Sebelum benar-benar keluar dari rumah itu Bryan memandangi ruangan itu sebentar
Brukk...
tiba tiba terdengarlah suara benturan dari arah pintu masuk
Bryan pun menoleh, namun tidak ada siapa -siapa.
Bryan POV...
aku bahkan masih mengingat susah senang ku berada di sini, bersama Alana yang sekarang bukanlah istri ku lagi
tiba -tiba air mata ku berderai tanpa permisi mengingat di mana aku melakukan kewajiban kami sebagai suami istri pada malam itu, aku tau pasti dia sangatlah terpukul dengan keputusan sepihak ku ini, namun ini yang terbaik, aku tak tega jika harus menyakiti kekasihku lagi .
"hei sayang ayo kita ke rumah yang baru kau beli itu"-ucap Mira yang tiba-tiba muncul
"ah iya sayang ayo!" ucap ku pada Mira.
Aku serasa tak rela meninggalkan rumah ini tapi sudahlah, aku akan tetap pergi, tangan ku di tarik Mira menuju mobil.
Entah kenapa hati ku tergerak untuk memerintah mata ku untuk melirik ke atas, ke lantai dua kamar tidur kami, ah aku sampai lupa kalau aku sudah Takan kembali ke sini lagi.
Ku lihat Alana yang tengah memperhatikan kepergian kami dari balik jendela kamar namun mata ku tertuju pada mata sembab nya yang terlihat sangat kacau.
Lalu aku memperhatikan tangan nya yang mengusap-usap perut nya.
skip...
2 hari setelah perceraian Alana dan Bryan bang izan langsung terbang dari Jepang memboyong anak istri nya untuk kembali ke Indonesia, ia sungguh tak menyangka jika adiknya sudah berbuat senekat ini ia mendapat kabar ini dari ayah nya.
Flashback on...
Ayah Bryan berniat mengunjungi anak nya yang berada di rumahnya, ia berjalan gontai ke arah pintu masuk rumah Bryan dan Alana.
"tumben sekali tak di tutup"-ucap sang ayah.
Ia mendengar keributan dari dalam.
ia menyaksikan semuanya itu, namun ia belum sempat melerai namun, tiba -tiba serangan jantung nya kambuh dan ia memutuskan untuk duduk di kursi kayu depan rumah Lana, setelah mendingan dia langsung masuk ke mobi kebetulan dia sudah tak lagi mendengar keributan dan ia melihat Mira yang keluar dari rumah Bryan.
Ia mengambil ponsel nya, lalu menelfon izan ,bukan nya ia tak berani pada sang putra tetapi, ia sudah tua tak mungkin bisa membantu Alana.
Tak lama ia melihat Bryan yang keluar dan menoleh ke arah lantai 2 ayah melihat alana yang tengah berdiri sendu di sana.
flashback off...
Akhirnya izan tiba di Padang dengan selamat beserta keluarga nya.
"bang, ayo! kita langsung saja menuju rumah kak Lana" ucap istri izan, fazira
Jadi Alana itu lebih tua 1 tahun dari fazira jadi fazira tetap ngeyel untuk tetap memanggil Alana dengan embel-embel kakak.
mereka berjalan ke arah sopir suruhan ayah yang tengah menunggu mereka di seberang jalan, ada izan, fazira dan putri mereka Clara di gendongan izan.
"Dek, nanti kamu dan Clara ke rumah Alana saja ya, Abang bakal ke rumah Ayah dulu" ucap izan pada sang istri.
"ok bang, sebenarnya aku sedih mendengar perihal ini" ucap fazira.
Izan hanya tersenyum simpul.
"semoga saja bocah itu bisa mendapat karma nya setelah apa yang telah ia perbuat pada istri nya" ucap izan.
Drttt...
Drttt...
"halo, ada apa ayah?" tanya izan melalui sambungan telefon.
"sekarang ayah tengah mengunjungi rumah Lana, namun tak ada orang kata satpam Alana di bawa Diva, adiknya ke kampung" ucap ayah di seberang sana.
"jadi apakah kami harus pulang ke kampung juga ayah, kami bisa tinggal di rumah kita yang lama" ucap izan di seberang sana.
"baiklah, ayah akan bilang pada bibi mu untuk membersihkan rumah kita yang di sana" ucap ayah.
Alana side...
Alana kini tengah termenung di balkon rumah nya yang berada di kampung, semenjak kepergian Bryan dari hidup nya ia seperti orang yang hidup tanpa arah, dan seperti tak bersemangat untuk hidup.
Alana mengusap perut nya yang datar,terhitung sudah satu bulan lama nya ia berada di kampung, ia kembali terkejut ketika ia kemarin di bawa ibu nya ke puskesmas dan ia mendapati bahwa dia tengah berbadan dua namun, ia Takan meminta Bryan untuk kembali pada nya, ia sudah menebak dengan jelas bagaimana respon Bryan nanti, pasti Takan menerima nya.
Ia akan membawa janin yang berusia 3 Minggu ini ke luar negri, ia sudah memikirkan semuanya dengan matang- matang, ia akan menjual rumah nya di Padang.
Kemaren sore diva dan suami nya berangkat ke Padang menggunakan mobil Alana menuju ke rumah Alana, jelas untuk membawa semua peralatan milik Alana di rumah itu .
termasuk 3 mobil sport Alana dan 5 motor koleksi Alana yang di bawa dengan truk pembawa kendaraan dari dealer yang Alana sewa truk nya untuk mengangkut semua motor nya dan 2 mobil nya, sedangkan yang satu nya di bawa Diva ah, Alana Sampai lupa kalau beberapa hari terakhir fazira dan izan sering mengunjungi nya ke sini, namun Alana tak memberi tahu siapapun tentang kehamilan nya selain pada keluarga terdekat nya.
Alana sudah memutuskan untuk tinggal di Zurich, Swiss negara impian nya yang belum pernah ia kunjungi.
Ia ingin beristirahat dan menyegarkan fikiran dengan ketenangan di kota Zurich.
Ia suka ketenangan, karena itu Swiss menjadi negara tujuan nya saat ini kebetulan juga rumah nya yang ada di Padang sudah ada peminat dan mungkin akan di bayar sang pembeli dalam waktu dekat ini.
Namun, ada tersisih rasa rindu nya pada Bryan yang kini berada di tangan orang,
ia bukan tanpa alasan berniat menjual rumah hasil jerih payah nya itu, ia melakukan itu untuk melupakan kenangan pahit nya bersama Bryan .
Dan ia lebih memilih tinggal di sebuah rumah kecil di Swiss , karena sepupu alexa, Bastian kini tengah berada di Swiss maka sekalian dia meminta bantuan Bastian untuk membantu nya mencarikan rumah mini Malis untuk ia tinggal di sana ,dia sementara akan sendirian tinggal di sana sebelum Lisa datang ke sana nanti .
Alana memandangi banyak anak-anak yang tengah bermain di lapangan dekat rumah nya itu dari atas balkon
"huhh, tak lama lagi anak ibu ini akan bermain seperti mereka eohh??" ucap Alana sambil mengusap-usap perut datar nya itu.
"auntyy Yura au jeyukk" ucap anak diva tiba-tiba datang dari bawah dan menuju ke arah Lana, ah ralat ke piring buah Lana.
"yaudah ,nih buat Yura" ucap Alana sambil mengupas kan kulit jeruk itu.
"maacih aunty nana" ucap Yura sambil tersenyum manis Sampai pipi nya itu mengeluarkan lesung pipi yang indah
"ahh kau cantik sekali mirip siapa sihh?, bahkan diva semasa kecil tak seperti ini" ucap Alana.
Kaki mungil itu hendak memanjat kursi di samping Lana.
"ah jikalau ga bisa naik minta bantuan, kau itu masih pendek" ucap Lana.
"kan yula udah becal jadi hatus mandiyi" ucap Yura pada Alana.
"yasudah berusaha aja terus"-ucap Alana terkekeh melihat Yura yang tengah di masa lucu lucu nya itu.
"ah aku bahkan melupakan melupakan masalah ku saat aku sudah bersama Yura, bagaimana nanti jika anak ku ini telah lahir" ucap Alana dalam hati sambil menatap Yura.
"amboyy aunty baintuin yula, yula nda bisa aunty, huaaa" ucap Yura merengek
ah benar benar copy paste dari seorang diva yang suka merengek hanya karena masalah kecil.