"Jadi kalian mau yang mana?" Tanya Tante Wiwi.
Aku yang sedari tadi hanya bengong mendengarkan penjelasan konsep pernikahan dan lamaran yang di usulkan hanya mampu meringis sambil menggaruk kelingaku. Aku menoleh ke arah samping, Raka tampak serius melihat katalog dari beberapa WO yang dikumpulkan Tante Wiwi.
"Zena ikut apa kata Tante aja deh." Kataku akhirnya.
"Yaudah kalo gitu kita pake adat Jawa aja ya. Bunda dari dulu tuh pengen ada yang di paes dari keluarga kita."
"Nih, selanjutnya gaun buat lamaran sama pernikahan. Ini dari beberapa designer. Nah, kalo yang ini kamu bisa liat di i********: designer nya juga. Soalnya banyak banget gaun yang bagus. Nih..."
Tante Wiwi menyerahkan handphone miliknya yang sudah memuat laman sosmed i********: salah satu designer kondang.
Meskipun aku tidak menyukai rencana pernikahan ini, tapi disodorkan gaun secantik dan semewah ini sisi hedonku bangun.
Aku mulai bersemangat.
"Tante, yang ini bagus gak?" Tanyaku sambil menunjukan salah satu gaun yang menarik minatku.
"Bagus banget sayang. Coba kasih liat ke Raka."
Aku yang masih bersemangat langsung mengarahkan layar handphone milik Tante Wiwi kepada Raka.
Dia menoleh sekilas, menatap mataku.
"Cantik."
Ha? Dia kan belom liat layar hpnya. Dih bodo amat ya.
"Nih kalo buat acara lamaran bagusan pake ini menurut Bunda. Simple, mewah, elegan."
Aku mengamati kebaya di katalog yang ditunjuk Tante Wiwi. Kebaya berwarna putih dengan desain modern dan elegan. Ditambah kesan seksi karena memiliki belahan yang rendah di bagian d**a.
Sueeer gak boong. Cantik banget.
"Zena suka, Tan. Bagus banget."
"Good. Terus sekarang masalah tanggal." Tante Wiwi menutup katalog setelah memberi tanda pada halaman kebaya tadi.
"Bunda sebenernya udah ngomongin ini sama Farah, mamah kamu. Kita sepakat dua minggu lagi acara lamaran bisa diadain. Menurut kalian gimana?"
"Setuju, Bun." Aku melotot ke arah Raka.
"Tapi, dua minggu itu terlalu cepat tante. Tiga bulan lagi aja gimana?"
"Kelamaan, sayang. Lagi pula ini lamaran aja kok. Nikahnya kan bisa tuh beberapa bulan setelahnya. Gak harus abis lamaran langsung nikah. Ya?” Tante Wiwi mengutarakan pendapatnya.
"Tapi, Zena rasa dua minggu itu terlalu cepat. Zena belum siap. Zena minta tiga bulan lagi, Tante." Ucapku penuh sopan.
"Sebenernya terserah kalian berdua sih masalah tanggal. Kalian diskusi aja ya kapan enaknya. Bunda mau tidur dulu."
Setelah mengatakan itu, Tante Wiwi beranjak dari sofa dan berjalan menjauhi kami. Mataku mengikuti pergerakan Tante Wiwi yang menaiki tangga menuju lantai dua.
Hening. Baik aku maupun Raka memilih diam dan sibuk pada pemikiran masing-masing.
Aku menghela napas keras dan merubah posisi duduk menghadap Raka.
"Tiga bulan lagi atau gak sama sekali." Kalimat itulah yang keluar dari mulutku.
"Saya gak mau ada tawar menawar. Kalau Bunda dan Tante Farah sudah memutuskan dua minggu lagi, maka itu yang akan terjadi."
"Tapi aku gak mau. Aku belum siap!" Suaraku meninggi. Sungguh, aku benci saat Raka menanggapi apapun dengan santai. Seperti sekarang ini.
"Tiga bulan itu waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya, Rak. Kamu harus pikirin semuanya dong."
"Pokoknya tiga bulan lagi atau gak sama sekali. Itu keputusan finalku." Lanjutku.
Bukan tanpa alasan aku meminta waktu lamaran dimundurkan. Pokoknya dalam waktu tiga bulan ini, aku akan berusaha sekuat tenaga membuat Raka sendiri yang membatalkan niatannya untuk melamarku. Kita lihat saja nanti!
Aku membereskan barang-barangku dan bersiap untuk pergi. Pulang lebih tepatnya.
Raka hanya diam. Aku juga sudah tidak peduli lagi. Yang pasti, jika acara lamaran tetap dilaksanakan dalam waktu dekat aku akan kabur saja.
Setelah semua barangku masuk ke dalam tas, aku mencoba menghubungi Fatih.
"Hallo?"
"Kenapa?" Tanya Fatih dari sebrang dunia.
"Lu masih di kantor gak?"
"Udah gue bilang, lu gak cocok pake elu-gue hahahha. Aneh banget tau gak si." Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah tertawa.
"Malah ketawa, ck. Beneran ini, kamu masih di kantor gak?"
"Enggalah. Gila aja lu. Ini udah jam 10 malem. Ngapain gue masih di kantor."
"Ya kali aja ngelembur. Motorku masih di kantor nih, gimana ya?"
"Gampang, ntar gue call satpam yang tugas malem ini. Sama besok gue jemput deh berangkatnya."
"Oke. Makasih yaaa, bye." Aku menutup telponku.
"Rak, anterin aku pulang ya?" Tanyaku setelah menyimpan ponsel di dalam tas.
"Sudah terlalu malam, sebaiknya kamu tidur di sini saja." Jawabnya enteng.
"Jangan gila deh. Apa kata tetangga nanti." Sahutku agak sewot.
"Tetangga bahkan tidak tau kamu ada di sini."
Eh iya, bener juga.
Dengan seenak jidatnya dia langsung naik ke lantai dua. Ke arah kamar terkutuk!
Aku bersumpah, gak akan mau masuk kamar j*****m itu lagi!
Berhubung tidak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi, aku memilih menginstall applikasi ojek online karya anak bangsa. Biar sekaligus jadi bentuk cintaku pada produk-produk dalam negri hehehehe.
Jangan khawatir, aku menginstall menggunakan WiFi di rumah Tante Wiwi.
Ya mana mungkin pake kuota. Orang sisa kuota chatting doang hahaha...
Begitu terinstall, aku langsung memesan ojol dengan memasukan alamat rumahku.
Lumayan lama juga sampai dapat driver yang bersedia mengantarku. Mungkin karena sudah pukul 10 lewat.
Sembari menunggu pickup dari si driver, aku menuju dapur. Berniat untuk membangunkan bibi- yang bajunya pernah ku pinjam.
Tak enak hati rasanya jika harus membangunkan Tante Wiwi, tapi untuk langsung pulang begitu saja terasa sangat tidak sopan.
Bibi yang tau aku akan pulang menggunakan ojol terkejut dan bersikeras memintaku untuk diantar Raka saja.
"Bukannya gak mau diantar Raka, Bi. Dia tuh gak mau nganter. Malah molor." Ucapku memberi alasannya.
"Duh, Non. Tapi nanti kalo Mas Raka marah gimana?" Ucap Bibi dengan wajah takut.
"Lah marah kenapa? Salah sendiri gak mau nganter." Ujarku santai.
"Udah deh, bibi di sini aja. Temenin aku nunggu mamang ojolnya nyampe ya. Bentar lagi kok." Lanjutku.
Tak berapa lama, driver yang aku pesan sudah sampai di gerbang. Dia sempat menelpon karena tidak diperkenankan masuk oleh satpam karena disangka yang bukan-bukan.
Tentu saja setelah mendengarkan suaraku, si driver diperbolehkan masuk.
"Bi, aku pulang dulu ya! Salamin buat Tante Wiwi besok ya." Ucapku sambil menaiki motor dan memakai helm yang diberikan si driver.
Baru akan berjalan, tiba-tiba tubuhku terangkat begitu saja. Dan dalam sepersekian detik tubuhku sudah berada dalam pelukan Raka. Dengan tangan kanannya memeluk bagian punggung dan menekannya erat. Wajahku secara otomatis menekan dadanya.
What the hell!?
Antara shock dan tidak habis pikir. Aku terdiam saja sampai si driver- yang sudah diberi uang oleh Raka- pergi begitu saja.
"Lumayan padat, mungkin 36."
Seperti tersadar, aku langsung menginjak kakinya dengan kesal.
Dasar m***m!
****
PUBLISHED on w*****d: 8 APRIL 2020