Sekar belum sempat memutuskan bagaimana memulai pendaftaran, belum sempat menghadapi Bu Ngatiyem soal menulis tujuh gunung, ketika kabar itu datang—dan datang dengan cara yang membuat seluruh ironi yang ia takutkan menjadi nyata jauh lebih cepat dari yang ia kira.
Ia menerimanya dari arah yang tak diduga: dari salah satu temannya yang masih bekerja di lingkar mode kota, seorang perempuan bernama Rena yang dulu sesama penjaga butik, yang mengiriminya pesan dengan tangkapan layar sebuah pengumuman pendaftaran merek. "Sekar, ini ada hubungannya sama kampungmu nggak? PT Rasaraya mendaftarkan merek baru, namanya 'Sapta Giri Heritage', dan logonya itu... aku lihat motifnya, kok mirip banget sama kain yang dulu kamu tunjukkan ke aku. Tujuh garis itu."
Sekar memperbesar gambar itu di layar ponsel dengan jantung yang mulai berdebar. Sapta Giri. Tujuh gunung, dalam bahasa yang lebih halus, yang lebih bisa didaftarkan, yang lebih bisa dimiliki. Dan logo di sebelahnya—bukan jiplakan persis, tidak, Bagas terlalu cerdas untuk menjiplak persis—tapi sebuah penyederhanaan bergaya dari tujuh garis menanjak yang siapa pun yang pernah melihat lungsin tujuh gunung akan langsung mengenalinya. Diperhalus. Dimodernkan. Dijadikan logo yang bersih dan elegan untuk sebuah lini produk. Tapi akarnya, tak ragu lagi, adalah motif kampungnya.
Ia duduk lama menatap layar itu, dan rasa yang muncul bukan amarah seperti yang ia kira. Yang muncul adalah kekaguman yang dingin pada kelihaian Bagas, dan ketakutan yang lebih dingin lagi pada betapa rapi jebakan ini—karena ini bukan pencurian. Tidak ada yang dicuri. Bagas tidak mengambil kain kampung dan menjiplaknya diam-diam. Bagas tidak melanggar hukum apa pun. Ia melakukan sesuatu yang sepenuhnya legal: mendaftarkan sebuah merek dengan unsur visual yang terinspirasi—begitu istilah halusnya—dari motif yang belum dilindungi siapa pun. Karena tujuh gunung tak terdaftar atas nama siapa-siapa, ia mengambang bebas, dan siapa pun yang lebih dulu mengulurkan tangan ke meja pendaftaran bisa mengikatnya.
Dan akibatnya, Sekar mulai memahami sambil membaca dan bertanya ke sana-sini sepanjang hari itu, bisa mematikan. Jika merek 'Sapta Giri' itu disahkan, Rasaraya akan memegang hak atas unsur visual yang mirip tujuh gunung dalam kategori produk tekstil dan mode. Mereka tak akan bisa melarang kampung menenun motif aslinya begitu saja—motif yang sudah turun-temurun punya pembelaannya sendiri—tapi mereka bisa membatasi, bisa menggugat, bisa membuat kampung harus membuktikan di pengadilan bahwa motifnya lebih tua dari merek Rasaraya, sebuah pembuktian yang mahal dan panjang dan tak pasti karena kampung tak punya satu lembar pun dokumen yang membuktikan apa pun. Dan dalam keraguan hukum itu, pembeli dan pasar akan bingung: yang mana yang asli, yang mana yang resmi, dan ketika kebingungan itu ada, yang menang adalah yang punya merek terdaftar dan iklan, bukan yang punya tangan dan akar.
Ini, ia sadari dengan mual yang dingin, adalah wujud sempurna dari pertarungan yang sejak awal ia hadapi tanpa benar-benar mengerti bentuknya. Bukan penjahat yang mencuri di malam hari. Bukan kontrak yang bisa ia tolak dengan meletakkan pena. Tapi sebuah perlombaan administratif yang nyaris kampung kalahkan tanpa pernah tahu sedang bertanding—karena selama kampung sibuk menjaga agar tak ada tangan yang menandatangani penyerahan, Bagas tak repot-repot meminta tanda tangan. Ia cukup sampai lebih dulu di meja, dengan berkas yang lebih rapi, di sebuah perlombaan yang kampung bahkan tak tahu sudah dimulai.
Sekar menelepon Bagas. Ia harus mendengarnya sendiri, dari mulut orang itu.
Bagas mengangkat dengan keramahan yang sama seperti selalu, dan ketika Sekar menyebut 'Sapta Giri', ia tak menyangkal, tak terdengar bersalah, justru terdengar seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban. "Mbak Sekar, saya tahu ini terdengar tidak enak. Tapi dengarkan dulu. Saya tidak mendaftarkan motif Mbak. Saya mendaftarkan merek saya sendiri, yang terinspirasi keindahan tekstil Nusantara. Itu legal, dan banyak merek melakukannya. Justru, kalau Mbak mau, ini bisa jadi awal kerja sama yang baik—di bawah payung merek yang kuat, kain tangan Mbak bisa menjangkau pasar yang Mbak sendiri tidak akan pernah sanggup raih. Saya tidak menutup pintu Mbak. Saya membuka pintu yang lebih besar."
"Kamu mendaftarkan tujuh gunung, Bagas."
"Saya mendaftarkan tafsir saya atas keindahan yang umum. Mbak tidak bisa memiliki gunung, Mbak Sekar. Tidak ada yang bisa memiliki tujuh garis menanjak. Kecuali," dan di sini suaranya melembut, dan justru kelembutan itu yang paling tajam, "kecuali ada yang mendaftarkannya lebih dulu, secara sah. Saya cuma melakukan yang Mbak bisa lakukan tapi tidak Mbak lakukan. Saya tidak menyalahkan Mbak. Mbak sibuk bertahan hidup. Tapi dunia bekerja begini, dan saya bekerja di dunia ini."
Sekar menutup telepon, dan untuk sesaat ia hanya berdiri di ruang tengah, di samping amben Mbah Sumirah, menatap neneknya yang tak bisa bicara, pewaris tujuh gunung yang sekarang mengambang tak terlindungi di mata negara, terancam diikat orang lain. Dan ia mengerti bahwa taruhan baru saja naik ke tingkat yang belum pernah ia hadapi: bukan lagi soal bertahan dari satu pesanan ke pesanan lain, bukan lagi soal menolak satu kontrak, tapi soal apakah kampung bisa sampai di meja pendaftaran lebih dulu, atau cukup kuat, untuk membuktikan bahwa tujuh gunung miliknya, sebelum klaim Rasaraya mengeras menjadi hak yang sah. Dan untuk itu ia harus berpacu dengan waktu dan dengan birokrasi yang lambat dan dengan ketakutan Bu Ngatiyem sekaligus—karena satu-satunya cara membuktikan tujuh gunung milik kampung adalah dengan menuliskan yang selama berabad-abad sengaja tak ditulis.