"Masamu sudah habis... kau... akan tenggelam dalam lembah yang begitu mengerikan!"
Seorang wanita yang semua rambutnya memutih, menggoyangkan lonceng di tangannya, meski mata terpejam, namun wanita itu tidak ada henti melantunkan kalimat-kalimat mengerikan.
Sementara seorang pria bermahkota permata yang mendengar ramalan sang cenayang. Hanya diam tanpa ekpresi. Di adalah Raja Retori, penguasa Kwanta, negeri para penyihir.
Bulan berada pada ujung tombak adalah saat yang paling tepat dia mendengar ramalan dan dari sekian lama ia rajin menemui orang suci itu, ini baru pertama kali Raja Retori tidak menyukainya.
"Segitiga redup. Ya. Dia akan bersinar benderang. Membuat matamu silau dan... energi negatif itu hilang! Aku bisa merasakan... dia datang, dia datang!"
Wanita suci yang sering dipanggil sebagai Carvati itu adalah rujukan dari para Raja mengambil keputusan. Tidak ada satupun ramalan yang melesat. Semua nyata.
"Bintang redup? Siapa dia?"
"Dia ada dekat dengan kita. Sangat dekat... hingga aku bisa menciumm aroma itu sampai ke dasar paru-paru. Aku akan pastikan dia ada disekitar kita! Kenapa aku tidak mengetahui selama ini. Segitiga redup... kau terlalu pandai menyembunyikan diri!"
Carvalati mulai mengendus tanah. Dia bertindak seperti sedang melacak segitiga redup yang ia sebut melalui media basa itu. Matanya yang buta, melengkungkan sabit. Ini adalah pertama kali wanita baya itu tersenyum sampai bertepuk tangan.
Tapi itu tidak terjadi dengan Retori. Dia tidak suka jika ada yang lebih hebat dari padanya. Bukankah sesuai dengan hukum alam? Jika ada yang kuat, yang lebih lemah akan tersingkir.
Hampir satu abad keluarga Signur memimpin Kwanta. Tidak ada satupun yang mampu untuk menggantikan. Dan sekarang, muncul seseorang yang tidak diketahui asal usulnya, berniat untuk merebut Kwanta?
Apa orang itu fikir Retori akan diam saja?
"Aku akan menemukannya dan membawanya kehadapan mu!"
"Kau tidak akan mampu membawanya kehadapanku, Retori! Kau tidak akan mampu. Dia adalah Raja kita. Kamu tidak bisa memerintah seorang Raja!" sanggah Carvati dengan bengis. Ia tidak suka kalimat perintah yang baru saja Retori cetuskan. Terasa melukai harga diri calon Raja barunya.
"Dia bahkan belum menjadi Raja, tapi kau sudah memperlakukan bocah ingusan itu dengan mulia. Tenang saja Carvati. Segitiga redupmu tidak akan mampu sampai pada halaman istana sekalipun!" ujar Retori dalam hati. Senyum meremehkan terbit di bibirnya.
***
Kereta kereta besi yang sudah tidak lagi di tarik lembu dan kuda mulai memasuki perkampungan Sigyn. Tidak ada yang tahu apa isi dalam kendaraan kendaraan terbuka itu. Jangankan tahu apa isi dalam kereta itu, menamai kendaraan yang baru mereka lihat pun, penduduk Sigyn kebingungan.
"Berhenti. Tidak ada yang boleh memasuki Sigyn tanpa melewati penjagaanku. Kalian lupa kalau Klan kami bukan lagi Klan sembarangan. Tidak ada yang boleh keluar masuk se-e-nak-nya!"
Baladia berucap dengan sombong. Bahkan ia menunjuk piagam penerimaan Arabella dari Acavalati. Para sesepuh percaya, itu akan mendatangkan keberuntungan.
Mereka berhak bangga. Karena setelah satu abad. Baru pertama kali Klan yang selalu saja direndahkan itu muncul kepermukaan. Tentu, Baladia ingin mengecap bagaimana rasanya memijak langit.
"Kami adalah utusan dari Acavalati. Yang ditugaskan mengantarkan makanan, obat-obatan serta pakaian untuk Klan Sigyn. Ini sebagai hadiah atas terpilihnya Arabella di Acavalati!" jelas orang itu dengan lugas. Dia menatap para penduduk Sigyn yang termenung.
Baladia kesusahan menelan saliva. Rasanya ia belum percaya, ini semua seperti mimpi.
"A-ku te-tap harus memeriksanya!" jawab Baladia dengan terbata.
"Tentu saja!" balas orang suruhan dari Acavalati itu. Yang lantas memberikan kode para temannya yang lain agar segera membuka pintu truk dan menurunkan salah satu bahan pokok.
Bruk.
Satu karung beras di lempar dengan asal. Hingga isinya berhambur keluar. Membuat seluruh penduduk Sigyn shock seketika.
"I-ini-"
"Kami akan mengirim semua kebutuhan makanan untuk kalian setiap bulannya!"
Bruk.
Baladia pingsan diikuti para penduduk yang lain.
Syurga benar benar telah turun di tanah Sigyn. Melalui Arabella.
***
"Ketua... ini semua adalah hasil kerja keras Arabella. Anak yang selalu kita sebut nakal dan tidak berguna. Ternyata dia sangat berguna."
Baladia sudah bangun dari pingsan entah sudah yang keberapa. Namun pria dengan tubuh kering kurus itu selalu saja bangun dan mengatakan semua kata kata itu. Lalu pingsan lagi. Entah apa yang dimau oleh tetangga dari Arabella itu hingga membuat kepala suku jadi muak.
"Baladia... kalau kamu masih ingin pingsan. Silahkan pingsan dulu. Aku akan membicarakan tentang hadiah ini dengan para tetua yang lain. Kamu hanya akan membuang waktu kami saja."
Jujur saja jika pada saat ini Kepala suku sangat kesal. Dia sudah susah susah mengumpulkan seluruh tetua di desa untuk membahas pembagian hadiah yang akan di berikan kepada seluruh penduduk. Bukan membantu yang ada pada saat ini Baladia sibuk pingsan.
Jika Baladia tetap saja seperti itu. Akan jauh lebih baik jika Baladia tidak ikut dalam pembagian pada saat ini.
"Tidak ketua. Aku akan ikut dalam proses pembagian. Aku sebagai wakil dari Arabella akan memastikan kalau pembagian bahan pokok dan pakaian akan di berikan secara adil dan merata. Setidaknya itu adalah pesan yang di sampaikan oleh Arabella dan kita harus menuruti nya. Haha... Arabella, pahlawan kita semua!" ujar Baladia dengan bangga.
Selama ini semua orang mengolok dan membicarakan Arabella sebagai orang yang sangat bodoh dan tidak punya bakat sihir. Mereka pun sempat khawatir jika sebenarnya Arabella memang terlahir tanpa kekuatan sihir.
Tapi siapa yang menyangka jika ternyata Arabella adalah orang yang berhasil untuk membuat semua orang jadi bangga. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang dia miliki. Arabella bisa masuk ke dalam Acavalati. Dan sekarang ini dia memberikan penghidupan yang layak kepada para klan nya.
Bukan hanya itu, nama klan sigyn juga jadi naik dan tidak di anggap sebagai orang yang remeh lagi.
Baladia fikir semua orang harus ucapkan terimakasih pada Arabella dan ibunya.
"Yasudah kalau begitu biar kamu saja yang membagikan semua itu. Dan biarkan Anas membantu kamu. Aku yakin dia pasti bisa membantu banyak," perintah kepala suku sambil menunjuk ke arah putranya sendiri yang kini tengah duduk terdiam seakan tidak ingin mengatakan apa apa lagi.
"Anas... bantulah paman Baladia. Ayah dan para tetua ada banyak hal lain yang harus kami selesaikan."
"Iya Ayah aku akan membantu Paman Baladia."
Anas menjawab patuh perintah dari sang ayah. Dia tidak ingin membantah.
"Ohh... aku akan di bantu oleh seseorang yang gagal masuk Acavalati dua kali. Dan meremehkan seseorang tidak akan mampu masuk Acavalati meski hanya untuk sampai gerbang?" ujar Baladia sarkas.