Sekar berhenti menyalahkan pasar.
Ia sampai ke sana lewat jalan yang panjang, di antara subuh-subuh belajar tarum dan malam-malam menjaga neneknya, tapi titik baliknya datang pada satu sore biasa, ketika ia duduk di tangga rumah dengan buku butiknya dan, alih-alih menghitung lagi, ia membaca ulang semua catatan penolakan yang ia kumpulkan sejak pulang. Pak Tarno di grosir. Mbak Vira di butik. Bu Tini yang membeli untuk taplak turis. Ia membaca semuanya berurutan, dan untuk pertama kalinya ia berhenti membacanya sebagai daftar kekalahan, dan mulai membacanya sebagai data—cara butik mengajarinya melihat, tapi kali ini ditujukan ke arah yang belum pernah ia tujukan.
Dan ia menemukan polanya.
Pak Tarno menolak karena kain tangan tak bisa seragam dan tak bisa murah. Tapi Pak Tarno menjual per kodi, ke pedagang yang menjahit baju massal. Pak Tarno menjual kain sebagai bahan. Sebagai meter. Sebagai komoditas yang nilainya diukur dari berapa banyak baju bisa dibuat darinya dengan biaya serendah mungkin. Di dunia Pak Tarno, kain tangan memang kalah, dan akan selalu kalah, karena di dunia itu pertanyaannya adalah "berapa murahnya" dan jawaban kain tangan selalu "tidak cukup murah."
Mbak Vira menolak karena motif dianggap kuno dan warna dianggap tua. Tapi—dan ini yang baru Sekar lihat sekarang—Mbak Vira tak pernah menanyakan harga. Ia menolak rupa, bukan angka. Mbak Vira menjual gaya. Penampilan. Tren. Di dunianya, kain dinilai dari seberapa cocok dengan selera bulan ini, dan kain tujuh gunung kalah karena ia bukan tren—ia lebih tua dari tren, lebih tua dari Mbak Vira, lebih tua dari kota.
Bu Tini membeli, tapi dengan harga taplak, karena di dunia Bu Tini kain tenun adalah suvenir—oleh-oleh murah untuk turis yang ingin membawa pulang "sesuatu yang lokal" tanpa peduli siapa yang membuatnya atau berapa lama.
Tiga penolakan, tiga dunia, satu kesamaan yang baru sekarang Sekar lihat dengan jelas sampai membuatnya hampir tertawa karena betapa lama ia tak melihatnya: di ketiga dunia itu, ia menjual kain sebagai benda. Sebagai meter, sebagai gaya, sebagai suvenir. Di ketiganya, yang dijual adalah kainnya—dan kainnya, sebagai benda, memang kalah. Lebih mahal dari printing, kurang tren dari butik, kurang murah dari oleh-oleh.
Tapi kain tujuh gunung bukan cuma benda.
Sekar berdiri dari tangga, jantungnya berdebar dengan cara yang ia kenal—debar saat sesuatu yang lama tersembunyi tiba-tiba terlihat. Ia berjalan ke kolong, menatap dua puluh sembilan kain yang tersisa, kain-kain yang terlalu sakral atau terlalu rumit untuk dilego murah. Dan ia bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan sejak hari pertama: kalau bukan kainnya, apa yang sebenarnya dimiliki kampung ini yang tidak dimiliki printing, butik, atau oleh-oleh?
Tangan Bu Lastri yang menenun sambil menjaga suaminya sakit. Tujuh celup tarum yang butuh tiga hari dan tak bisa diburu. Tujuh nama gunung yang diwariskan tanpa kertas selama tujuh generasi. Subuh-subuh yang membiru. Air mata neneknya yang tak bisa lagi mengucapkan nama gunung ketiga. Kerapatan tujuh garis yang berarti satu keturunan saling jaga.
Itu semua tidak ada di kain printing. Tidak bisa ada. Mesin bisa meniru motifnya—Bagas benar soal itu, motif bisa dipindai dan dicetak—tapi mesin tidak bisa meniru tangan di baliknya, cerita di baliknya, kelangkaan di baliknya. Printing bisa membuat ribuan meter dalam semalam, dan justru karena itu, tiap meter tak bernilai. Kampung hanya bisa membuat puluhan meter setahun, dan justru itu—Sekar berhenti, menahan napas—justru itu yang seharusnya membuatnya mahal. Bukan meski lambat. Karena lambat. Bukan meski tak seragam. Karena tak seragam. Bukan meski tiap helai berbeda. Karena tiap helai berbeda, dan tak ada helai kedua yang sama persis di seluruh dunia.
Selama ini ia mencoba menjual kelambatan, ketidakseragaman, dan kemahalan sebagai kelemahan yang harus disembunyikan atau dimaafkan. Ia datang ke grosir meminta maaf karena tak bisa seragam. Ke butik meminta maaf karena terlihat tua. Ia menjual kain seolah meminta belas kasihan agar dimaafkan untuk apa adanya kain itu.
Dan ia salah. Bukan kainnya yang harus berubah. Cara menjualnya yang harus berubah. Gagasan samar yang tumbuh di bus malam itu, berbulan lalu—apakah ada cara membuat kain ini diinginkan kota tanpa membuatnya berhenti jadi kain kampung—kini punya bentuk pertama, masih kasar tapi nyata. Jawabannya bukan mengubah kainnya. Jawabannya berhenti menjual benda, dan mulai menjual yang membuat benda itu tak tergantikan: tangan, cerita, dan kelangkaan.
Ia kembali ke tangga, membuka buku butiknya ke halaman baru, dan menulis satu kalimat di atas, dengan tangan yang sedikit gemetar bukan karena takut tapi karena gembira yang lama tak ia rasakan: "Bukan ubah kainnya. Ubah cara menjualnya."
Di bawahnya, ia menggambar—bukan motif baru, bukan garis yang direnggangkan, tidak ada lagi pengkhianatan kecil itu. Ia menggambar sesuatu yang lain. Sebuah kartu kecil. Selembar kertas yang akan menyertai tiap kain, bertuliskan nama penenun yang membuatnya, berapa lama ia dikerjakan, dan satu dari tujuh nama gunung. Ia belum tahu apakah ini akan berhasil. Ia belum tahu siapa yang akan membayar untuk tangan dan cerita ketika mereka tak mau membayar untuk kain. Tapi untuk pertama kalinya sejak pena menyentuh kertas di lobi rumah sakit, Sekar memegang sesuatu yang bukan jalan keluar yang gampang—sesuatu yang sulit, yang lambat, yang mungkin gagal—tapi yang tidak meminta ia membunuh apa pun untuk mencobanya. Dan itu, malam itu, terasa lebih berharga daripada angka mana pun di map biru.