"Anda mengenal Ibu Airy Pak Radit" tanya pak Andreas kepada nya "ya" "tidak" ucapku bersamaan dengan pak Radit "Dia adik kelas saya waktu smp pak Andreas " lanjut pak Radit dan pak Andreas menatapku penuh tanya aku hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk kecil "jangan sungkan jika membutuhkan bantuanku"kata pak radit padaku dan dia meneruskan berkenalan dengan team ku dan sedikit bebasa basi lalu mengekori pak Andreas untuk pindah berkenalan di ruangan yg lain sebelum keluar dari ruangan ku dia masih menyempatkan diri untuk menoleh kepadaku sambil mengedipkan sebelah matanya dan aku hanya melengos menyaksikan itu.
Sampai jam istirahat tiba seperti biasa aku makan siang bersama Melisa di kantin ada juga dari departemen lain gadis berkerudung bernama Fia, dia berkata "pak radit ganteng ya?" kata Fia tiba tiba dan serentak aku dan melisa menoleh ke arah nya dan yg membuatku tak habis pikir Melisa mengannguk pertanda menyetujui ucapan Fia "udah punya pacar belum ya?" sambung Melisa dan ku respon dengan dengusan saja membuat Melisa dan Fia serentak menoleh kepadaku dan menatapku heran "kenapa?" tanya ku "menurutmu pak radit oke gak?" tanya Melisa "B aja sih." jawabku datar "waaaaahhhh...mbak Airy keknya harus periksa mata deh" semprot Fia tak terima "maklum Fi dia kan abis trauma sama cowo jadi anyepin aja" kata Melisa menenangkan Fia dan kembali mendapatkan dengusan dariku.
Setelah makan siang kami kembali ke ruangan masing masing aku menyiapkan laporan bulan ini dan 6 bulan yg lalu yg telah ku rapikan agar tidak menyusahkan jika BM baru nanti menanyaiku dan sebetulnya pak Andreas juga sudah mewanti-wanti kami semua untuk menyiapkannya, tiba tiba telepon di mejaku berbunyi "iya halo.."sapa ku saat mengangkat telepon itu "selamat siang bu Airy...pak Andreas meminta anda untuk menemuinya di ruangannya"kata orang di seberang telepon "baik aku segera ke sana,terimakasih"
aku berjalan di koridor menuju ruangan pak Andreas setibanya di depan ruangan sekertaris pak Andreas menyuruhku langsung masuk "tok tok tok" akupun segera masuk setelah di persilahkan oleh pemilik ruangan itu ku lihat pak Andreas dan pak Radit duduk di sofa sambil membahas pekerjaan "kamu sudah datang Airy?" tanya pak Andreas "silahkan duduk"lanjutnya aku melirik pak radit dia hanya diam sambil memperhatikan berkas2 yg ada di tangannya "Airy apakah kamu audah menyiapkan berkas2 yg saya minta?" tanya pak Andreas"iya pak ini berkasnya saya bawa" jawabku sambil menyerahkan berkas2 yg lumayan tebal kepada pak Andreas "duduklah,,bisakah kamu membahasnya dengan pak Radit karna saya harus pergi keluar menghadiri online meeting dengan cabang yg baru" tanya pak Andreas dan ku jawab dengan menganggukkan kepala .
Setelah kepergian pak Andreas aku hanya diam menunggu pak Radit menyelesaikan pekerjaannya tak tahan menunggunya aku memberanikan diri bertanya "maaf pak Radit apakah kita bisa memulai membahas berkas2 yg saya bawa?" tanyaku seketika membuatnya mengangkat kepala dari berkas yg sejak tadi di bacanya dan memfokuskan pandangannya kepada Ku "heemmm...tentu,bacakan untukku" jawabnya santai membuatku ingin menjitak kepala laki2 tampan ini "ups apa tadi aku mengatakan kalau dia tampan?" batinku bersuara tapi ku akui dia memang tampan sejak dulu dan sekarang dengan badan tinggi tegap sedikit berotot di area2 tertentu membuatnya terlihat semakin berbahaya bagi wanita di luar sana dan ku akui termasuk aku juga.
Aku mulai membaca berkas2 dengan teliti dan dengan jantung yg berdebar amat keras sehingga aku pikir aku akan pingsan jika jantungku berdebar sekeras itu selama beberapa menit lagi karna dia menatapku sangat tajam tetapi ada rasa lembut juga yg terpancar dari matanya "kemana saja kamu selama ini?" tiba2 dia membuka suaranya dan aku seketika diam dan mengangkat kepala membalas tatapannya dengan tidak mengerti "akhirnya aku bisa menemukanmu meskipun membutuhkan waktu yg sangat lama" lanjutnya sambil berdiri dan mendekatiku mengurungku dengan lengannya di sofa paling pojok ini.
"apa kau tak merindukanku Airy?" tanya pak Radit dengan jarak yg amat dekat dengan ku dan aku langsung mendorongnya bergegas meninggalkan ruang itu dan kembali ke ruanganku sambil menetralkan degup jantungku.