Mbak Vira datang ke kampung tanpa pemberitahuan, dan itu sendiri sudah cukup mengejutkan—orang kota seperti dia biasanya menelepon dulu, mengatur janji, datang dengan mobil yang dicuci bersih dan sepatu yang tak siap menginjak tanah lereng yang lembap. Tapi sore itu ia muncul begitu saja di balai, sepatunya berlumpur tipis, rambutnya yang biasanya rapi sedikit terurai oleh angin gunung, dan di wajahnya ada sesuatu yang tidak pernah Sekar lihat dulu: kerendahan hati.
Sekar mengenalnya seketika. Mbak Vira, pemilik butik mode yang dulu—di hari-hari paling putus asa Sekar mencari pembeli—tidak hanya menolak kainnya, tapi menolaknya dengan cara yang paling melukai. Bukan acuh seperti Bu Hartati. Vira waktu itu memegang kain tujuh gunung, menatap Sekar dari atas ke bawah, dan berkata dengan senyum yang seperti kasihan: "Mbak, jujur ya. Ini nggak akan laku. Motifnya tua, kayak kain nenek-nenek. Kalau Mbak mau saya bantu jual, ubah dulu. Bikin warnanya pastel, motifnya disederhanain, dibikin lebih modern. Yang kayak gini"—ia menyentil tepi kain dengan ujung kuku—"nggak ada tempatnya di butik saya." Sekar pulang hari itu dan menangis di dalam bus, bukan karena ditolak, tapi karena disuruh mengubah jiwa kain itu seolah jiwanya adalah aib.
Dan kini Vira berdiri di balai, di antara ATBM yang berderit, memandang kain-kain tujuh gunung yang tergantung di dinding dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Mbak Sekar," katanya, dan suaranya tidak lagi punya nada tinggi yang dulu. "Mungkin Mbak nggak inget saya."
"Saya inget, Mbak Vira," kata Sekar tenang.
Vira mengangguk, seolah ia memang berharap diingat dan sekaligus takut diingat. "Saya datang mau ngomong langsung, nggak lewat telepon, karena saya pikir... ini pantes diomongin langsung." Ia menelan. "Saya mau kerja sama. Butik saya mau jual kain tujuh gunung. Saya mau ambil rutin, berapa pun yang Mbak bisa kasih."
Sekar tidak menjawab langsung. Ia mempersilakan Vira duduk, menyuguhkan air, memberinya waktu. Ia tidak merasa puas dengan pembalikan ini—ia sudah cukup lama berjuang untuk tahu bahwa balas dendam kecil seperti itu tak akan memberi makan satu pun penenun. Tapi ia juga tidak akan berpura-pura tak ingat.
"Kenapa sekarang, Mbak?" tanya Sekar. "Dulu Mbak bilang kain ini nggak ada tempatnya di butik Mbak."
Vira menunduk. "Karena pasar berubah, dan saya hampir telat ngikutin. Saya liat kain Mbak masuk pameran di kota besar. Saya liat dipajang di butik Bu Hartati, dijual mahal, laku. Saya liat orang-orang yang dulu pelanggan saya sekarang nyariin tenun tangan, kain bercerita, yang ada nama penenunnya. Dan butik saya... isinya barang yang sama kayak butik lain. Cantik, modern, kosong. Pembeli saya pindah ke yang punya cerita." Ia mengangkat wajahnya, dan ada kejujuran yang menyakitkan di sana. "Saya datang karena butuh, Mbak. Saya nggak mau bohong dan bilang saya datang karena tiba-tiba ngerti seni. Saya datang karena pasar maksa saya ngerti. Saya datang terlambat."
Sekar menghargai kejujuran itu. Ia tahu betapa sulitnya bagi orang seperti Vira mengakui telah salah dan datang ke kampung yang dulu ia rendahkan.
"Saya mau kerja sama, Mbak Vira," kata Sekar akhirnya, dan ia melihat kelegaan di wajah Vira sebelum ia menambahkan, "tapi dengan syarat kampung. Bukan syarat butik Mbak."
Vira mengangguk cepat. "Apa syaratnya?"
Sekar menarik napas, dan kata-kata itu keluar dengan kemantapan yang dua tahun lalu tak ia miliki. "Pertama: motif nggak diubah. Nggak ada pastel, nggak ada disederhanain, nggak ada dibikin modern. Tujuh gunung dijual seperti adanya—tujuh garis, tujuh celup, warna asli akar. Kalau Mbak mau jual, Mbak jual yang ini, bukan versi yang Mbak suruh saya bikin dulu."
Vira terdiam, dan Sekar melihat sesuatu melintas di wajahnya—mungkin malu mengingat persis kata-katanya sendiri dulu.
"Kedua," lanjut Sekar, "harga ditentukan koperasi, bukan ditawar. Kain ini dikerjakan tangan, berhari-hari, sama perempuan yang punya nama. Harganya udah dihitung supaya mereka dapat upah layak. Mbak ambil komisi wajar, tapi harga dasarnya nggak boleh diobral. Ketiga: nama penenunnya selalu dipajang di sebelah kainnya. Yang ngikat Warni, ya tulis Warni. Yang ngerjain Bu Lastri, tulis Bu Lastri. Kain ini bukan barang tanpa asal. Tiap helai ada tangannya."
Vira mendengarkan, dan ketika Sekar selesai, ia diam lama. Lalu ia tersenyum kecil, senyum yang berbeda dari senyum kasihan dua tahun lalu. "Mbak tau, ya," katanya, "dua tahun lalu saya suruh Mbak ubah kainnya biar laku. Sekarang Mbak yang ngasih saya syarat supaya nggak boleh diubah, dan justru itu yang bikin laku. Saya yang salah total." Ia mengulurkan tangan. "Saya terima semua syaratnya, Mbak. Apa adanya. Justru karena apa adanya itu yang saya butuh."
Sekar menjabat tangan itu. Dan ketika Vira sudah pamit, kembali ke mobilnya dengan sepatu berlumpur tipis, Sekar berdiri sejenak di pintu balai, memandang kain tujuh gunung di dinding. Ia teringat perempuan muda yang pulang dari kota itu menangis di dalam bus karena disuruh mengubah jiwa kainnya. Ia ingin sekali bisa kembali ke saat itu, duduk di samping perempuan muda itu, dan berkata: jangan ubah apa pun. Tunggu saja. Suatu hari orang yang menyuruhmu mengubahnya akan datang justru karena kamu tidak mengubahnya.
Ia tak bisa kembali ke masa itu. Tapi ia bisa memastikan tak ada penenun muda di kampung ini yang akan disuruh mengubah jiwa kainnya lagi demi laku. Itu, ia pikir sambil masuk kembali ke balai yang berderit, adalah cara terbaik membalas penolakan dua tahun lalu: bukan dengan dendam, tapi dengan menjadikan kampung ini tempat di mana jiwa kain tak pernah lagi jadi sesuatu yang harus diminta-maafkan.