Tubuh Zena menggeliat. Samar, terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap sesekali tertawa cekikikan.
Zena mengerjapkan matanya. Kernyitan di dahinya mendalam menyadari lampu yang teramat terang. Biasanya dia tidur dengan lampu mati.
mungkin semalam aku lupa mematikan- pikir Zena.
Zena berniat merubah posisi tidurnya saat dirasakan ada sesuatu yang menahannya. Sebuah tangan yang memeluk perutnya.
Badannya menegang. Dia mulai menyadari himpitan dari punggungnya bukan berasal dari bantal ataupun boneka, tetapi tubuh manusia.
Zena berdiam diri sebentar mengamati kamar yang dia pakai. Mengumpulkan kenangan sebelum tidur. Sekilas bayangan semalam mulai tergambar jelas.
Bodoh!
Dia memaki kecerobohannya sendiri. Memukul kepalanya bertubi-tubi.
Dengan sangat hati-hati, Zena mengangkat lengan Raka dari atas perutnya. Menuruni tempat tidur menuju kamar mandi.
Setelah membasuh wajahnya dan merapikan rambut hitam sebahunya, dia menyelinap menuju pintu kamar. Dengan berjinjit perlahan sambil sesekali mengecek sang pemilik kamar. Memastikan masih tertidur lelap.
Tangan Zena sudah mencapai gagang pintu. Perlahan tapi pasti dibukanya dengan pelan dengan pandangan tetap ke arah Raka.
"Astaga!"
Zena terkejut saat mendapati mamahnya dan Tante Wiwi berada di depan pintu kamar Raka. Dua orang yang sedang bercengkrama itu langsung membalikan tubuhnya menghadap Zena.
"Ma... ma-" suara tercekat Zena memecah keheningan sesaat yang tercipta.
"Ini gak kayak yang mamah sama tante pikirin kok. Kakak bisa jelasin..."
"Emangnya kamu tau apa yang mamah pikirin?"
Zena hanya bisa menunduk. Meskipun tidak terjadi hal-hal di luar batas, dia merasa bersalah. Sentuhan di pundak Zena membuat kepalanya berpaling. Raka memeluknya pundaknya dari belakang.
Zena hanya bisa menggerakan pundaknya berusaha menyingkirkan tangan Raka. Telanjang d**a, rambut berantakan, muka bantal, penampilan Raka sungguh memperkeruh suasana.
"Kalian berdua, Bunda tunggu di bawah!" Suara tegas Wiwi membuat gerakan menelan ludah terasa semakin sulit untuk Zena.
Mamah Zena dan Bunda Raka menuruni tangga menuju lantai dasar. Setelah menguatkan hati, Zena mulai melangkah.
Belum sampai dua langkah, tangannya di cekal. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Raka.
Tangan kekar Raka terulur untuk menghapus air mata Zena. Zena sedikit terkejut. Ternyata dia menangis tanpa sadar.
Perasaan bersalah benar-benar menggerogotinya. Bukannya berhenti, isakan tangis justru terdengar semakin keras.
Ditariknya perlahan tubuh Zena ke dalam dekapan Raka. Tangan Raka mengelus punggung Zena perlahan. Rasa bersalah sedikit mengusiknya. Dia tidak membayangkan akan berakhir dengan tangisan.
Zena menggerakan tangannya untuk memisahkan tubuh mereka.
"Sebaiknya kita segera turun..." Zena sedikit sesenggukan.
Raka mengangguk. Menggenggam tangan Zena kemudian melangkah menuju tangga.
Mama Zena dan bunda Raka duduk gelisah menunggu anaknya.
"Ehm!" Dehem Wiwi setelah Raka dan Zena duduk di hadapanya.
"Jujur Bunda kecewa dengan apa yang kalian lakukan..." Wiwi menghela napas panjang.
"Tapi karena sudah terjadi, ya mau bagaimana lagi. Kami memutuskan kalian harus menikah!"
"Tapi Tante, engga terjadi apapun diantara Zena dan Raka. Sungguh." Zena berusaha membela diri. Sedangkan Raka hanya diam.
"Ya kalo gak ada apa-apa, itu di leher kakak merah-merah apa? Gak usah bego-begoin mamah deh!"
Merah di leher? Maksud mamanya kissmark kan? Dikeluarkannya ponsel pintar untuk membuka aplikasi kamera.
What the hell!
Zena langsung menoleh ke arah Raka. Bangun tidur tadi, Zena memang tidak memperhatikan hal tersebut saking paniknya. Raka hanya mengedikan bahunya, nampak tidak terganggu sama sekali.
Kampret, dia gak ngebantu sama sekali!-batin Zena.
"Keputusan kami udah final. Kalian harus menikah secepatnya. Begitu Ayah kamu pulang, kita langsung adakan lamaran resmi. Masalah persiapan, biar Bunda sama Farah aja. Kalian cuma butuh duduk manis." Wiwi memberikan keputusan final.
"Tapi Tant-"
Zena mencegah Wiwi dan mamahnya yang akan meninggalkan ruangan. Sayangnya, lengannya dicekal Raka.
"Apa?!"
"Kamu tuh gak ngebantu sama sekali! Emangnya kamu mau kita nikah?" Sambung Zena.
"Mau"
Zena menganga mendengar jawaban Raka.
"Ya enggalah." Sambung Raka singkat. Datar.
"Ya kamu bantuin dong. Bilang ke bundamu. Ini tuh cuma salah paham. Lagian kan kita emang gak ngapa-ngapain."
Raka hanya mengangkat sebelah alisnya sambil memandang ke arah leher bagian bawah Zena-tempat kissmark. Zena yang tau ke arah mana pandangan Raka tertuju sontak melotot.
"Tunggu! Kamu udah ngapain aja?" Telunjuk Zena tepat di depan wajah Raka.
Zena membuka dua kancing teratas babydoll yang dikenakannya. Terkejut bukan main saat mendapati tanda merah di bagian atas d**a kirinya.
Dengan sekuat tenaga dipukulkan bantal sofa ke arah Raka bertubi-tubi. Raka hanya memundurkan tubuhnya untuk menghindar. Membiarkan Zena meluapkan perasaannya. Hitung-hitung ungkapan rasa bersalahnya.
Tak ada ruang untuk menghindar lagi saat punggungnya sudah rebah sempurna pada sofa. Emosi yang menguasai membuat Zena tak sadar posisinya berada si atas Raka.
Zena terus memukuli bantal yang ia letakan di atas wajahnya. Sesekali terdengah suara Raka mengaduh.
"Raka! Zena!"
Tangan Zena masih mengawang dengan wajah yang menengok ke samping. Posisi ini diperburuk dengan Raka yang bangkit dari posisinya membuat tubuh mereka menempel.
Raka melotot melihat pemandangan di depannya. Bukit kembar berwarna putih cerah yang kontras denga bra berwarna hitam berenda yang dipakai.
Belum lagi tanda berwarna merah, tentu saja buatannya, yang menurutnya menambah cantik. Tanpa sadar tangannya terulur untuk mengelusnya. Sedikit meremas.
"Raka!"
Teriakan ketiga perempuan yang ada di ruangan dibarengi dengan bunyi tamparan yang nyaring.
"Engga mau tau, kalian harus nikah minggu depan!" Teriak Wiwi penuh emosi.
***