang dia membuat hutan ini netral agar tidak ada kekuatan sihirnya. Kamu fikir. Apa alasan dia melakukan itu? Jika bukan karena ingin membuat kamu segera mati?"
Kalau soal memancing emosi dari lawan. Aldric adalan ahlinya. Dia bisa mempermainkan psikologis rival dengan sangat baik. Hingga lawan sering kali tumbang karena kesalahan sendiri.
Sudut mata Zetty mulai berair. Dia merasa terluka setelah tahu jika Gerld justru menjadi pengikut Retori, orang yang telah mempersembahkan mereka dulu pada iblis laut.
Zetty merasa kalau Gerld telah menghianati dirinya dan tidak menghargai apa yang sudah dia lakukan. Hingga emosi Zetty kini benar benar memuncak.
"Akan kubunuh kau!" teriak Zetty yang langsung menghempaskan tubuh Aldric dengan keras.
"Uhuk... uhuk... "
Aldric terbatuk dengan keras setelah tubuhnya membentur pohon kemudian jatuh ke tanah. Dia merasakan sakit yang berkali lipat.
Bekas cakaran yang Zetty lakukan berhasil membuat nya merasa seperti dikuliti hidup hidup, sedangkan hempasan yang baru saja dia terima seakan seperti merontokkan seluruh tulang dari tubuh nya.
Entah kenapa Aldric merasa kalau pada saat ini tubuhnya melemah dan tidak sanggup untuk berdiri. Di tambah lagi, segala organ dalamnya terasa berhenti bekerja.
"Zetty... Zetty... kamu seharusnya marah pada kakak mu bukanya malah melampiaskan kepadaku."
Mata Aldric seakan ingin tertutup, sekuat tenaga dia berusaha untuk bangkit, meski kaki seperti tidak sanggup untuk menopang tubuh lagi. Dia masih berusaha keras.
"Apapun yang dilakukan oleh Gerld sama sekali tidak ada hubungan nya dengan kamu. Jadi tutup mulut mu dan jangan banyak bicara."
Zetty sungguh tidak bisa mentolerir segala sikap Aldric yang dia nilai sangat keterlaluan. Sekalipun benar Gerld telah menghianati dirinya. Harusnya Aldric tidak berhak ikut campur.
"Kenapa? Apa karena itu sangat menyakiti dirimu? Hahaha... kau sangat mengenaskan Zetty!"
"Mengenaskan? Sepertinya kau yang akan mati dengan mengenaskan Aldric. Karena cakar ku memiliki racun. Itu artinya saat aku mencakarmu tadi, racunnya masuk ke dalam tubuh. Menarik sekali. Melihat kamu tidak berkutik seperti ini. Kau akan segera sekarat, Aldric."
Meski pada saat ini Aldric pura pura kuat. Tapi Zetty sangat tahu jika Aldric sedang sekarat. Pemuda itu sebenarnya akan mati namun pura pura baik baik saja. Lihat lah bagaimana saat ini wajahnya pucat pasi. Persis seperti mayat hidup.
"Dan kamu fikir aku akan mati dengan begitu saja? Tidak Zetty... aku ini pangeran dari Bath. Pantang bagiku tumbang begitu saja."
Apa yang dikatakan Zetty benar. Pada saat ini tubuh Aldric seperti mati rasa. Dan mungkin sebentar lagi dia akan tewas, tapi pantang bagi Aldric untuk menyerah.
Zetty yang mendengar itu tersenyum licik. Perlahan dia mendekat ke arah Aldric dengan langkah pelan sambil memegang sebuah anak panah yang dia cabut dari tubuhnya.
Sejak tadi Aldric terus membidik tubuhnya tanpa henti. Kini giliran Zetty yang akan balas dendam.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini Aldric. Kau akan segera mati!"
Zetty akan menancap anak panah itu tepat pada tubuh Aldric, namun saat dia akan melakukan itu. Tiba tiba saja seekor burung raksasa menyambar tubuh Aldric dan membawanya terbang tinggi.
Mata Zetty menelisik. Dia memicingkan mata setelah melihat seorang gadis duduk diatas burung emas itu.
Seorang gadis yang menurut Zetty punya aura yang sangat kuat.