"Teddy ingin bersama Papa! Simon, ayo keluar. Antar aku ke Papa!" Teddy tampak merengek sembari menarik-narik pakaian Simon.
Simon bahkan sampai tak punya cara lain untuk membujuk anak itu.
"Papamu pasti akan kembali sebentar lagi."
"Kau selalu bilang seperti itu sejak tadi, tapi buktinya Papa tidak datang-datang!" Kedua mata Teddy mulai mengembun.
Simon menjadi iba. Keputusan terburuk ia menuruti permintaan anak itu untuk membawanya keluar. Namun, ia juga tak tahan jika anak itu terus-terusan menangis.
Lelaki baya itu menarik napas, mengerjap, dan menelan ludah, kemudian berkata, "Baiklah. Aku akan mengantarkanmu pada ayahmu."
Senyum seketika terbit dari garis bibir Teddy. Anak itu langsung mengusap air matanya. Terlihat antusias. "Ayo sekarang!"
Teddy menarik tangan Simon dan