Kota Bandung di saat fajar naik tahta adalah tentang bagaimana ramainya kanan kiri bangunan di pinggir jalan, lalu dilengkapi aspirasi pengguna jalan hingga tercipta kidung alami perbuatan manusia tiap-tiap harinya. Adinata Saffana suka aroma masakan para penjual makanan, tapi tidak pernah satu kalipun Nata menjadi pembeli karena berangkat menuntut ilmu saja hanya bermodal diri dan perkakas kuliah.
"Aduh buyung mengapa lupa padaku, asekkk! Nananananana ... nyenyenyenye!" Bersenandung seperti ini bukan hal yang bikin Nata terlihat memalukan, bahkan dengan percaya diri gadis itu menikmati lagu guna mengalihkan rasa lelah dari perjalanan yang memakan jarak dua kilometer dari rumah. Nata juga tidak mempermasalahkan hal berat tersebut, lagian hidup adalah tentang perjalanan, selama kedua kakinya mampu, maka apa yang tidak bisa ia lakukan? Jalan kaki doang, itu mah bukan apa-apa, motonya.
Sebuah mobil putih yang terparkir di pinggir jalan, mengundang keinginan Nata untuk berkaca di pintu kanannya. Ia tidak tahu kalau ada pemilik mobil yang mengalami masalah di dalam sana, dan sang pemilik yang menyadari kehadiran Nata mencoba angkat tangan dengan lemah untuk meminta kepekaan orang di luar. Napasnya mencekik, kepalanya terasa berat, ia tidak kuasa berbicara dengan jangka napas pendek yang menyiksa itu.
Namun, seterusnya wanita paruh baya itu mencoba untuk bergerak hingga telapak tangannya tercetak jelas di kaca. "Panu!" Lantaran tidak sadar di awal, Nata terkesiap hingga mudur beberapa langkah. Kemudian ia mengerutkan kening karena tangan yang muncul itu memberi syarat SOS —semula kode lima jari, lalubempat jari, kemudian disusul kepalan tangan.
"Weh, weh! Kekerasan rumah tangga kah?" Nata maju, lalu membuka pintu dan berkata lagi, "Siapa yang menyiksa, tangan kosong sini kalo beraneee!" Dan ia menggulung kain lengan panjangnya seakan mengajak berkelahi, menitikfokuskan pandangan ke area lain tanpa menyadari sang wanita yang sedari tadi panik mencoba meminta bantuannya.
"Eh, Ibu? Kenapa, Bu?" Beri tepuk tangan, Nata baru sadar sekarang kalau ada orang yang minta bantuannya. "Ibu mau meninggal ya? Yah, jangan, Bu!" Serta dengan kurang ajarnya Nata sepertinya minta ditempeleng saat itu juga.
"Ibu asma?" Sedari tadi hanya Nata yang berbicara, dan ia baru sadar kalau wanita tersebut sedang memerlukan bantuannya. Tanpa minta izin, Nata menutup pintu mobil dan berlari ke arah sisi lain untuk masuk ke dalam (pintu kiri), lalu ia pelan-pelan meminta wanita tersebut berbaring di pangkuannya.
Kalau Bandung identik dengan julukan Paris Van Java, maka Adinata identik dengan julukan juragan inhaler, obat semprot yang jadi temannya sejak SD. "Ibu tarik napas pelan-pelan, jangan panik, ada Nata di sini. Tarik lewat mulut aja, Bu. Karena enggak bisa kita tarik uang dengan isi ATM kosong." Sambil bercanda, sebenarnya itu adalah trik supaya Nata bisa tenang. Soalnya ia takut kalau orang ini meninggal, tolong, bisa-bisanya pikiran seperti itu hadir di otaknya sekarang.
"Izin ya, Bu." Ujung alat yang ia genggam perlahan dicocokkan ke mulut sang penderita asma. "Pelan-pelan aja, Ibu. Kita enggak lagi dikejar anjing," katanya setelah menyemprotkan isi obat pertama pada wanita tersebut.
Ada enam kali semprot sudah di setiap satu menitnya, dan keadaan wanita tersebut perlahan membaik dengan dirinya yang telah mampu menggerakkan tangan seperti biasa. Ia menggenggam tangan Nata, seakan memberi tanda kalau keadaan telah membaik dan ia bisa bangkit untuk duduk kembali.
"Biar aja dulu sama Ibu, siapa tau masih tertinggal gejalanya. Kayak kenangan sama mantan," ujar Nata.
Wanita tersebut sedikit tersenyum, lalu ia melepas benda yang ada di mulut dan berkata, "Kamu sedari tadi bercanda terus, saya mau ketawa tapi lagi sesak napas."
"Iya Nata juga panik, Bu. Soalnya baru nemu juga orang yang punya asma kayak Nata," sahut Nata, "Ini mending Ibu jangan sendiri, telpon anak Ibu atau siapa gitu," sarannya.
"Anak saya sibuk, mana mungkin dia datang ke sini. Saya bisa panggil bawahan saya aja."
"Wah, durhaka kayak malin kundang, kutuk aja jadi kutil."
"Kamu ini mulutnya kenapa lemes banget?"
"Iya habis ... ASTAGFIRULLAHALAZIM! Bu! Astaghfirullah! Telat kuliah ini Nata, Bu. Izin pamit, tolong itu kalau terasa kumat semprot lagi dalam mulut! Maaf Ibu, dosennya killer walau Nata datang bawa segunung emas pun enggak akan bisa meluluhkan hati beliau!" Nata keluar, lalu memberi pesan singkat dari jendela kaca yang dibuka oleh sang pemilik mobil.
"Nama lengkap kamu siapa?" tanya beliau.
"Adinata Saffana! Anak Bapak Usman yang terhormat, terhebat, terkeren, terter deh, Bu!" Teriakan itu terjadi selama ia melangkah mundur dengan cepat, dan entah kenapa, wanita yang merasa tertolong menyukai tingkah kekanakan yang mengasyikkan itu.
***
"Warisan enggak akan saya kasih serah kalau kamu belum menikah."
Pria itu menghela napas, mencoba tenang meski kepalan tangan ingin ia layangkan pada siapa pun di sekitarnya. Ucapan sang ibu yang membebani sejak bertahun-tahun lamanya lagi-lagi terucap detik ini, tentang bagaimana ia yang tidak sabar jadi pewaris harta keluarga, dan tentang bagaimana persyaratan yang diminta oleh si pemberi warisan.
"Saya enggak mau menikah kalau enggak sama Renia," katanya.
"Dan saya enggak setuju kamu sama Renia, dia itu cuma mandang status dan harta kamu. Kalau nanti kamu mendadak miskin, saya yakin dia bakal ninggalin kamu, Ankara."
Selalu kalimat berbobot merendahkan, Ankara tidak mengerti lagi kenapa ibunya sebegitu yakin kalau Renia bukanlah pilihan yang baik. Padahal gadis itu adalah sosok yang luar biasa karena rela tidak menikah sampai usia menginjak tiga puluhan lebih demi dirinya, dan karena itu Ankara jadi merasa sangat bersalah pada sang kekasih tercinta.
"Kenapa Bunda bilang kalau saya bakal mendadak miskin di saat tahu sendiri harta kita enggak bisa habis meski buat membeli provinsi Bandung sekali pun?" tanya Ankara.
"Ngawur kamu ya, An! Intinya saya enggak mau kalau orangnya Renia. Kamu cuma boleh menikah sama yang namanya Adinata Saffana!" balas Zeanika, Ibu dari Ankara yang merupakan wanita berhutang budi kepada Nata. Ia sampai mencatat betul-betul nama Adinata supaya bisa disebut begini pada anaknya. "Saya udah nemu orang yang pas, dan saya suka dia," katanya lagi.
Ankara tidak paham orang yang dimaksud, ia juga sedikit kaget karena sang ibu menyebutkan nama seseorang setelah sekian lama selalu menolak nama Renia. "Siapa itu? Saya enggak kenal," ujarnya.
"Itu urusan kamu, saya enggak mau tau."
Ankara tiba-tiba ingin hidup di planet lain saja daripada harus keliling seprovinsi Bandung untuk mencari gadis yang bernama Adinata Saffana.