Woojin berhasil membujuk orang tua Yeonsoo agar ia bisa tinggal bersamanya dengan alasan ia akan menjadi guru privat gadis itu. Sebentar lagi Yeonsoo akan menghadapi ujian nasional. Karena itu alasan Woojin bisa membantunya untuk tinggal lebih lama dengan Yeonsoo.
"Kak Yebin, apa Park Woojin sepandai itu? Untuk menjadi guru privat seorang jenius sepertiku, ia harus menjadi lebih jenius dariku." ucap Yeonsoo ragu.
"Entahlah," Yebin melepaskan kacamatanya, "Tapi setahuku saat SMA ia adalah siswa peraih peringkat pertama umum di sekolahku. Aku tak tahu bagaimana prosesnya hingga ia berubah bodoh seperti sekarang ini."
"Bodoh?"
"Hm! Menjatuhkan cinta pertamanya pada seorang gadis bermuka dua. Lalu menjatuhkan cinta keduanya pada seorang gadis yang sangat fanatik dengan hal-hal berbau gay. Itu bodoh sekali bukan?" cibir Yebin.
"Sebodoh dirimu yang jatuh cinta pada pria aseksual?" balas Yeonsoo.
"Bagaimana ... Bagaimana ... Bagaimana ...," Yebin membuka tutup mulutnya. Darimana Yeonsoo bisa tahu? Bahkan Woojin saja tak tahu tentang orientasi seksual Jaehoon.
"Jangan meremehkanku. Aku pernah melihat Kak Jaehoon diputuskan karena ia hanya bisa berciuman saja tapi tidak pernah mau berhubungan intim dengan kekasihnya walau wanita itu memohon-mohon. Belum lagi, kau pernah menanyakan padaku bagaimana cara membuat seorang aseksual kembali normal. Setahuku, kau bukan orang yang bisa tertarik pada hal-hal seperti itu kecuali kau mengalaminya sendiri. Kau tak mungkin seorang aseksual karena kau mencintai Kak Jaehoon, jadi aku menarik kesimpulan Kak Jaehoon yang aseksual." jelas Yeonsoo panjang lebar.
"Hebat! Setelah lulus, kau ambil jurusan psikologi saja!" ucap Yebin, terkagum-kagum dengan adiknya.
"Bodoh, hanya analisa seperti itu saja kau bilang aku bisa menjadi psikolog? Lagipula aku bisa tahu karena aku mengenalmu." tolak Yeonsoo.
Setelah lulus nanti, Yeonsoo ingin mengambil jurusan yang ada sangkut pautnya dengan bisnis. Yebin ingin menjadi seorang dokter. Jika nanti terjadi sesuatu pada ayahnya, Yebin mungkin akan kembali mengorbankan impiannya dan meneruskan perusahaan keluarga mereka. Yeonsoo tak ingin itu terjadi. Karena itu baginya yang memang tidak memiliki impian apapun, akan lebih baik jika ia saja yang mengambil peran itu.
Ceklek ...
"Aku pulang!"
Woojin menghampiri Yebin dan Yeonsoo. Ia menggeleng-geleng kala melihat Yebin masih sibuk dengan laptopnya.
"Seharusnya jika kau sedang tidak bisa memasak makan malam, beritahu aku. Aku akan pulang lebih cepat." cibir Woojin.
"Sebenarnya aku bisa saja memasak makan malam. Tapi sepertinya seseorang sedang merindukan masakanmu. Ia bahkan makan dengan tidak lahap belakangan ini." sindir Yebin.
"Tidak! Aku tidak merindukan masakannya!" elak Yeonsoo.
"Siapa yang mengatakan itu kau? Aku yang merindukan masakannya. Ah? Apa kau juga? Astaga tidak perlu malu-malu begitu." goda Yebin.
"Sudah-sudah, jangan menggodanya," Woojin terkekeh, "Untuk gadis-gadis yang merindukan masakanku, akan kubuatkan kalian sesuatu yang spesial." ia melangkah ke dapur.
"Kumohon jangan terlalu lama," Yebin tersenyum menggoda, "Nanti orang itu tak bisa lagi menahan rasa rindunya."
"Kak Yebin!"
***
Yeonsoo terbangun kala merasakan ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Masih dengan rambut singanya, ia pun membuka pintu kamarnya itu.
Ceklek ...
Matanya membelalak saat mengetahui itu Woojin. Ia berniat menutup kembali pintu kamarnya tapi terlambat. Woojin sudah masuk ke kamarnya.
"Ah, akhirnya kau membuka pintumu!" Woojin langsung melangkah menuju ranjang dan merebahkan diri di atasnya.
"Kak Woojin, mengapa kau disini? Sana kembali ke kamarmu!" usir Yeonsoo sambil berkacak pinggang.
"Bukannya sudah kukatakan padamu? Kita tak bisa bermesraan di depan Yebin. Jadi ...," Woojin menarik Yeonsoo dalam satu sentakan hingga gadis itu ikut berbaring di sebelahnya. Woojin pun memeluk gadis itu seperti guling. Memenjarakan Yeonsoo dengan kaki dan tangannya, "Aku akan mengambil kesempatan saat ia tidur."
Yeonsoo menghela nafas. Seharusnya ia tak membuka pintu tadi.
"Kak, aku tak bisa bernafas!" gerutu Yeonsoo kala Woojin semakin erat memeluknya.
"Dengan suasana seperti ini ... Kita seperti adik dan kakak yang diam-diam menjalin hubungan terlarang di belakang ibu kita ya?" kekeh Woojin.
"Cih! Kau memiliki fetis yang aneh," cibir Yeonsoo, "Kak Woojin, lepaskan aku! Kembali ke kamarmu sana!"
Yeonsoo mulai risih saat Woojin menciumi tengkuknya. Ia memang sudah biasa berada di situasi seperti ini bersama Woojin. Tapi ...
"Kita berdua di dalam sebuah kamar. Aku adalah pria dewasa dan kau juga wanita dewasa. Lagipula bukankah situasinya juga sinkron?" goda Woojin.
"Aku tahu kau takkan berani melakukan itu." ucap Yeonsoo menantang Woojin.
"Oh ya? Kata siapa?"
"Kataku. Kau takkan berani melakukan hal itu karena kau mencintaiku. Kau takkan merusakku. Iya kan?"
Karena pelukan Woojin melonggar, Yeonsoo bangun dan mengecup bibir Woojin sekilas. Ia tersenyum.
"Nah, sekarang kembalilah ke kamarmu sebelum Kak Yebin menemukan kita berduaan begini dan membunuhmu."
Wajah Woojin memerah. Bahkan merahnya sudah menandingi warna selimut Yeonsoo. Pria itu bangun seperti robot dan melangkah keluar tanpa menoleh pada Yeonsoo.
Yeonsoo segera mengunci pintunya. Ia bersender di pintu sambil memegangi bibirnya.
"Astaga! Apa yang kulakukan tadi?!"
***
Pagi itu, semua perhatian murid-murid yang baru datang tertuju pada seorang pria tampan yang menunggu di depan gerbang SMA mereka. Ok baiklah, pria tampan cenderung cantik. Dia adalah Han Gyoseok.
Gyoseok sudah biasa dengan pandangan kagum orang-orang di sekitarnya. Ia tahu ia itu tampan. Jadi ia hanya bisa mengabaikan tatapan orang-orang itu dan menunggu dengan sabar.
"Kang Yeonsoo!" akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.
Yeonsoo menoleh dan menatap Gyoseok heran. Untuk apa pria itu ada di depan sekolahnya? Ingin balas dendam kah? Yeonsoo teringat dengan janjinya pada Woojin untuk berlari secepat yang ia bisa bila bertemu dengan Gyoseok. Yeonsoo menyiapkan ancang-ancang untuk berlari. Gyoseok pun melangkah dengan cepat untuk menghampirinya.
"Wuoo! Wuoo mengapa kau kemari!" Yeonsoo membelalak ngeri saat melihat ekspresi Gyoseok berubah menyeramkan.
Sepertinya ia memang harus kabur. Tak peduli dengan dirinya yang mulai menjadi pusat perhatian, Yeonsoo mulai membalikkan tubuhnya dan berlari sekuat tenaga menjauhi Gyoseok.
"Hei berhenti kau!" seru Gyoseok.
"Tidak mau!" balas Yeonsoo.
Yeonsoo berlari masuk ke dalam gedung sekolahnya. Berharap Gyoseok takkan mengikutinya. Tapi percuma saja. Pria itu malah semakin mempercepat larinya untuk mengejar Yeonsoo.
"Hei Kang Yeonsoo! Biarkan aku bicara padamu!"
"Tidak mau! Aku mana tahu yang berbicara itu bibirmu atau tinjumu!"
Yeonsoo berlari ke kelas Minkyu, berharap sahabatnya itu ada di sana. Sayangnya tak ada tanda-tanda keberadaan Minkyu disana. Tasnya saja tak ada.
"Sial!"
Yeonsoo kembali berlari. Gyoseok masih mengikuti. Kali ini ia berlari ke kelas Jungmyeong. Ternyata sama dengan Minkyu, pemuda itu juga tak ada di kelasnya.
'Astaga seharusnya aku tahu kalau Minkyu tidak ada berarti senior Jungmyeong juga, dua orang itu ke toilet saja selalu berdua.' batin Yeonsoo.
Karena lelah berlari, Yeonsoo berhenti dan berbalik arah ke arah Gyoseok. Ia punya rencana baru. Gyoseok ikut berhenti.
"Mengapa kau membuatnya menjadi sulit!" keluh Gyoseok.
Tiba-tiba Yeonsoo berlari ke arah Gyoseok. Pria itu hampir saja menangkapnya tapi Yeonsoo berhasil menghindar dan berlari melewati pria itu.
"Hei Kang Yeonsoo!"
Aksi kejar-kejaran pun kembali terjadi. Untung saja ini masih sangat pagi dan koridor masih sepi. Yeonsoo berlari masuk ke dalam UKS dan untung saja sesuai perkiraannya, Guru Nam ada disana.
"Guru!" Yeonsoo segera bersembunyi di belakang Guru Nam.
Guru Nam tentu saja terkejut melihat tingkah Yeonsoo. Ia semakin terkejut kala melihat seseorang ikut masuk ke dalam UKS.
"Ada apa ini?" tanya Guru Nam.
"Orang aneh itu mengejarku!" adu Yeonsoo.
Gyoseok kehabisan nafas. Ia jadi meragukan kalau Yeonsoo itu wanita. Larinya cepat sekali!
"Itu karena kau berlari!"
"Tentu saja aku berlari! Aku masih sayang nyawaku. Lagipula kau orang yang dibenci Kak Woojin. Aku harus berhati-hati padamu!" seru Yeonsoo.
"Aku takkan melakukan apapun padamu. Wahai gadis aneh, aku datang dengan damai. Aku hanya ingin bicara!"
Guru Nam tak tahu apa yang terjadi di antara kedua orang ini. Ia juga tak tahu mengapa ia tiba-tiba dilibatkan di sini.
"Baiklah, kalau kau hanya ingin bicara. Kita bicara di sini saja untuk berjaga-jaga kau takkan melakukan apapun padaku." ucap Yeonsoo.
"A-aku ingin ke ruang guru. Silahkan bicara sepuas kalian."
Yeonsoo menahan tangan Guru Nam. Matanya berkaca-kaca.
"Guru Nam, tetaplah di sini. Orang ini memiliki dendam padaku. Jika ia melakukan sesuatu, setidaknya aku memiliki orang untuk menyampaikan warisanku pada Kak Yebin." pinta Yeonsoo dengan nada memelas.
"Memangnya kau punya warisan?"
"Tidak. Karena itu aku tidak ingin mati terbunuh di sini sebelum aku memiliki warisan! Ayolah bantu aku kali ini saja, Guru!"
Guru Nam mengusap wajahnya kasar. Pandangannya beralih pada pria asing yang dihindari oleh Yeonsoo. Padahal Guru Nam datang ke UKS hanya untuk tidur sebentar. Siapa sangka akan ada kejadian seperti ini.
"Baiklah." ucapnya pasrah.
******
Makassar, 21 Oktober 2016