Sera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping ranjang. Tangannya masih gemetar ketika membuka daftar kontak.
Nama Toni muncul di layar. Tanpa berpikir panjang, Sera langsung menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.
Tut… Tut… Tut...
“Ayo, angkat, Ton.”
Sera menggigit bibirnya.
“Angkat...”
Nada sambung terus terdengar hingga akhirnya panggilan tersebut tersambung.
Terdengar suara seorang pria yang masih mengantuk dari seberang telepon.
“Hallo... kenapa pagi-pagi telepon?”
Toni menguap.
“Ganggu aja. Lagi enak-enak juga sama Sinta ganggu aja.”
Sera membeku.
“Sinta?” Suara Sera bergetar.
Toni masih terdengar setengah sadar. Sera menggenggam ponselnya semakin erat.
“Toni... teganya kamu sama aku.”
Toni mulai sadar bahwa yang meneleponnya adalah Sera.
“Sera?”
Sera menahan tangis.
“Ternyata selain sekongkol dengan keluargaku, kamu juga selingkuh sama Sinta.”
Toni langsung terdiam.
“Sera...”
“Sinta itu adikku!” Suara Sera meninggi.
“Kamu tega melakukan ini kepadaku?”
“Sera, dengar dulu—”
“Dengar apa?”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
“Aku percaya sama kamu, Ton!”
Toni menghela napas.
“Jadi kamu sudah tahu?”
Sera terdiam.
“Apa?”
Toni terdengar jauh lebih tenang sekarang.
“Kalau begitu, ya sudah.”
Sera mengerutkan kening.
“Maksud kamu apa?”
“Sudah tahu, kan?”
Toni terdengar seolah tidak lagi merasa perlu menyembunyikan apa pun.
“Ya sudah. Layani saja duda tua dan anak-anaknya itu.”
Sera membeku.
“Apa?”
“Syukur-syukur kamu nggak gila aja.”
“Toni!”
“Pria itu kejam.”
Sera semakin menangis.
“Kenapa kamu melakukan ini sama aku?”
Toni tidak langsung menjawab. Sera terisak.
“Aku sayang banget sama kamu.”
Suaranya bergetar.
“Kita sudah pacaran tiga tahun, Ton.”
Tiga tahun. Selama itu Sera mempercayai Toni.
Tiga tahun ia menganggap pria itu sebagai orang yang akan selalu berada disisinya.
“Aku kira kamu benar-benar mencintaiku.”
Toni tertawa kecil.
“Sera, kamu belum sadar juga?”
Sera terdiam.
“Belum sadar apa?”
“Aku menerima kamu karena kamu pintar.”
Sera mengernyit.
“Pintar?”
“Iya.” Toni menjawab santai.
“Pintar dan bisa dimanfaatkan.”
Air mata Sera semakin deras.
“Maksudmu...?”
“Uangmu.”
Sera seperti kehilangan suara.
“Setiap kali kita nge-date, kamu yang bayar.”
Toni melanjutkan tanpa merasa bersalah.
“Kamu selalu punya uang. Jadi buat apa aku pacaran sama kamu kalau bukan karena itu?”
Sera menutup mulutnya.
“Nggak...”
Ia menggeleng.
“Bohong.”
“Aku nggak bohong.”
“Toni...”
Sera menangis semakin keras.
“Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik buat kamu.”
“Ya, aku tahu.”
“Bahkan kalau kamu minta sesuatu, aku selalu berusaha memberikannya.”
“Itulah yang aku suka dari kamu.”
Sera terdiam. Toni kembali berkata,
“Tapi kamu juga punya kekurangan.”
Sera mengusap air matanya.
“Apa?”
“Setiap ngedate kamu pakai baju kedodoran.”
Sera menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Toni melanjutkan,
“Kamu berbeda dengan Sinta.”
Sera langsung terdiam.
“Sinta lebih gaul.”
Jantung Sera terasa semakin sakit.
“Cantik.”
Tangannya gemetar.
“Modis.”
Sera menutup matanya.
“Dia lebih cocok buat aku.”
“Toni...”
“Jadi kita putus.”
Sera terisak.
“Semudah itu?”
“Iya.”
“Kita pacaran tiga tahun!”
“Dan sekarang sudah selesai.”
Sera tidak mampu berkata-kata. Toni terdengar santai dari seberang telepon.
“Oh iya. Uang hasil menjual kamu kemarin akan jadi modal pesta pernikahan kami.”
Sera membeku.
“Pernikahan?”
“Iya. Kami akan menikah.”
Sera menggenggam ponselnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
“Kamu dan Sinta?”
Toni menjawab tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Have fun, ya.”
Sera menangis.
“Ton...”
“Jangan lupa datang.”
Suara Toni terdengar santai.
“Itu pun kalau kamu masih hidup.”
Klik.
Sambungan telepon terputus. Sera menatap layar ponselnya. Panggilan berakhir. Ia masih tidak bergerak.
Seolah-olah tubuhnya kehilangan tenaga.
“Toni...” Air matanya kembali jatuh.
“Kurang ajar kalian!”
Sera melempar ponselnya ke atas kasur.
“Kalian tega!”
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku salah apa?” Tangisnya pecah.
“Kenapa kalian melakukan ini kepadaku?”
Sera kemudian teringat ayahnya.
“Papa...”
Ia menatap kosong ke depan.
“Papa juga tahu?”
Dadanya terasa sesak.
“Kenapa Papa juga jahat sama aku?”
Air mata terus mengalir.
“Papa nggak sayang aku?”
Ia terisak sambil memeluk lututnya sendiri.
“Aku anak Papa juga,padahal dia hanya anak tiri aku yang anak kandung Papa...”
Sera menangis sendirian di kamar tersebut.
Namun, perlahan tangisannya mulai berhenti. Ia mengusap pipinya.
Matanya yang sebelumnya dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi tatapan penuh kemarahan.
“Nggak.”
Sera menggeleng.
“Nggak... aku nggak bisa terus seperti ini.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku nggak boleh hancur.”
Tangannya mengepal.
“Aku harus bangkit.”
Sera menatap pintu kamar yang tadi dilewati Jovian.
“Aku harus balas dendam.”
Wajahnya yang basah oleh air mata kini terlihat penuh tekad.
“Enak saja mereka hidup bahagia setelah menghancurkan hidupku.”
Ia berdiri perlahan dari ranjang.
“Mereka pikir aku akan diam?”
Sera mengusap sisa air matanya.
“Nggak.”
Ia menatap bayangannya sendiri di cermin.
“Sinta...” Tatapannya mengeras.
“Mama Maya...”
Kemudian ia menarik napas.
“Kalian tunggu.”
Sera mengepalkan tangannya.
“Kalian adalah parasit yang membuat hidupku hancur sejak kalian datang.”
Ia menatap dirinya sendiri tanpa berkedip.
“Kalau kalian ingin melihat aku jatuh...”
Sera tersenyum tipis di tengah air matanya.
“Sekarang lihat saja. Aku akan membuat kalian menyesal sudah menghancurkan hidupku.”
Sera akhirnya bangkit dari atas ranjang.
Tubuhnya masih terasa nyeri sehingga ia harus berjalan perlahan. Setiap langkah membuatnya sedikit meringis. Ia menarik napas panjang sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi.
“Aw...” gumamnya pelan.
Tangannya berpegangan pada dinding agar langkahnya tetap stabil.
“Jalan saja masih sakit.”
Sera menghela napas.
“Astaga...”
Begitu masuk ke kamar mandi, Sera berdiri di depan cermin.
Matanya langsung membulat ketika melihat pantulan dirinya sendiri.
“Banyak banget cupangnya!”
Ia memperhatikan beberapa bekas kemerahan yang terlihat di bagian tubuhnya.
“Ganas juga dia.”
Sera mendengus kesal.
“Resek.”
Ia menyentuh salah satu bekas tersebut dengan ujung jarinya, kemudian langsung mengernyit.
“Aduh...”
Sera buru-buru menarik tangannya.
“Sudah, jangan dipikirkan.”
Ia menatap dirinya sendiri di cermin.
“Aku harus mandi sekarang.”
Sera kemudian terdiam sejenak.
Pikirannya kembali mengingat kejadian semalam, lalu beralih pada Jovian.
Pria itu memang dingin, menyebalkan, dan terlalu dominan.
Namun, Sera juga menyadari satu hal.
Ia membutuhkan bantuan pria tersebut.
“Kalau aku ingin membalas mereka...”
Sera menatap pantulan wajahnya sendiri.
“Aku harus membuat pria dingin itu berada di pihakku.”
Ia menarik napas.
“Aku harus bisa memikat hatinya.”
Sera kemudian tersenyum kecil.
“Kalau dia mau membantuku, aku bisa membalas Toni, Sinta, Mama Maya, bahkan Papa.”
Tatapannya berubah serius.
“Aku harus pintar-pintar mengambil hati suamiku sendiri.”
Setelah itu, Sera segera mandi. Beberapa waktu kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah.
Ia berjalan menuju lemari pakaian. Sera membuka pintunya dan memperhatikan pakaian yang tersedia.
Ia mengambil beberapa pakaian, lalu memilih pakaian yang menurutnya paling cantik dan pantas dikenakan. Setelah berpakaian, Sera berdiri kembali di depan cermin. Ia mengambil peralatan makeup.
“Bekas kissmarknya harus ditutupi.”
Sera mulai mengoleskan make up pada bagian-bagian merah-merah di lehernya yang terlihat.
“Sedikit lagi...”
Ia memperhatikan hasilnya.
“Lumayan.”
Sera memiringkan wajah ke kanan dan kiri.
“Sudah nggak terlalu kelihatan.”
Ia kemudian merapikan rambutnya.
“Harus cantik.”
Sera menatap dirinya sendiri.
“Kalau aku mau membuat pria dingin itu membantuku, setidaknya aku harus terlihat menarik.”
Belum sempat ia melanjutkan rencananya, terdengar ketukan dari pintu.
Tok... tok... tok...
Sera langsung menoleh.
“Siapa?”
Suara dari luar terdengar sopan.
“Nyonya?”
Sera berjalan mendekati pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pelayan masuk sambil membawa beberapa barang.
“Nyonya, permisi.”
Sera memperhatikannya.
“Ada apa?”
Pelayan tersebut menyerahkan sebuah obat dan salep.
“Ini obat nyeri dan salep untuk Anda dari Tuan.”
Sera terdiam.
“Dari Jovian?”
“Iya, Nyonya.”
Sera menerima barang tersebut.
“Terima kasih.”
Pelayan itu mengangguk.
“Sama-sama, Nyonya.”
Sera melihat obat dan salep di tangannya.
“Ternyata pria itu perhatian juga.”
Ia kemudian tersenyum tipis.
“Padahal kelihatannya dingin banget.”
Pelayan tersebut kembali berkata,
“Tuan dan anak-anak sedang menunggu Nyonya di bawah.”
Sera langsung mengangkat wajah.
“Sekarang?”
“Iya, Nyonya.”
Sera mengangguk.
“Baik. Aku akan segera turun.”
Pelayan tersebut membungkukkan badan.
“Baik, Nyonya.”
Ia kemudian keluar dari kamar.
Pintu kembali tertutup.
Sera menatap obat dan salep yang diberikan Jovian.
“Dia masih ingat aku kesakitan.”
Sera tersenyum kecil.
“Jangan-jangan sebenarnya dia nggak seburuk yang aku kira.”
Namun, ia segera menggeleng.
“Sudahlah.”
Sera menyimpan obat tersebut.
“Aku nggak boleh lupa tujuan utamaku.”
Ia menarik nafas panjang.
“Aku harus membuat dia membantuku.”
Sera kemudian keluar dari kamar. Langkahnya masih sedikit tertatih karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Tangannya sesekali berpegangan pada pagar tangga.
Ia menuruni anak tangga satu per satu. Ketika hampir sampai di bawah, Sera bisa melihat ruang makan dari kejauhan.
Jovian sudah duduk di sana. Di sampingnya terlihat dua anak perempuan yang sedang menunggu. Sera berhenti sejenak.
“Jadi itu dua putrinya...” Ia menarik napas.
Sera kembali memasang senyum di wajahnya.
“Mulai sekarang, aku harus memainkan peran ku dengan baik.”