Sambil menikmati rasa coklat batangan yang cukup familiar di negaranya, Valerie yang baru saja bangkit dari ayunan berbahan kayu di pojok teras rumah menoleh ke arah jalan saat mendengar klakson mobil sang kakak. Bersikap santai seolah itu hanya sapaan biasa, V pun berlalu untuk masuk ke dalam rumah dan kemudian menyalakan televisi.
"Dad..!" Sapa Vino dengan lantang saat tiba di ambang pintu.
Mendengar dirinya di panggil, Vince yang sebelumnya tengah menghabiskan secangkir kopi buatan putri bungsunya di meja makan langsung bergabung ke ruang tamu.
"Bagaimana? Bukankah menarik?" Tanya Vince membuat V ikut melirik serta mengerutkan dahi heran.
"Sangat menarik! Rekomendasi Uncle Sean memang tidak pernah salah." Jawab Vino sambil menggantungkan kunci mobil di sebuah pengait kecil agar tidak tercecer dengan benda lain.
Vince mengangguk beberapa kali memberi isyarat setuju.
V yang mulai penasaran akan hal yang sedang mereka bicarakan pun langsung melontarkan pertanyaan, "sebenarnya.. apa yang menarik, Dad? Kenapa kalian terkesan merahasiakannya dariku?"
Bukannya menjawab, baik Vince maupun Vino justru saling bertukar pandangan lalu memperlihatkan senyum seringai mereka.
"Ini urusan pria. Seorang gadis di bawah umur tidak boleh tahu." Sahut Vino santai seraya bergabung di sofa panjang yang V duduki.
Wait! Menarik, urusan pria dan.. gadis di bawah umur sepertiku tidak boleh tahu? Gumam V dalam hati. Seketika ia terperanjat, menoleh ke arah Vino dengan mata membesar, "ya ampun, apa yang baru saja kakak lakukan? Kalau mommy tahu, daddy pasti kena marah." Tegasnya yang juga tertuju pada Vince.
"Mommy marah? Itu tidak mungkin..." Balas sang kakak disertai tawaan ringan sambil mengganti channel televisi. "Mommy pasti akan bangga dan ikut bersemangat saat mengetahuinya."
"Tidak! Mommy pasti tidak akan setuju kalau suami dan putra sulungnya melakukan perbuatan tercela."
Mendengar pernyataan seperti itu, baik Vino maupun Vince justru tertawa terbahak.
"Daddy, lihatlah! Putrimu bukan anak kecil lagi. Dia bahkan sudah memikirkan sesuatu yang belum pernah aku coba." Ejek Vino sambil mengacak rambut V yang tersemat bandana mutiara di atasnya.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan, Nak." Jelas Vince sambil mengangkat dagu V yang memasang wajah muram. "Uncle Sean merekomendasikan sebuah bengkel mobil di pusat kota. Katanya, hasil modifikasi mereka tidak pernah mengecewakan. Jadi tidak masalah bukan kalau daddy meminta kakakmu datang kesana?"
Merasa malu karena sudah berpikiran sejauh itu, V pun menyembunyikan wajahnya di balik bantal karena sang kakak masih saja mengejeknya.
"Dan apa daddy tahu berapa usia mereka? 17 tahun!" Lanjut Vino menjawab pertanyaannya sendiri. "Kuharap mereka tidak satu sekolah dengan V, apalagi sampai satu kelas."
"Sungguh?!" Potong Vince ikut terkejut. Karena biasanya anak seusia V masih gemar melakukan hal lain yang jauh lebih menyenangkan seperti bermain game ataupun menghadiri pesta dibanding bekerja. "Kuharap mereka semua tetap mengutamakan pendidikan di atas apapun."
"Bengkel itu peninggalan mendiang ayah dari salah satu montir disana, Dad."
Vince diam beberapa saat hingga akhirnya mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya. "Well, that's really good."
Merasa punya peluang akan sesuatu hal yang ia gemari, V yang sejak tadi diam langsung bergelayut manja di lengan sang kakak sambil mengatakan sesuatu. "Oh ya, Kak. Kau tahu tidak? Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres dengan ban mobilku. Bagaimana kalau besok atau lusa kita pergi ke bengkel itu untuk mengeceknya? Bukankah bahaya jika tetap dibiarkan?"
Seketika wajah Vino dan juga Vince berubah. Suasana menjadi hening seperti tak ada obrolan diantara mereka bertiga sebelumnya. Meski sebenarnya V sudah tahu jika hal semacam ini akan selalu terjadi. Setidaknya ia tetap mencoba untuk yang kesekian kali.
"Kalau hanya masalah ban mobil, aku ataupun daddy pun bisa menyelesaikannya. Ayo, kita lihat di garasi!" Ajak Vino spontan yang tentu saja khawatir akan keselamatan sang adik.
"Uhm, tapi... sepertinya bukan hanya ban, Kak. Tapi juga velgnya. Tahu sendiri, 'kan? Kita tidak punya stok velg di rumah."
Nampak seperti mengalihkan pembicaraan, Vince langsung berlalu dan beralasan ingin pergi jogging di sekitar komplek sebagaimana matahari sore sudah berada di sisi barat. Kini menyisakan Valey dan juga Vino.
Dengan segala usahanya, V memasang wajah memelas agar hati Vino tersentuh dan setuju untuk menuruti keinginannya sejak lama ini. Namun sayang, rupanya sebuah penolakan kembali ia dapatkan. Vino menggeleng dan ikut beranjak meninggalkannya seorang diri.
Sambil menghela napas pelan, V kembali merebahkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan televisi dan melanjutkan kunyahan coklat di mulutnya. Tepat setelah itu, suara Vino kembali terdengar dari arah tangga.
"Kami percayakan mobil itu untuk kau gunakan sehari-hari, V. Bukan untuk melanjutkan profesi dan kegemaran kami. Jadi kuharap kau mengerti."
Dalam situasi yang tidak terlalu baik, V pura-pura menertawakan serial yang tengah ia lihat di depan sana yang sebenarnya tidak lucu melainkan hanya demi menghibur diri atas perkataan sang kakak barusan.
🏁🏁🏁
Menjalani hari-hari sebagai seorang siswi di sekolah baru bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih bagi V yang sedikit introvert. Sebenarnya tidak seburuk itu, ia hanya memerlukan adaptasi yang sedikit lebih lama dibandingkan orang-orang pada umumnya.
"V!" Sapa seseorang dari kejauhan.
"Hai, Mike. Dimana yang lain?" Tanya V sedikit mendongak saat pria yang lebih tinggi 7 sentimeter itu berdiri di sebelahnya.
"Uhm, mungkin mereka semua sudah di dalam."
"Kalau begitu ayo kita masuk sebelum terlambat." Ajak V yang langsung di balas anggukan oleh Mike.
"Gadis barumu, Mike?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat mereka berdua menoleh ke arah kanan secara bersamaan. Rupanya siswa permen karet yang V temui kemarin.
Dengan malas V bergumam. Kukira ejekannya hanya berlaku untuk siswi baru sepertiku. Ternyata pada Mike pun tidak jauh berbeda.
"Kurasa itu sama sekali bukan urusanmu." Tegas Mike dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
"Sorry, Mike. Grey memang suka bercanda." Ucap salah satu teman yang nampak seperti alpha diantara teman satu genknya.
"Jika bukan karenamu Leon, mungkin aku sudah memukulnya sejak lama."
Sambil mendengarkan, V ikut menghafal 2 nama dari 4 siswa itu.
Secara tiba-tiba, V merasa jika Mike menggenggam pergelangan tangannya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Namun suara siswa bernama Leon kembali menghentikan langkah mereka. "Atau mungkin saja, temanku ini tertarik denganmu, siswi baru."
"Astaga, Leon! Apa yang baru saja kau katakan?" Sela Grey nampak mengelak.
V yang sejak tadi bungkam, tiba-tiba saja tertarik dengan obrolan ini. Ia pun berbalik lalu menghadap ke arah Grey. "Kalau begitu, salam kenal dariku, Mr. Grey." Tak hanya menyahuti, V juga mengedipkan sebelah matanya.
"Mr. Grey?! Bagaimana bisa kau memanggilku seperti itu seakan-akan kau ini Anastasia Steele?" Balas Grey tak terima. Tak hanya ia, beberapa siswa dan siswi yang berada di sekitar mereka pun ikut mendengar panggilan yang cukup tenar itu.
Sebelum menyahuti, V lebih dulu melirik lengannya yang masih berada di dalam genggaman Mike. Saat sudah dilepaskan, ia pun berjalan dan langsung mendekatkan wajahnya di telinga kiri Grey. "Maka panggillah aku Ms. Grey." Ucapnya pelan yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua. Kalaupun ketiga teman dari siswa itu dapat mendengarnya, tandanya pendengaran mereka benar-benar berfungsi dengan baik.
Seketika mata Grey membulat. V yang merasa puas pun tersenyum lalu berpamitan pada mereka berempat untuk masuk ke dalam lebih dulu bersama Mike. Obrolan mereka berakhir sampai disana, namun ide-ide kreatif V terus berdatangan bahkan ia berniat untuk memperlihatkan pada keempat siswa itu tahu kalau ia bukanlah siswi baru biasa.
🏁🏁🏁
"Memangnya apa yang Grey katakan sampai-sampai Valey harus mengedipkan mata seperti itu?" Tanya Lizzy terkejut bukan main saat mendengar cerita dari Mike.
"Grey mengejek Mike, dia mengatakan kalau aku gadis barunya."
Di ujung meja makan, Brandon yang tengah mengunyah snack justru tertawa. "Itu karena Mike tidak pernah menyukai gadis lain selain teman kita yang sangat cerdas ini." Sahutnya sambil menunjuk ke arah gadis yang tengah menunduk sambil membaca buku dan menutup telinganya dengan headset. Siapa lagi kalau bukan Tessa.
"Ahh, i see." Balas V ikut melirik. "Kuharap kau tidak pernah ketinggalan pelajaran agar dapat mengimbangi kecerdasannya, Mike." Lanjut V menyemangati.
🏁🏁🏁