Sekar membutuhkan tiga hari untuk berani melakukannya: menggelar kembali sembilan kain yang dipulangkan itu di lantai kolong, di siang hari, di bawah cahaya pintu yang paling jujur, dan memeriksanya bukan dengan rasa malu, melainkan dengan mata yang dingin seperti mata yang dulu ia pakai di butik untuk menilai dagangan orang.
Ia meminjam cara itu kembali. Bukan cara penenun yang menyayangi kainnya, bukan cara pemilik yang malu pada gagalnya, tapi cara pembeli yang tak punya perasaan terhadap kain di hadapannya selain satu pertanyaan: apa yang salah, dan kenapa.
Ia memisahkan kesembilan kain menurut cacatnya. Dua kain dengan lajur biru pucat di tepi—yang celupannya ia pangkas dari tujuh ke lima. Empat kain dengan tenunan tegangan meleset—yang dikerjakan tangan Warni dan Yanti dalam ketergesaan. Dan tiga kain lain dengan cacat campuran, sedikit ini, sedikit itu.
Lalu ia mengambil keenam kain yang diterima Mbak Andien—untungnya ia sempat memotretnya dan mencatat tiap detailnya sebelum dikirim, kebiasaan butik yang dulu ia kira sepele—dan ia membandingkan.
Dan kebenaran yang muncul dari perbandingan itu membalik segalanya yang ia kira ia tahu tentang pasar.
Keenam kain yang diterima, yang dipuji, yang dibayar penuh dengan harga tertinggi—semuanya, tanpa kecuali, adalah kain yang dikerjakan penuh pakem. Tujuh celup. Tujuh gunung utuh. Sebagian besar ditenun tangan Bu Ngatiyem dan Bu Lastri dan Sekar sendiri, tangan matang yang tak ia paksa buru-buru karena ia masih punya waktu di awal sebelum hujan dan panik datang. Kain-kain itu lambat. Kain-kain itu tak seragam—tiap helai punya tepi yang sedikit berbeda, kerapatan yang hidup, jejak tangan. Dan justru karena itu Mbak Andien mengambilnya dan membelanya di depan siapa pun.
Sembilan kain yang ditolak—semuanya, tanpa kecuali, adalah kain yang ia kompromikan. Yang ia percepat. Yang ia pangkas. Yang ia paksakan ke tangan yang belum siap demi mengejar waktu.
Sekar duduk di antara dua tumpukan itu untuk waktu yang lama.
Ia selalu mengira—sejak bus yang membawanya pulang, sejak penolakan Pak Tarno dan Mbak Vira, sejak gagasan edisi bernomor lahir—bahwa kelambatan dan ketidaksempurnaan kain tangan adalah kelemahan yang harus ia kelola, ia sembunyikan, ia kompromikan secukupnya agar bisa bersaing di pasar yang menuntut cepat dan seragam. Ia mengira tugasnya adalah menemukan titik tengah: cukup asli untuk bercerita, cukup cepat untuk laku. Dan ketika tenggat menjepit, ia berkompromi ke arah yang ia kira lebih aman—ke arah cepat, ke arah pasar.
Ia salah arah.
Yang membuat kainnya mahal bukan keasliannya yang dikompromikan menjadi cukup cepat. Yang membuat kainnya mahal adalah keasliannya yang utuh. Tujuh celup yang penuh. Tangan yang tak diburu. Tepi yang hidup karena tak dikejar mesin di kepala. Mbak Andien tidak membayar mahal untuk kain tujuh gunung yang dibuat secepat mungkin tanpa terlalu kelihatan cacatnya. Mbak Andien membayar mahal justru untuk yang lambat, yang penuh, yang tak seragam. Kelambatan bukan ongkos yang harus ditekan. Kelambatan adalah barang yang ia jual.
Setiap kali ia memangkas demi tenggat, ia memangkas tepat hal yang membuat kain itu layak dibeli. Ia seperti pedagang madu yang mengencerkan madunya dengan air supaya bisa menjual lebih banyak botol, lalu heran kenapa orang berhenti mau membayar mahal. Air itu, bagi pembeli yang tahu, bukan tambahan. Air itu pengrusakan.
Ia teringat kata-kata Bu Ngatiyem yang waktu itu ia dengar sebagai amarah orang tua yang keras kepala: pakem itu bukan untuk pembeli, pakem itu untuk kita supaya kita tetap kita. Ternyata Bu Ngatiyem tidak hanya benar secara adat. Bu Ngatiyem benar secara dagang, lebih benar dari Sekar yang merasa fasih dua bahasa. Karena di pasar premium yang ia incar, menjadi kita-yang-utuh adalah satu-satunya keunggulan yang tak bisa ditiru pabrik. Begitu ia mengencerkan kita, ia menjadi pabrik yang lambat dan mahal—gabungan terburuk dari kedua dunia, kalah cepat dari mesin dan kalah utuh dari dirinya sendiri.
Sekar mengambil salah satu kain bercacat lajur pucat, menggelarnya di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya melihat cacat itu bukan sebagai aib teknis, tapi sebagai jejak dari keputusan moral. Lajur biru yang lebih muda itu adalah catatan tertulis tentang malam ia menyerah pada ketakutannya. Kain itu jujur. Kain selalu jujur. Kain merekam tepat tangan macam apa yang membuatnya dan keputusan macam apa yang ada di belakang tangan itu.
Ia berdiri. Sesuatu di dadanya yang sejak kardus dipulangkan terasa seperti puing, kini, anehnya, mulai terasa seperti pijakan. Karena jika kegagalan ini disebabkan oleh kompromi, maka penyembuhannya bukan misteri. Penyembuhannya sederhana, meski tak mudah: berhenti berkompromi pada inti. Tak ada lagi benang lima celup. Tak ada lagi tangan yang dipaksa buru-buru pada bagian yang menuntut kematangan. Tak ada lagi tenggat yang lebih penting dari pakem. Jika itu membuat mereka lambat, biarlah mereka lambat—karena lambat adalah yang mereka jual. Jika itu membuat mereka kehilangan pesanan yang menuntut cepat, biarlah hilang—karena pesanan yang menuntut mereka mengkhianati diri sendiri bukan pesanan yang menghidupkan, melainkan pesanan yang membunuh dengan cara yang terlihat seperti rezeki.
Ia mengumpulkan kembali kesembilan kain itu, melipatnya dengan hati-hati, dan menyimpannya bukan untuk dijual murah, tapi untuk diingat. Bukti yang akan ia tunjukkan pada kampung. Bukan bukti kegagalan mereka, tapi bukti kebenaran yang harganya satu pesanan besar dan nama mereka di kota: bahwa yang membuat kain ini hidup adalah tepat hal yang ia hampir buang. Dan untuk mengatakan itu pada kampung, untuk memperbaiki yang ia retakkan, ia harus melakukan hal yang lebih sulit dari membongkar kain—ia harus berdiri di depan mereka dan mengakui, dengan lengkap, bahwa ia salah.