Tak butuh waktu lama untuk memulai ijab qalbunya, Garvi langsung duduk dan menjambat tangan penghulunya dengan erat. Ada sedikit perasaan khawatir, tetapi Garvi berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan sekali ucap dan mendapatkan tepukan tangan dengan semangat dengan meriah.
Ada senyuman lega yang terbit di wajah tampan Garvi sedangkan di dalam ruangan Aurora memasang ekspresi tak senang karena Garvi berhasil melakukan ijab qabulnya dengan baik perasaan mereka berdua memang saling tak menyukai namun takdir memang sudah berkata lain.
Kemudian mereka dan para tamu yang ada di rumah Aurora pergi ke hotel yang sudah di pesan untuk melangsungkan acara resepsi pernikahan.
Aurora menaiki mobil pengantin bersama dengan Garvi, selama perjalanan menuju hotel tidak ada pembicaraan antara mereka berdua, mereka bahkan duduk berjauhan Aurora yang menyandar pada kursi di mobil dan memandangi jalan yang di laluinya, sedangkan Garvi yang sibuk dengan ponselnya tidak memperhatikan Aurora.
Mereka berdua hanya berdiam diri sehingga membuat supir merasa binggung sembari melirik-lirik kebelakang dan berkata dalam hati.
“Ini dua orang! Bukanya seneng ya kok malah pada begitu sih!” batin supir.
Supir yang sedang melirik Aurora dan Garvi tak sengaja terlihat oleh Garvi kemudian supir itu merasa tak enak hati dengan spontan meluruskan pandanganya kembali.
Tidak lama kemudian mereka sampai supir membukaan pintu untuk Garvi dan Garvi membukan pintu untuk Aurora yang sekarang sudah sah menjadi istrinya, Garvi mengelurkan tangannya kepada Aurora, Aurora menyambut uluran tangan Garvi dan sekarang mereka sudah bergandengan berjalan menuju tempat resepsi mereka.
Para pengantin berjalan dir iringi oleh kedua orang tua mereka hingga sampai di tempat duduk pengantin dan masing-masing orang tua dari juga duduk di samping pengantin, meskipun tempatnya ramai baik Garvi maupun Aurora tidak merasa demikian, mereka merasa ada kekosongan di dalam dirinya.
Jika pada umumnya sepasang kekasih yang menikah merasakan kebahagiaan tapi tidak dengan mereka berdua, mereka tidak dapat merasakan apapun bahkan mereka juga binggung harus senang ataupun sedih, mereka hanya menjalanin jalan yang memang harus di lewatinya.
Setelah sampai di tempat duduknya mereka mulai di foto-foto dan para tamu mulai bertadangan memberikan restu kepada pengantin.
“Lu gimana tadi perjalanan kesini?” tanya Aurora.
“Ya ga gimana-gimana? Lancar-lancar aja kok!” jawab Garvi ketus.
“Duh lu tuh kenapa sih! Gabisa apa kalo sama gua tuh jangan ketus-ketus!” protes Aurora.
“Ketus apanya sih! Emang orang gua kayak gini kok ya! Lu kayak gabiasa aja sama gua!” ujar Garvi.
“Haduh iya deh! Nyesel kalo gini caranya sih! Gua nanyain lu!” gerutu Aurora.
“Yaudah kenapa ga diem aja! Biasanya juga diem aja kan lu! Ga ada ngomong-ngomongnya tuh! Kenapa sekarang ngajakin ngomong!” sela Garvi.
“Masya allah sekarang gini ya! Gua tau perasan lu gimana! Gua tua dan paham banget, bahkan gua sadar banget ga ada perasaan apapun antara lu dan gua! Tapi gua udah mencoba untuk menerima takdir ini, gua udah berusaha buat ihklasin ini!” lirih Aurora.
“Bukan lu aja yang sakit disini! Gua juga sakit! Sama gua juga! Yaudah maafin gua kalo emang lu kesel sama gua! Lu boleh benci sama gua! Lu boleh ga perduli sama gua! Dan lu boleh ngelakuin semua yang lu mau tanpa persetujuan gua!” sambung Aurora.
“Tapi gua mohon jangan perlakukan gua seperti ini! Setidaknya perhalus lah sedikit omongan lu! Jangan ketus terus sama gua! Jangan buat gua ngerasa semakin bersalah! Dengan sikap lu yang kayak gini ngebuat gua ngerasa bersalah banget, karena sudah ngerusak kebahagian lu dan Aurel, percaya gua juga gamau hal ini terjadi!” ungkap Aurora.
Garvi yang merasa tak enak hati dengan tindakannya yang di lakukannya kepada Aurora membuatnya merasa bersalah dan langsung meminta maaf karena entah Garvi juga tidak sadar telah melakukan itu kepada Aurora.
“Ah iya maaf, aku ga ada maksud apa-apa kok! Aku cuman lagi kesel ajah tadi pagi, jadi kebawa sampe sekarang maaf ya!” ujar Garvi lembut.
“Kamu hari ini cantik banget tau!” puji Garvi.
“Udah gapapa dah udah lewat juga! Aku cuman ngomong doang kok! Iya makasih tapi gausah muji-muji gua tau lu muji gua karena ngerasa gaenak kan!” tampis Aurora.
“Ih ga gitu tapi beneran lu tuh cantik hari ini! Bukan karena gua ngerasa gaenak sama lu! Gua ngomomg fakta kok!” kata Garvi.
“Udah gua tau kok! Yaudah tuh ada temen-temen kamu pada dateng!” ujar Aurora mengalihkan topik.
Di tengah-tengah pernikahan datang lah orang yang di harapkan hadir yaitu mantannya Aurora entah dari mana dia tau bahwa Aurora akan menikah hari ini walaupun tak di undang., melihat ini Aurora merasa sakit karena orang yang dia masih sangat cintai datang menemuinya di hari pernikahannya, Aurora yang sangat berharap kalo lelaki yang berdiri di sampingnya adalah mantannya namun itu hanyalah harapan belaka yang tidak akan pernah terjadi.
Aurora yang melihat Bagus terjekut dalam hatinya berkata mengapa bisa lelaki yang tak ingin di temuninya kembali dan tak di undangnya ke acara pernikahanya datang dengan senyuman yang tak tau malu, Garvi yang melihat ekpresi aneh dari wajahnya Aurora bertanya-tanya mengapa raut wajah Aurora seperti itu.
“Kamu kenapa!” tanya Garvi.
“Ah gapapa kok!” jawab Aurora.
“Bohong ya! Soalnya ekspresi wajah kamu kayak yang tegabg gitu!” ujar Garvi.
“Ga beneran kok aku gapapa!” sela Aurora.
Bayu menghampiri pengantin dan mengucapkan selamat atas pernihakan mereka berdua namun saat bersalaman dengan Aurora, Bayu mengedipkan matanya sambil bertanya-tanya kabar dan mencurahkan sedikit rasa rindu.
“Selamat atas pernikahan lu Ra! Semoga bahagia! Dan gua mau bilang kalo gua kangen sama lu!” ujar Bayu.
“Ah iya ... makasih semoga bahagia juga!” jawab Aurora singkat.
Garvi yang mendengar ucapan yang di lontarkan Bayu kepada Aurora sedikit merasa terganggu mengapa harus terdengar sampai kupingnya bukan tidak suka atau gimana hanya saja rasanya terlalu aneh, kok ada seorang lelaki yang bisa mengatakan hal seperti itu di saat sedang bersama suaminya entah gila atau apa lelaki itu.
Bayu pun selesai dengan ucapan selamatnya kepada Aurora dan Garvi kemudian menikmati santapan yang di sajikan oleh pengantin, Bayu memakan tanpa malu-malu seperti tidak ada lagi perasaan malu di dirinya.
Garvi dan Aurora tidak menghiraukan Bayu dan menyibukan diri dengan tamu-tamu yang datang dengan restunya.
Waktu pun sudah lama berlalu acarapun sudah selesai, sekarang Aurora dan Garvi dan semua para keluarga bergegas untuk pulang kerumah Aurora karena hari ini Garvi sudah sah menjadi suami Aurora, Hari ini Garvi tidak ikut pulang ke rumah Aurora.
Kini Garvi dan Aurora sudah berada di dalam mobil, rasanya mereka berdua sangat kelelahan ingin langsung merebahkan tubuhnya di kasur untuk beristirahat, karena rasa lelahnya Aurora dan Garvi tanpa sadar duduk berdekatan dan kepala mereka berdasandaran satu sama lain.
Mereka bersandar sampai sampai kerumah dan setelah sampai dirumah Aurora, Aurora dan Garvi langsung masuk ke kamar, tapi Garvi keluar lagi karena tidak ingin menganggu Aurora yang sudah lelah dan ingin tidur, Garvi memutuskan untuk turun lagi ke ruang tamu untuk mengobrol bersama mertua dan papih mamihnya.
“Eh Garvi kok sendirian aja?!” sapa Ganendra.
“Iya kemana Auroranya nak?!” tanya Carissa.
“Aurora lagi mandi mom! Terus ya aku kesini aja! Gaenak juga masih ada tamu di tinggal ke atas!” ujar Garvi tak enak hati.
“Oh iya yaudah sini aja ngobrol-ngobrol sama kita!” ajak Manendra.
“udah pada makan belum! Tadi kan disana ga sempet makan! Makan yuk!” ajak Ganendra.
“Iya penganten nih! Yang dari tadi sibuk nerimain tamu! Ga sempet makan kan! Makan dulu aja!” ujar Carissa.
“Hehehe tapi Garvi belum laper mih! Udah gapapa nanti Garvi makannya bareng Aurora aja! Duluan aja sok!” kata Garvi.
“Ahaha yaudah kalo belum mau mah! Gimana perasaan kamu hari ini!” tanya Ganendra.
“Grogi banget hehehe! Dan ga nyangka sih! Nikah!” ujar Garvi.
“Tapi kamu bisa berhasil dengan baik kok! Orang 1 kali sebut langsung bisa!” sanjung Ganendra.
“Ya alhamdulilah itu juga! Untung banget! Kan jadi ga lama dan ya berjalan dengan baik gitu!” sambung Manendra.
“Dulu papi juga gitu! Pas nikah sama mamih kamu!” pamer Manendra.
“Aih biasa kalo papih kamu mah gamau kalah ekekwk!” sahut Ganendra.
“Iya gatau nih! Gamau aja kalah sama anaknya!” ujar Garvi.
“Heh kamu tuh anak papih! Ya kamu kayak gitu ya karena keturunan papih!” ungkap Manendra.
“Heheha iya deh iya! Mau gimana lagi kan ya! Susah kalo punya papih narsis habis!” ucap Garvi tak terima.
“Iya huhu sama anaknya aja gamau kalah ya!” kelakar Ganendra.
“Waduh sekrang mah udah ada yang belain ya!” ucap Manendra.
“Awokwokwok!” tawa Ganendra dan Garvi.
Setelah obrolan mereka selesai Garvi ingin naik ke atas, rasanya punggungnya lelah sekali ingin sekali merebahkannya tubuhnya ke kasur, saat sampai di kamar Garvi melihat Aurora yang sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapih, Aurora yang diam saja tidak memperdulikan Garvi yang masuk dan sibuk mencari pakaiannya karena Garvi juga ingin mandi.
Melihat Garvi yang kebinggungan sangat menganggu Aurora yang sedang menikmati drama korea, Akhirnya Aurora bertanya-tanya perihal apa yang di carinya.
“Nyari apapn sih! Mondar-mandir ga jelas!” ujar Aurora.
“Baju mau mandi nih!” jawab Garvi.
“Yailah ngomong orang mah! Diem bae! Punya mulut buat apa! Gamau amat ngomong duluan!” kesal Aurora.
“Ya bukan gitu! Lu kan lagi nonton tuh! Gua gamau ganggu! Biasanya tuh cewek kalo lagi nonton tuh ya! Di ganggu ngomel! Ujar Garvi .
“Terus dengan lu kayak gitu! Lu ga ganggu gua gitu! Sama aja lu ganggu! Malah lebih baik lu nanya sekali keganggu gua! Daripada lu bolak balik ga jelas gitu!” omel Aurora.
“Iyaudah sih kan gatau! Ngomel bae lu tuh! Dimana tau ga bajunya dimana!” kata Garvi.
“Tuh tadi gua taro di lemari! Udah gua susun!” jawab Aurora.
“Lemari dimana!” tanya Garvi.
“Ya lu liat aja tuh satu-satu lemari! Masa iya harus gua siapain juga tuh baju lu!” gerutu Aurora.
“Udah-udah ga perlu! Gua sendiri aja nyari! Udah lu fokus aja tuh nonton!” ujar Garvi.
||Bersambung ....||