“Sudah mau lahiran?” tanya Maha di sore hari saat baru menapaki lantai kamarnya. Pulung hanya mengangguk dan memberikan handuk. Tandanya Maha harus segera mandi. “Mas pikir masih lama.”
“Tinggal nunggu harinya doang. Perkiraan pertengahan bulan ini tapi nggak tahu juga. Bisa lebih cepat, bisa tepat waktu, atau malah mundur dari waktu yang sudah di prediksi dokter.” Pulung saat mengandung Baraja dan Angkasa juga merasakan kekhawatiran perihal lahiran. Karena perkiraan manusia memang tidak pernah bisa di tepatkan atau di pastikan. “Mas mau kopi?”
“Dingin ya, Yang. Padahal hujan tapi aku rasain haus.”
“Namanya juga manusia.” Pulung dan wajah datarnya di respons cekikikan oleh Maha. Salah Maha juga kenapa bisa sekonyol itu mengatakannya. “Ular saja bisa haus kok.”
“Kok di samain sih, Yang?