"Ada luka yang tak mengeluarkan darah, tapi mampu membuat seseorang kehilangan arah."
Sejak hari itu, Ratna belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun, yaitu bagaimana caranya menjaga jarak dari orang yang seharusnya menjadi tempat pulang. Orang yang selalu dia sayangi tapi kenyatannya tidak pernah menyayanginya kembali.
Kini, Ratna tidak lagi memanggil “ibu” dengan nada lembut. Tidak ada lagi pelukan hangat. Tidak juga percakapan panjang saat malam menjelang. Ratna bukan sedang membenci. Dia hanya sedang bertahan. Menjaga agar tidak ada lagi luka yang menganga di tempat yang sama.
Dan untuk bertahan, dia harus diam.
Sejak kejadian itu, Ratna tidak pernah lagi dekat dengan sang ibu. Dia juga tidak pernah lagi membicarakan hal apapun dengan sang ibu, terkecuali sang ibu yang memulai mengajaknya bicara lebih dulu. Ratna telah berubah menjadi gadis yang lebih banyak diam dan menghindari interaksi berlebih dengan siapapun, termasuk keluarganya sendiri.
Ratna terus menyimpan perasaannya seorang diri, tanpa mengharapkan adanya pengertian dan perhatian dari orang lain.
Ratna hanya ingin menjaga hati dan dirinya agar tidak kembali terluka. Sebab menyembuhkan diri seorang diri bukanlah perkara mudah. Bahkan ketika akhirnya berhasil, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Dan, Ratna tidak termasuk orang yang beruntung dengan mendapatkan pendampingan dari orang lain. Dia harus survive seorang diri untuk mencapai kewarasan diri yang berada di tingkatan aman. Dengan besar hati, Ratna melewati masa-masa sulit tersebut sendirian dan dia pun berhasil. Setidaknya, sampai sejauh ini dia tidak pernah berfikir untuk melukai dirinya sendiri.
Memang benar, Ibu adalah segalanya bagi anak. Tapi, hal itu tidak berlaku untuk Ratna. Pada kenyatannya, Ratna tumbuh menjadi gadis pendiam, tidak banyak bicara, dan akan cenderung menjauhi keramaian. Ratna tidak suka bergaul dengan orang banyak, dan itu terbukti dengan tidak banyaknya teman yang Ratna miliki. Yang Ratna pikirkan saat ini hanyalah ketentraman hati dan pikirannya, agar tidak ada orang yang berani menyakitinya lagi. Baik itu secara mental, ataupun fisiknya.
Terlebih jika luka tersebut di dapat dari orang terdekat, beban mental yang di dapat pun akan semakin besar. Jadi, Ratna harus pandai menyesuaikan diri untuk menghindari kejadian serupa beberapa tahun silam.
***
Berbeda dengan Ratna, Farah justru tidak memiliki beban mental yang berarti. Dia cukup bahagia menjalani peran sebagai seorang anak bungsu dari sebuah keluarga Cemara.
Ya, setidaknya Cemara dalam sudut pandangnya sendiri.
"Kak, liburan besok kita nginep di villa aja ya, aku udah bilang ayah dan ibu. Mereka setuju loh kak. Malah aku mau ngajak Hanin dan Friska juga. Kakak juga pasti setuju kan?" Tanya Farah kepada Ratna di sela makan siang keluarga yang sedang mereka lakukan.
Ya, memang sesantai itu Farah untuk mengungkapkan keinginan di hatinya. Tidak ada beban apapun dan sudah dapat di pastikan keinginan tersebut akan selalu terwujud.
"Ya pokoknya kakak harus setuju. Aku gak mau terima penolakan. Nanti kita disana seneng seneng ya kak." Sambung Farah, tanpa memberikan kesempatan Ratna untuk menjawab perkataannya.
Sangat membahagiakan sekali bukan menjadi sosok Farah? Dia hanya perlu berucap sembarang dan semua orang akan patuh padanya dengan sendirinya. Seperti sebuah hukum alam yang sudah pasti terjadi.
"Oh iya ayah, nanti aku mau ajak Hanin sama Friska berenang di kolam yang belakang villa, sambil bawa ban renang. Nanti ayah suruh pak Angga buat siapin bannya ya ayah. Kolamnya juga bilangin suruh bersihin ayah, biasanya kalo kita lama gak kesana kan suka ada daun dan rantingnya. Nanti kena kulit aku terus luka lagi ya ayah, iya kan ayah?" Ucap Farah panjang lebar kepada pak Mahfud dengan tawanya yang ceria.
Tidak ada kata segan dalam diri Farah. Yang dia tau hanyalah apa yang dia ucapkan akan di penuhi oleh semua keluarganya tanpa perlu memikirkan perasaan kakaknya. Padahal dia tahu, kalau sang kakak ingin berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya, tetapi dia sama sekali tidak peduli.
"Iya sayang boleh, whatever you want. Ayah pasti akan mengabulkan. Nanti biar ayah suruh pak Angga buat nyiapin semua keperluan kita selama berlibur di sana ya." Ucap Pak Mahfud, Ayahnya Ratna dan Farah, dengan tatapan hangat yang mengarah ke kedua putrinya tersebut.
Selalu seperti itu jika Farah yang meminta. Mahfud akan dengan mudahnya mengabulkan keinginan sang anak bungsu. Dia pun tidak bertanya pada anaknya yang lain, apakah Ratna akan setuju? Ataukah dia memiliki keinginan tersendiri? Mahfud tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Farah seorang.
"Horee, aku seneng banget deh ayah, terimakasih ya ayah. Ayah aku memang yang terbaik." Ucap Farah dengan girang sambil kembali menyantap makanan yang masih tersisa di piringnya.
Dia pun bersorak untuk menunjukan kebahagiaannya saat ini. Farah merasa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudahnya. Tanpa harus repot-repot mengerjakan ini dan itu seperti kakaknya.
"Iya sayang, udah sekarang lanjutin dulu makan siangnya. Ayah pasti akan ngabulin keinginan kamu." Ucap Ningsih yang sedari tadi tidak banyak mengomentari percakapan sang anak bungsu dengan suaminya.
Sedangkan Mahfud hanya menampilkan senyumnya sambil mengangguk ke arah Farah. Dan mereka pun melanjutkan acara makan siang keluarga dengan penuh suka cita. Dan, tidak sekalipun di antara Mahfud ataupun Ningsih yang bertanya kepada Ratna apakah dia setuju dengan usulan dari sang adik untuk mengunjungi villa mereka liburan sekolah nanti?
Bagaimana dengan Ratna? Dia hanya bisa terdiam. Dia tidak menanggapi ucapan Farah yang panjang lebar dan cenderung memerintah itu. Pemandangan seperti ini sudah sangat sering tersaji di depan mata Ratna. Dia tidak pernah di berikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapat. Dia selalu di paksa untuk menerima segala perlakuan orang lain tanpa bisa membalas sedikit pun.
Hati Ratna sungguh sakit. Tapi, dia tidak bisa berbuat banyak. Sesungguhnya Ratna sudah tidak kuat tinggal di rumah ini. Ratna bertekad akan sekolah dengan benar, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi, dan kemudian bekerja agar bisa mendapatkan uang banyak. Ratna ingin hidup tenang tanpa ada orang lain yang mendikte dirinya untuk menjadi begini ataupun begitu. Ratna sangat ingin berdikari di atas kakinya sendiri sehingga tidak ada satupun orang yang akan merendahkannya lagi.
Sudah bertahun-tahun lamanya Ratna memendam perasaan yang tidak mengenakkan pada keluarganya. Perasaan benci yang semula dia halau sekuat tenaga, kini seolah mendesak untuk di keluarkan. Sesak yang dia rasakan setiap waktu melihat keakraban adik dan orangtuanya, kini sudah memberontak dan menuntut perlakuan yang sama dari kedua orangtuanya.
Sejauh ini, apakah Ratna masih mampu mempertahankan kewarasannya? Atau perlahan berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak lagi ia kenali?
***
Ritual makan siang bersama keluarga yang terjadi di siang itu pun selesai. Mahfud bergegas kembali menuju tempat usahanya mencari rezeki. Sebuah toko meubel yang menjual kerajinan rumah tangga dari bahan kayu. Toko tersebut merupakan warisan dari kedua orangtuanya yang sudah lama meninggal.
Sedangkan Farah segera naik ke lantai atas menuju kamar tidurnya. Rasa kenyang setelah menyantap makan siang pun membawa perasaan lain yang membuatnya ingin memejamkan mata barang sebentar saja. Begitu sampai di atas kasurnya yang nyaman, Farah pun langsung saja tidak mengingat apapun lagi. Dengkuran halus pun terdengar dari bibir tipisnya yang sedikit terbuka.
Lalu bagaimana dengan Ratna?
Tidak perlu di tanya, sudah pasti Ratna yang akan membereskan bekas makan siang Mereka sekeluarga. Dengan di mandori oleh sang ibu, Ratna pun cekatan menumpuk piring-piring kotor, Gelas dan sendok yang berserakan di atas meja makan. Setelahnya, dia membawa tumpukan tersebut ke wastafel cuci piring. Tak berselang lama, Ratna segera mencuci satu persatu piring, gelas, dan sendok yang tadi dia bawa untuk di gunakan lagi nanti jika di butuhkan.
Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu. Dan, sejauh ini Ratna pun terbiasa menjalani perannya sebagai "pembantu gratisan" di rumah orang tuanya sendiri. Asalkan tidak ada caci maki ataupun pukulan yang mendarat di tubuhnya dia merasa semuanya akan baik-baik saja.
Dan, itulah sekilas kisah tentang Ratna, gadis kecil yang tumbuh bukan dengan cinta, tapi dengan luka-luka yang perlahan dia jahit sendiri.
Entah kebahagiaan seperti apa yang sudah menanti Ratna di masa depan. Namun dia berharap, agar penderitaan yang dia alami tidak akan menurun hingga anak dan cucunya kelak. Cukup dirinya yang mengalami segala hal tidak mengenakkan ini. Dia bertekad akan menghentikan penderitaan itu sampai di dirinya saja. Apakah dia berhasil?
Malam harinya, rumah itu kembali sunyi.
Ratna duduk di meja belajarnya yang sederhana. Buku-buku pelajaran terbuka di hadapannya, tetapi pandangannya justru kosong menatap dinding kamar. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, sesekali terdengar suara tawa Farah yang sedang melakukan panggilan video bersama kedua sahabatnya. Tawa itu begitu lepas, seolah tidak pernah ada beban sedikit pun yang mengganggu pikirannya.
Ratna menarik napas panjang, lalu kembali menundukkan kepala. Tangannya meraih pensil dan mulai mengerjakan soal-soal matematika yang akan dikumpulkan esok hari.
Belum sampai lima menit, suara Ningsih terdengar dari luar kamar.
"Ratna!"
"Iya, Bu."
"Tolong ambilin minum buat adikmu. Dia lagi di kamar."
Ratna meletakkan pensilnya tanpa membantah. Dia berjalan menuju dapur, menuangkan segelas air dingin, lalu mengantarkannya ke kamar Farah.
Pintu kamar terbuka.
Farah bahkan tidak menoleh. Gadis itu masih asyik tertawa di depan layar ponselnya.
"Kak, taruh aja di meja ya. Makasih."
Hanya itu.
Tidak ada tatapan, tidak ada senyum, apalagi rasa sungkan karena telah mengganggu waktu belajar kakaknya.
Ratna mengangguk pelan, meski ucapan itu bahkan mungkin tidak di dengar siapa pun. Setelah meletakkan gelas, dia kembali ke kamarnya dan melanjutkan belajar seolah tidak terjadi apa-apa.
Ratna baru saja hendak menutup pintu kamar Farah ketika suara Ningsih kembali terdengar dari lantai bawah.
"Ratna, kalau sudah selesai jangan lupa cuci gelas adikmu ya. Terus lipetin juga baju yang tadi Ibu jemur."
"Iya, Bu."
Jawaban itu keluar begitu saja, tanpa nada kesal ataupun keberatan. Ratna menuruni anak tangga perlahan. Sesampainya di dapur, ia memandangi gelas yang baru saja digunakan Farah. Masih ada bekas sidik jari kecil di permukaannya. Ratna mencucinya hingga bersih, lalu meletakkannya kembali di rak.
Belum sempat ia kembali ke kamar, matanya menangkap keranjang berisi pakaian yang sudah kering. Tanpa diminta untuk kedua kalinya, ia membawa keranjang itu ke ruang keluarga dan mulai melipat satu per satu.
Kaos milik ayah.
Blus milik ibu.
Gaun kesayangan Farah.
Terakhir, seragam sekolah miliknya sendiri.
Ratna tersenyum tipis melihat seragam itu. Besok pagi ia akan mengenakannya lagi. Setidaknya, sekolah menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa menghabiskan waktu jauh dari rumah, meski tidak pernah benar-benar merasa memiliki siapa pun di sana.
Setelah semua pakaian selesai dilipat dan disusun rapi, Ratna mengembuskan napas pelan. Hari itu belum benar-benar berakhir, tetapi tubuhnya sudah terasa jauh lebih lelah daripada biasanya.
Beginilah kehidupan Ratna setiap hari.
Ketika Farah membutuhkan sesuatu, Ratna harus menghentikan apa pun yang sedang dikerjakannya. Tidak ada yang pernah bertanya apakah Ratna sedang sibuk, lelah, atau sekadar ingin beristirahat. Perlahan, Ratna mulai terbiasa. Bukan karena dia menikmati semua perlakuan itu. Melainkan karena dia sadar, menolak hanya akan membuat suasana menjadi lebih buruk.
Kadang seseorang memilih diam bukan karena lemah. Melainkan karena sudah terlalu lelah untuk terus memperjuangkan hal-hal yang sejak awal tidak pernah di anggap penting oleh siapa pun.
Ratna pun kembali membuka bukunya. Di dalam hati, dia hanya memiliki satu doa yang selalu dia ulang setiap malam.
"Ya Allah... suatu hari nanti, izinkan aku memiliki tempat yang benar-benar bisa kupanggil rumah."
...
Bersambung...