Berita tentang helikopter dan angka raksasa itu sudah menyebar ke seluruh kampung sebelum Sekar sempat menjelaskan, dan ketika ia datang ke rapat koperasi malam itu, ia bisa merasakan ketegangan di balai bahkan sebelum ia duduk. Karena kali ini, tidak seperti tawaran Bagas, tidak semua orang setuju dengan penolakannya. Dan Sekar tahu mereka berhak tidak setuju.
Yanti yang pertama bicara, dan suaranya jujur, tidak menyerang, hanya getir. "Mbak Sekar, saya nggak mau nentang. Tapi saya cuma mau ngerti. Angka itu... Bujang bilang angka itu bisa bangun rumah buat semua penenun di sini. Bisa biayai anak-anak kita sekolah sampai kuliah. Anak saya, Mbak, dia pintar, tapi saya nggak tahu bisa nyekolahin dia sampai mana. Uang sebesar itu bisa ngubah hidup keluarga saya. Dan Mbak tolak dalam satu sore." Ia menunduk. "Saya percaya Mbak. Tapi saya cuma mau ngerti, kenapa."
Ruangan diam. Beberapa kepala mengangguk pelan—penenun muda yang masih ingat betapa miskinnya mereka dulu, yang masih punya utang, yang anak-anaknya masih perlu disekolahkan. Mereka tidak memberontak. Mereka hanya, seperti Yanti, ingin mengerti. Dan Sekar tahu ini momen yang lebih penting dari penolakan itu sendiri—karena menolak adalah keputusan satu orang, tapi membuat kampung memahami penolakan adalah keputusan yang menjadikannya milik bersama.
Ia tidak menjawab dengan berkhotbah tentang kemurnian. Ia tahu khotbah tentang kemurnian tak akan menyentuh seorang ibu yang khawatir tak bisa menyekolahkan anaknya. Ia menjawab dengan hitungan—bahasa yang ia kuasai, bahasa yang membumi.
"Yanti," katanya, duduk dan menghadap perempuan itu langsung, "kamu bener. Uang itu bisa ngubah hidup keluargamu—tahun depan. Aku nggak bohong soal itu. Tapi aku mau kamu ikut aku ngitung, sampai habis, bukan cuma sampai tahun depan." Ia mengeluarkan buku butiknya yang lama, dan ia mulai menggambar, pelan, supaya semua bisa ikut. "Tahun depan, kita teken, dananya masuk. Kita kaya. Tapi mereka mau volume. Mereka mau tujuh gunung dibikin semi-mesin biar banyak. Tahun pertama, masih ada kain tangan kita di lini premium, masih mahal, masih ada nama kalian di label. Tahun kedua—" ia menggambar garis menurun, "—pasar udah penuh tujuh gunung mesin. Murah. Di mana-mana. Orang udah bosen, karena udah biasa. Kain tangan kita yang mahal mulai susah laku, karena kenapa orang bayar mahal buat yang bertangan kalau yang mesin keliatannya sama dan separo harga? Tahun ketiga—"
Ia berhenti, dan menatap Yanti. "Tahun ketiga, mereka bilang lini premium nggak menguntungkan. Mereka tutup. Tinggal lini mesin. Dan kalian—kalian yang nenun tangan—nggak dibutuhkan lagi. Mesin lebih murah. Yanti, kamu inget pabrik? Kamu inget kenapa kamu pulang? Karena pabrik ngerumahin kamu pas mereka nggak butuh kamu lagi. Tiga tahun dari sekarang, kalau kita teken, kita jadi pabrik itu. Cuma sekarang kita yang punya, tapi kita juga yang dirumahkan—karena mesin yang kita undang masuk nggak butuh tangan kita."
Ia membalik bukunya ke halaman lain, dan menggambar garis lain—garis yang naik pelan, lambat, tapi tak pernah turun. "Sekarang hitungan yang satu lagi. Kita nggak teken. Kita tumbuh pelan, tempo tenun. Tahun depan kita nggak kaya mendadak. Anakmu belum tentu bisa kuliah tahun depan. Aku jujur sama kamu. Tapi tahun kedua kita masih ada. Tahun ketiga masih ada, malah lebih kuat, karena tujuh gunung tetap langka, tetap mahal, tetap dicari justru karena sedikit. Tahun kelima, anakmu—dan anak-anak yang sekarang belajar di balai—mereka nenun, mereka punya penghasilan, mereka pegang motif. Dan tahun kesepuluh, Yanti, waktu kamu udah tua kayak Bu Ngatiyem sekarang, kampung ini masih hidup. Masih bertangan. Anakmu masih punya kerja yang ada namanya, bukan jadi nomor di mesin orang."
Ia menutup bukunya. "Hitungan pertama: kaya tiga tahun, lalu mati. Hitungan kedua: pelan, tapi nggak pernah mati. Aku tolak helikopter itu bukan karena aku nggak mau kalian kaya. Aku tolak karena aku udah pernah liat kampung ini hampir mati, dan aku tahu rasanya. Aku nggak mau ngasih kalian tiga tahun kaya yang diakhiri dengan mati lagi. Aku mau ngasih kalian sesuatu yang lebih susah dijanjiin tapi lebih layak: kampung yang masih ada waktu cucu kalian lahir."
Ruangan diam lama. Lalu Bu Ngatiyem, yang sejak tadi mendengarkan dari depan, berdiri perlahan. "Aku mau cerita," katanya, dan semua menoleh, karena Bu Ngatiyem jarang bercerita. "Waktu aku muda, ada pabrik tekstil gede dibangun di kota provinsi. Banyak kampung tenun sekitar sini ditawarin kerja sama, mirip yang ditawarin ke kita kemarin. Lebih cepat, lebih banyak, dibantu mesin. Hampir semua kampung terima. Mereka kaya, beberapa tahun." Ia berhenti. "Sekarang kampung-kampung itu nggak ada lagi. Bukan kampungnya hilang—orangnya masih ada. Tapi tenunnya mati. Anak mudanya nggak ada yang bisa nenun. Motifnya lupa. Mereka dulu pilih cepat, dan cepat itu nganterin mereka ke ujung jalan lebih cepat." Ia menatap Yanti, lalu seluruh ruangan. "Cuma kampung yang nolak waktu itu yang masih nenun sampai sekarang. Watu Lawang salah satunya. Kita masih ada karena Sumirah, dan emak-emak sebelum Sumirah, keras kepala nolak cepat. Sekar nolak helikopter kemarin pakai keras kepala yang sama. Aku percaya keras kepala itu. Keras kepala itu yang bikin kita masih hidup waktu yang lain udah jadi cerita."
Yanti mengangkat wajahnya, dan matanya basah, tapi ia mengangguk. "Saya ngerti sekarang, Mbak," katanya pelan. "Maaf saya sempat ragu."
"Nggak usah minta maaf," kata Sekar. "Kamu nggak ragu. Kamu nanya. Dan kampung yang sehat itu kampung yang anggotanya berani nanya, bukan yang cuma manggut-manggut. Kalau kamu nggak nanya, aku nggak akan ngitung sampai habis di depan kalian, dan keputusan ini cuma jadi keputusanku. Sekarang ini keputusan kita."
Mereka menutup rapat malam itu dengan kesepakatan yang lebih dalam dari sekadar menolak satu investor: kesepakatan tentang siapa mereka, dan mau jadi apa mereka. Bukan kampung yang ingin sebesar mungkin, secepat mungkin. Melainkan kampung yang ingin selama mungkin, sebenar mungkin. Pertumbuhan bukan tujuan. Pertumbuhan hanya berguna sejauh ia tidak menggerus hal yang membuat mereka layak tumbuh sejak awal.
Ketika Sekar berjalan pulang ke rumah neneknya malam itu, ia melewati balai tempat dua kain tujuh gunung tergantung bersisian—kain janji yang dimulai neneknya, dan kain kenang yang dikerjakan seluruh kampung. Ia berhenti sejenak di pintu, memandangnya di keremangan. Pertanyaan yang membelahnya sejak hari pertama ia pulang—bisakah warisan naik kelas tanpa kehilangan jiwanya, dan siapa yang berhak memutuskan—malam ini terjawab dengan kejernihan yang menenangkan. Bisa. Dan yang berhak memutuskan adalah tangan-tangan yang menghidupinya: tangan tua Bu Ngatiyem, tangan muda Warni, tangan ragu-tapi-jujur Yanti, tangan Sekar sendiri yang dulu nyaris lupa dan kini ingat. Bukan helikopter. Bukan map tebal. Bukan angka yang terbang masuk dan terbang keluar. Tangan-tangan yang tinggal, yang menenun, yang menjaga ambang—merekalah yang berhak, dan malam ini mereka telah memilih, bersama, untuk tumbuh perlahan dan tetap utuh.