Satu bulan setelah kejadian dimana Asha melihat dengan matanya tentang perselingkuhan Gama, kini hari-harinya diisi dengan sandiwara. Jika berada di depan Gama, maka Asha akan merasa menjadi wanita yang paling beruntung di seluruh dunia, Asha memainkan peran secantik mungkin agar Gama tidak menaruh rasa curiga jika Asha sudah mengetahui segalanya.
Gama 'pun sebaliknya, permainan acting 'nya harus diapresiasi karena terlihat sangat tulus dan sempurna, jika Asha tidak mengenal Gama sejak lama mungkin Asha masih bisa tertipu dengan segala acting Gama yang bersikap layaknya suami dan Papa siaga untuk keluarga kecilnya.
Seperti malam ini, lagi dan lagi Asha harus memainkan peran yang paling memuakan, namun semua ini harus Asha lakukan, Asha harus bersabar sedikit lagi.
"Sayang? Main yuk? Udah lama kangen sama kamu, kamu ketiduran terus kalau aku ajak main." Rengek Gama, wajahnya terlihat sedih namun menggemaskan. Jika saja Asha tidak mengetahui jika Gama-nya memiliki istri lain mungkin Asha akan mencium Gama dan dengan suka rela tunduk di bawah kukungannya.
"Hm? Aku lagi ada tamu, kamu tahu kan tanggal segini aku pasti ada tamu." Ucap Asha meyakinkan, dari semua hal yang tetap Asha lakukan dan perankan sebagai istri yang baik berjalan lancar kecuali hubungan badan, Asha bahkan enggan membayangkan jika selama ini ia harus berbagi atau mendapatkan bekasan dari wanita lain, menjijikan.
Gama dengan sengaja menyandarkan kepalanya pada belahan d**a Asha, malam ini nafsunya sungguh besar namun Asha malah kedatangan tamu bulanan, lalu Gama harus melakukannya sendiri? Menyebalkan sekali pikir Gama.
"Mmmmm kangen sayang.."
Asha hanya bisa tersenyum tipis dengan tangan yang setia mengelus surai Gama, setidaknya hanya ini yang bisa Asha lakukan untuk meredam keinginan suaminya, walaupun Asha melakukannya setengah hati.
"Sayang bobo aja ya? Sakit nggak perutnya?" Gama menyingkap baju tidur Asha namun segera ditepis pelan, "Kenapa sayang? Kenapa aku nggak boleh cium dan pegang perut kamu?" Heran Gama, padahal sejak Asha mengalami mens pertama pasti Gama akan setia mengelus perutnya hingga Asha tertidur.
"Eh? Gapapa, aku nggak sakit perut kok." Gugupnya, dengan cepat Asha membaringkan tubuhnya dan memeluk Gama erat, berhasil, Gama ikut memeluk Asha dengan erat dan menenggelamkan wajahnya pada cekuk leher Asha.
--
"Sayang, aku pengen, nggak tahan lagi. Kamu bisa kan puasin aku walaupun jauh?"
"Bisa Mas, sebentar aku lepas pakaian dulu."
Gama dengan gerakan tergesa mencari posisi paling nyaman, setelah dirasa nyaman mereka berdua mulai melancarkan aksinya untuk mencapai kepuasan bersama.
Tanpa peduli jika ada yang mendengar desahan menjijikan mereka dengan tatapan datar.
"Gama, kamu sukses bikin aku hancur."
--
Next