Tak berapa lama, nasi pesanan Cinta datang. Ia memakan nasi itu sambil berlinang air mata, tak ada yang bisa membantunya. Hidupnya benar-benar kacau, lalu ia tak sengaja melihat sebuah iklan di TV.
"Selamat, Anda mendapatkan hadiah sepeda motor dan juga sebuah laptop, sedangkan Anda mendapatkan tiket liburan ke Thailand selama lima hari, wah! Kalian senang bukan."
"Iya, kami senang sekali, terima kasih, ya, Pak. Atas hadiahnya."
"Ayo, yang belum beruntung, silahkan coba peruntungan kalian, mungkin saja itu rezeki kalian. Caranya mudah, beli kartunya di warung-warung terdekat dan kami akan mengundinya dalam seminggu, semoga kalian beruntung."
"Bi, apa acara itu benar-benar nyata, nggak nipu, kan, Bi?" tanya Cinta penasaran.
"Itu nyata, Non, bulan kemarin temennya Bibi juga dapat hadiah kulkas, lo," sahut wanita itu bersemangat.
"Serius, Bi!"
"Iya, Non. Mau coba nggak? Ini Bibi ada kartunya," ujar wanita itu seraya memberikan beberapa kartu.
"Berapaan ini, Bi?"
"Kalau Non beli sebotol minuman ini, Non bisa mendapatkan dua kartu sekaligus."
"Kalau gitu, aku coba beli dua botol ya, Bi, kali aja aku beruntung," ucapnya terkekeh.
"Oh, ok Non, nanti tolong isi nomornya, terus masukan ke kotak itu, jangan lupa kasih nomor telepon Non di situ. Kalau menang, mereka akan menghubungi, Non," jelas wanita itu.
"Iya, Bi."
Cinta memikirkan beberapa nomor dan menulisnya di kartu tersebut, lalu ia memasukkannya ke kotak yang sudah disediakan di sana.
Di kamar kos, ia pulang membawa dua buah botol minuman. "Kamu udah pulang Cin? Gimana hasilnya?" tanya Amel yang juga sudah pulang setelah bekerja seharian.
"Yah begitulah, apa tampangku ini benar-benar buruk, Mel. Jangankan mendengarkan omonganku, baru melihat wajahku saja, mereka sudah mengusirku," jelas Cinta kesal saat mengingat kegiatannya hari ini.
"Makanya, aku selalu bilang untuk merubah penampilan kamu sedikit demi sedikit, jangan selalu pakai celana sobek-sobek kayak gitu, dikira pengemis ntar," ejek Amel.
"Achhhh, repot. Nih, minum." Cinta menyodorkan sebotol minuman pada Amel.
"Kamu pergi minum lagi, jangan kebanyakan minum lah, Cin. Nggak baik buat kesehatan kamu," ujar Amel mengguruinya.
"Iya, Bu guru, ini yang terakhir," ejek Cinta. Amel hanya menggeleng menatapnya.
***
Masih tidak menyerah, Cinta tetap mencari pekerjaan dan mendaftarkan dirinya ke beberapa perusahaan rumah sakit sekaligus. Dua hari kemudian, mendadak Cinta mendapatkan telepon dari seseorang yang tidak dikenal.
[Iya, ini siapa?]
[Apa Anda saudari Cinta]
[Iya benar, ada apa, ya?]
[Saya dari tim manajemen door prize, ingin memberitahukan bahwa nomor Anda memenangkan lotre minggu ini]
[Wahh! Serius]
[Jadi bisakah Anda besok datang ke studio kami, karena kami akan mewancarai Anda]
[Oh, bisa-bisa Pak, saya akan ke sana besok]
Cinta merasa senang sekali, ia tidak menyangka bahwa akan terpilih menjadi pemenang. Wanita itu tak sabar dan ingin tahu apa yang ia menangkan.
"Yeeee, akhirnya Tuhan mengabulkan permintaanku, aku menang, ye!" sorak wanita itu dengan gembira sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Malam harinya, Cinta membeli banyak makanan untuk merayakan kemenangannya. Amel yang baru saja pulang dari kerja merasa heran. "Apa sedang ada pesta, kenapa banyak makanan di sini?"
"Mel, sini! Hari ini aku menang door prize dan besok aku disuruh ke studio!" ucap wanita itu seraya menarik tangan temannya untuk duduk dan menikmati makanan yang sudah dipesan.
"Serius kamu, Cin!"
"Iya, bener." Cinta menunjukkan sebuah notifikasi di handphone-nya pada Amel agar temannya itu percaya.
"Achh, syukurlah," sahut Amel seraya ikut senang.
"Ayo, Mel, malam ini kita berpesta."
Amel mengangguk. "Kalau gitu, besok aku ambil libur, ya. Aku mau nganterin kamu ke studio," ujar Amel bersemangat.
"Ohhh, Amelku Sayang. Makasih, ya," sahut Cinta seraya memeluk temannya itu.
***
Di jalan raya kota Malioboro yang penuh dengan gemerlap lampu, tampak seorang pria sedang mengendarai motor Ninja seraya mengebut. Ia tak mengindahkan orang yang berlalu-lalang di sana. Tak berapa lama kemudian, sampailah pria itu di pekarangan rumah berlantai tiga yang sangat mewah. Ia membuka helm yang dipakai, mengibaskan rambutnya serta memarkir motor kesayangannya.
Dia adalah Rangga Nugraha, putra semata wayang dari Edi Nugraha dan Dewi Enjelita. Seorang pengusaha elektronik yang sukses, tetapi ibunya harus meninggal karena suatu penyakit ketika pria itu berumur lima tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai satu anak laki-laki.
Mungkin Tuhan punya rencana yang berbeda. Ayahnya pun harus pergi meninggalkan Rangga karena sakit jantung, pada saat itu Rangga masih duduk di bangku SMP. Hidup Rangga pun berubah sejak kehilangan kedua orangtuanya, bahkan ia tak betah berlama-lama di rumahnya sendiri.
Rumah yang ia tinggali bagaikan neraka. Pria itu tak menyukai ibu tirinya serta adiknya. Hampir setiap hari mereka bertengkar, makanya Rangga memilih untuk menghabiskan waktunya di luar rumah saja. Rangga masih punya seorang kakek yang sudah tua, sejak ayahnya meninggal sang kakeklah yang mengelola semua perusahaan dan aset milik keluarga tersebut.
Rangga melangkah masuk ke dalam rumah yang mewah itu. Mendadak seorang wanita yang terduduk di sofa berdiri dan menghampiri.
"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini, Rangga!" ucap wanita itu yang bernama Silvi—ibu tirinya.
"Anda nggak usah ikut campur masalahku!" bentak Rangga.
"Kak, bisa sopan sedikit nggak?" ujar Armand adik tiri Rangga.
"Sejak kapan aku jadi kakak kamu, ha! berisik banget kalian!" bentak pria itu lagi tak mempedulikan mereka berdua.
"Rangga, kamu sudah keterlaluan!" Silvi meninggikan suara.
"Ada apa ini, ribut-ribut?" tanya seorang pria tua yang mendengar pertengkaran mereka. Rangga langsung pergi meninggalkan mereka semua tanpa berpamitan.
"Lihat itu, Ayah mertua, kelakuan Rangga sekarang!" cetus Silvi.
Pria tua itu menghela nafas. "Silvi, biarkan saja Rangga, dia memang susah diatur."
"Mau sampai kapan, Ayah mertua akan terus memanjakannya, dia sudah dewasa! Sudah saatnya bekerja membantu Ayah, tapi kerjaannya cuma menghabiskan uang saja!" gerutu Silvi dengan mulut berkomat-kamit.
"Aku akan mencoba berbicara padanya lagi, ini sudah malam kalian cepat tidur lah," pinta pria tua yang bernama Hasan.
"Kenapa dia begitu berbeda dengan Armand, anakku ini lebih berbakti dari pada dia!" sindir Silvi yang masih saja menggerutu.
"Sudah lah, Ma. Ayo, kita masuk ke kamar!" pinta Armand dan pergi dari sana.
Rangga mendengar percakapan mereka, di kamar mandi pria itu meninju tembok beberapa kali sambil mengguyur tubuhnya. "Dasar wanita jalang!" umpatnya.
Di ruang kerja, seorang pria tua sedang duduk dan merenung. "Apa yang harus aku lakukan pada Rangga," keluh pria tua itu.
Seorang pria lain yang ternyata sekretarisnya datang menghampiri dan membisikkan sesuatu. Kakek bernama Hasan itu tampak mengerti. "Apa kamu yakin itu akan berhasil, Di?" tanya Hasan.
"Saya yakin, Ketua," sahut Budi, sekretaris pribadinya.
Hasan tampak merenung setelah mendengar ide dari Budi, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Selama ini ia terlalu memanjakan Rangga.
***
Cinta dan Amel baru saja sampai di sebuah tempat Studio perfilman. Banyaknya orang yang berlalu-lalang membuat mereka bingung harus mencari siapa? Semua orang terlihat sangat sibuk mempersiapkan acara TV.
"Wahhh! Lihat Cin, itu ada artis-artis yang di TV. Wah! Keren banget, sih. Aslinya mereka lebih ganteng daripada di TV," ujar Amel berdecak kagum.
"Iya, mungkin mereka juga lagi syuting, Mel. Ganteng, ya," timpal Cinta.
Dari kejauhan seorang pria mendekati mereka. "Hallo, kalian siapa, ya?" tanya pria itu.
"Nama saya Cinta, Pak. Saya ditelepon untuk datang kemari, saya pemenang door prize, Pak," jelas wanita itu.
"Oh, jadi kamu yang namanya Cinta, itu saya yang menelepon. Kenalkan, saya Beni manajer di studio ini, mari ikut saya," pinta pria itu.
"Baik, Pak," ujar mereka berdua dan mengikuti pria tersebut.
Beni mengarahkan mereka untuk melakukan siaran di TV seperti biasanya dan ketika memilih hadiah, Cinta mendapatkan hadiah liburan ke Thailand selama lima hari. Wanita itu sangat senang sekali..
"Selamat, ya, atas hadiah kamu, ini tiketnya. Besok lusa kamu harus berkumpul di bandara, kamu akan berangkat bersama yang lainnya," ujar pria itu.
"Iya, Pak," sahut Cinta dengan mata berkaca-kaca.
"Nanti di sana tim kami akan menjelaskan fasilitas apa saja yang akan kalian dapatkan di sana," jelas Beni.
"Iya, Pak. Terima kasih," ujar Cinta.
"Kalau begitu, kalian bisa pulang sekarang."
Cinta dan Amel pun berpamitan, mereka berdua segera naik bus. Cinta tak menyangka akan memenangkan hadiah liburan ke Thailand. Wanita itu sangat senang sekali.
"Ahhh, enak banget kamu, Cin, bisa liburan, aku juga mau," rengek Amel dengan manja seraya bergelantungan di tangan temannya itu.
"Sabar Mel, nunggu tabunganku banyak, ya. Ntar, aku ajak kamu jalan-jalan," rayu Cinta.
"Haestt! Keburu aku tua, dong," gerutu Amel seraya cemberut.
"Karena kamu udah nemenin aku hari ini, biar malam ini aku yang traktir. Kamu boleh makan sepuasnya," rayu Cinta lagi agar temannya berhenti cemberut. Amel akhirnya mengangguk seraya tersenyum.
Dua orang wanita terlihat membawa beberapa kantong plastik dan masuk ke kamar kos. Cinta sempat menggerutu kenapa semua makanannya dibawa pulang. Padahal jika makan di restoran itu akan lebih mudah, tetapi Amel bilang bahwa waktu Cinta hanya tinggal satu hari sebelum pergi ke Thailand. Ia ingin menghabiskan waktu bersama teman sekamarnya itu.
"Waktu kamu tinggal sehari, Cin. Kamu juga perlu siap-siap kali, udah sana! Beresin barang-barang kamu yang mau kamu bawa liburan!" jelas Amel.
"Eh! Bener juga, ya." Cinta segera mengeluarkan baju-bajunya dan Amel membantu Cinta untuk memilih beberapa baju yang cocok untuk dibawa liburan. Setelah itu mereka makan-makan dan berpesta sampai malam.
***
Di club malam daerah Malioboro, tampak seorang pria sedang minum-minum. Rangga memang selalu menghabiskan waktunya di tempat seperti itu. Seorang wanita dengan baju setengah jadi datang menghampiri. Melihat pria tampan duduk sendirian, tergerak hati wanita itu untuk merayunya, tetapi Rangga tak mempedulikan sampai segerombolan pria datang.
"Sialan! Berani-beraninya kamu ngerebut pacarku!" bentak pria yang bertato naga di tangan kirinya.
Rangga berdiri dan menatap pria bertato itu. "Dia sendiri yang datangi aku. Toh, aku juga nggak butuh!" bantah Rangga tanpa rasa takut sedikit pun.
"Wah! Sombong banget kamu, perlu dikasih pelajaran ini orang," umpat pria itu merasa geram dengan perkataan lawan bicaranya.
Rangga tak mempedulikan mereka dan terus saja berjalan. Mendadak pria itu langsung mengambil sebuah botol minuman dan menghantamkannya ke kepala Rangga.
Craacckkkk!! Botol itu pun pecah dan darah mulai mengalir dari dahinya Rangga, tetapi pria itu tak merasakan sakit sama sekali. Hanya ia merasa ada genangan air yang menetes, setelah tangannya menyentuh cairan tersebut matanya membulat. Ia kemudian berbalik dengan tatapan penuh amarah.
"k*****t!!" Rangga langsung menendang pria yang memegang pecahan botol tadi hingga terjungkal ke lantai, lalu teman-teman pria tersebut tidak tinggal diam. Mereka ikut mengeroyok Rangga, tetapi dengan cepat ia menarik tangan mereka dan membantingnya satu persatu ke atas meja. Rangga begitu kuat untuk dilawan sehingga mereka segera kabur entah ke mana.
Suasana sempat ricuh sesaat dan beberapa sekuriti pun datang menghentikan aksi perkelahian tersebut, Rangga pun disuruh keluar dari bar dengan paksa karena telah membuat keributan. Pria itu keluar dengan rasa kekesalannya dan melihat tangannya yang penuh darah.
"Haestt! Dasar tikus sialan! Kalau aku ketemu mereka lagi, akan kubunuh mereka semua!" umpat pria itu, lalu ia pergi ke apotek yang tak jauh dari sana. Niatnya untuk membeli beberapa obat agar bisa mengobati lukanya.
"Semuanya 150 ribu, Mas," ujar seorang kasir setelah menghitung semua obat yang pria itu ambil.
Rangga mengeluarkan kartu kredit dari dompet dan memberikan pada kasir tersebut, wanita itu menggesek kartunya lalu mengernyitkan dahi. "Maaf, Mas. Kartu ini sudah tidak berlaku, apa ada kartu yang lain?"
"Hah! Kok bisa, sih!" ucapnya seraya memberikan kartu yang lain. "Coba ini, Mbak."
Lagi-lagi, kasir itu mengernyitkan dahi setelah menggesek kartu yang diberikan Rangga.
"Maaf, Mas, ini juga nggak bisa."
"Hah! Serius!" Rangga tampak bingung. Pria itu segera mencari sisa uang di dompetnya dan memberikan pada kasir itu. "Apa ini cukup, Mbak?"
"Sebentar, saya hitung dulu ... semua 160 ribu, ini kembali sepuluh ribu, Mas," ujar kasir itu dengan senyum yang dipaksakan.
Rangga keluar dari apotek itu dengan wajah kesal, ia duduk di sebuah kursi dan mengobati lukanya. Pria itu tahu ini ulah siapa. “Pasti ini ulah, Kakek!” gerutunya.
Ia segera bergegas pulang ke rumah, untuk menemui Hasan sang kakek. Sesampainya di rumah, Rangga langsung masuk ke kamar Hasan dengan paksa.
"Maksud Kakek apa seperti ini! Kenapa Kakek mencabut semua kartu kreditku!" bentak pria itu tanpa rasa sopan sama sekali.
"Lihatlah kelakuanmu itu, apa kamu benar-benar cucuku? Kenapa kerjamu hanya membuang uang saja, apa kamu tidak bisa membantu Kakek di perusahaan. Kakek ini sudah tua, Rangga," jelas pria tua itu.
"Kakek masih punya cucu yang lain, dia kebanggaan Kakek, bukan!" bentaknya lagi.
"Rangga, kamu juga cucu Kakek."
"Achhh! Percuma ngomong sama Kakek. Kalau itu mau Kakek, aku juga akan melakukan apa yang aku inginkan!" ucap pria itu dan keluar dari ruangan tersebut.
"Maksud kamu apa, Rangga? Tunggu, uhuk,uhuk,uhuk."
"Ketua, Anda tidak boleh gegabah, tenang dulu. Biar saya yang mengurusnya, minumlah ini," ujar Budi seraya memberikan segelas air untuk Hasan.