“Gue heran, ya.” Axel bersungut-sungut kesal namun di tahan mati-matian. Ya gimana nggak mau di tahan kalau yang bikin emosi adalah kakak iparnya sendiri—teman juga, sih.
“Pantas lo ngebujang terus. Kebanyakan heran.” Dante merespons dengan santainya. Saking terlalu santainya, Dante nggak ngelihat merah-merah di pipi Axel alias semburat kemarahannya. “Lo harusnya bergerak bagai suhu bukan cupu. Bergerak melesat bukan kebanyakan heran dan ngebatin. Kena penyakit ‘batin’ tahu rasa lo!”
“Mending penyakit batin timbang mental.”
“Masih mendingan mental, dodol! Lo kena penyakit batin langsung innalillah yang ada.”
“Ya apa pun itulah. Gue gedek lo ngehancurin dapur gue.”
Dante menoleh. Menyipitkan matanya dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Bagian mana gue ngehancurin dapur lo?!”