Tiga hari, dan ia kurang dua juta tujuh ratus ribu. Sekar duduk di warung kopi kecamatan dengan secangkir kopi tubruk yang ia biarkan dingin, dan membuat daftar tempat di dunia yang mungkin menyimpan uang sebanyak itu untuk orang seperti dia.
Koperasi simpan pinjam kecamatan adalah pintu pertama. Pagi itu ia datang membawa buku catatan dan harapan tipis, dan duduk di hadapan seorang petugas berseragam yang ramah tapi terikat aturan. Petugas itu menjelaskan: pinjaman bisa, tapi butuh agunan—sertifikat tanah, atau BPKB. Tanah rumah panggung neneknya tak bersertifikat, hanya girik turun-temurun yang tak diakui sebagai agunan. Tak ada kendaraan atas nama mereka. Dan bahkan kalau ada, proses pencairan memakan dua minggu, jauh lebih lama dari tiga hari.
"Kalau Mbak butuh cepat tanpa agunan," kata petugas itu, menurunkan suara seakan membagi rahasia yang ia sendiri tak setujui, "ada Pak Hartono. Tapi saya nggak nyaranin."
Pak Hartono. Sekar sudah menduga nama itu, atau nama seperti itu, akan muncul. Setiap kecamatan punya satu. Pinjaman tanpa agunan, cair dalam sehari, tanpa banyak pertanyaan.
Ia menemui Pak Hartono di rumahnya yang besar di pinggir jalan provinsi, rumah yang tampak terlalu makmur untuk daerah ini, dan dari kemakmuran itu saja Sekar sudah bisa membaca dari mana uangnya datang. Pak Hartono ramah, menawarkan teh, dan dengan senyum yang tak sampai ke mata menjelaskan syaratnya. Tiga juta cair besok. Bunga sepuluh persen per bulan. Bayar pokok dalam tiga bulan.
Sekar menghitung di kepalanya, refleks butik yang tak bisa ia matikan. Tiga juta, bunga sepuluh persen sebulan. Dalam tiga bulan, bunga saja sudah hampir satu juta. Kalau ia terlambat, bunga beranak bunga. Dalam setahun, kalau ia tak bisa bayar lunas, tiga juta itu bisa membengkak jadi enam, tujuh. Ini bukan jalan keluar. Ini Koh Bandi versi lain, dengan baju yang lebih rapi dan senyum yang lebih lebar. Ia akan melunasi Koh Bandi dengan memasang jerat baru di leher yang sama—hanya memindahkan tali dari satu tiang ke tiang lain, dan tiang yang baru ini lebih tinggi.
"Saya pikir-pikir dulu, Pak," kata Sekar, dan ia tahu, bahkan saat mengucapkannya, bahwa ia tak akan kembali. Pak Hartono mengangguk dengan senyum yang sudah hafal kalimat itu, kalimat orang yang akan kembali juga akhirnya, karena keputusasaan biasanya menang.
Di luar rumah Pak Hartono, di tepi jalan provinsi yang dilewati truk-truk besar, Sekar berdiri lama. Ia sudah membuang dua pintu. Koperasi terlalu lambat. Rentenir terlalu menjebak. Dan di kepalanya, satu pintu terakhir berdiri, pintu yang sejak awal ia hindari untuk dilihat, karena melihatnya berarti mengakui sesuatu yang ia belum siap akui.
Tabungannya sendiri.
Empat tahun di butik Maharani. Gaji yang tak seberapa, dipotong di sana-sini, tapi ia hemat—ia anak kampung yang tahu nilai uang, yang tak pernah jajan berlebihan, yang menabung untuk sesuatu yang dulu ia sebut "masa depan" tanpa pernah tahu persis masa depan yang mana. Di rekeningnya ada delapan juta lebih sedikit. Seluruh masa depannya yang bisa diukur dengan angka.
Kalau ia ambil lima juta dari sana, ia bisa melunasi separuh Koh Bandi tepat waktu. Tanpa bunga. Tanpa jerat baru. Tanpa memindahkan tali ke leher kampung. Tapi—dan ini yang membuatnya berdiri begitu lama di tepi jalan, angin truk menampar wajahnya—uang itu bukan uang kampung. Itu uangnya. Uang yang ia kumpulkan untuk dirinya, untuk kemungkinan suatu hari ia punya hidup yang bukan tentang menyelamatkan reruntuhan. Sekali ia tuang ke dalam lubang ini, taruhannya berubah selamanya. Ia tak lagi bisa pulang ke kota dan berkata, "aku sudah coba." Ia akan terikat ke lereng ini oleh uangnya sendiri, oleh pilihannya sendiri.
Bujang, ketika Sekar menceritakannya malam itu, terdiam lama. "Jangan, Sekar," katanya akhirnya, dan suaranya serius dengan cara yang jarang. "Itu uang kamu. Empat tahun kamu. Kalau kampung ini tetap mati—dan jujur, kemungkinannya masih gede—kamu kehilangan kampung dan kehilangan tabungan sekaligus. Kamu pulang ke kota dengan tangan kosong. Pakai uang Hartono aja, atau biarin Koh Bandi ambil tenun. Itu kerugian kampung. Jangan jadiin kerugian kamu."
"Justru itu, Jang," kata Sekar pelan. Ia menatap kolong yang gelap, tempat tenun-tenun berdiri menunggu disita. "Selama ini aku berdiri di luar. Aku mikir, kalau gagal, aku tinggal balik ke kota. Aku ngitung kampung kayak ngitung stok butik—untung rugi, ambil atau tinggal. Bu Ngatiyem bener tentang aku. Aku bawa kepala kota." Ia menarik napas. "Tapi kalau aku mau orang lain percaya kampung ini layak diselamatkan, aku harus jadi orang pertama yang masang taruhannya sendiri. Bukan uang Hartono yang dipinjam. Bukan tabungan Mbah yang kosong. Uangku. Supaya kalau aku ngomong ke Warni, ke penenun yang lain, 'ini layak,' aku ngomong sebagai orang yang udah naruh masa depannya sendiri di meja, bukan cuma masa depan orang lain."
Bujang menatapnya, dan ia tak membantah lagi, karena ia tahu—dan Sekar tahu ia tahu—bahwa ini bukan lagi keputusan hitungan. Ini keputusan tentang siapa Sekar mau jadi.
Keesokan harinya, di kantor bank kecamatan yang sempit, Sekar mengambil lima juta dari rekeningnya. Petugas teller menghitung lembaran-lembaran itu dengan mesin yang berdesir, dan setiap lembar yang berpindah terasa seperti satu helai dari masa depan yang dulu ia bayangkan, dicabut dan dipindahkan ke masa depan yang lain. Ia membawa uang itu ke Koh Bandi pada hari kesepuluh, tepat waktu, dan Koh Bandi menghitungnya, mengangguk, dan menandai bukunya.
"Separuh," kata Koh Bandi. "Sisanya bertahap, dua bulan. Kita masih ada urusan, Sekar."
"Saya tahu, Koh."
Di luar toko benang itu, Sekar berdiri di trotoar yang ramai, dan untuk pertama kalinya sejak pulang, kampung tak akan disita besok. Tenun-tenun aman, untuk sekarang. Tapi ia tidak merasa menang. Ia merasa ringan dengan cara yang menakutkan—ringan seperti orang yang baru saja membakar jembatan di belakangnya, dan kini hanya bisa bergerak maju, karena jalan pulang sudah tak ada. Tabungannya tinggal tiga juta. Sisa utang masih lima juta. Dan kampung masih belum punya satu pun cara membuat uang baru. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, taruhan itu utuh miliknya, dan entah kenapa, itu membuatnya lebih jernih, bukan lebih takut.