Beberapa saat kemudian seseorang yang bisa di katakan kepala proyek dateng menghampiri Garvi dan mereka berbincang-bincang sedikit.
“Selamat siang pak!” sapa mandor.
“Siang, gimana ada kendala apa disini?” tanya Garvi tutup point.
“Untuk saat ini tidak ada kendala apapun pak!” jawab mandor.
“Oh begitu yaudah bagus kalo begitu! Saya hanya ingin melihat-lihat saja!” ujar Garvi.
“Oh iya kira-kira berapa lama jadinya!” tanya Garvi.
“Ya sekitar 1 bulan lagi pak!” jawab Mandor.
“Oh yaudah baiklah! Silakan lanjutkan kerjaannya!” ungkap Garvi.
“Yasudah pak saya ke lokasi kalo gitu!” tutur mandor.
Kepala pelaksanapun kembali mengerjakan pekerjaan sedangkan Garvi masih saja memandangi bangunan yang belum jadi entah apa yang di fikirkanya, sampai beberapa menit Garvi melamun, Lavina yang melihat Garvi seperti ini membuatnya merasa kebingungan dan berusaha menyadarkan kembali dengan memanggil-manggil namanya.
“Pak .. pak Garvi!” panggil Lavina.
Garvi yang meskipun sedang melamun tapi tetap sadar jika di panggil dan menyaut dengan nada santai.
“Iya kenapa Lavina?” sahut Garvi.
“Bapak gapapa kan!” ujar Lavina.
“Ah iya gapapa, yaudah yuk hayo kita pulang perjalanan jauh dan pastinya macet ini!” ucap Garvi.
“Hayo pak!” ungkap Lavina.
Garvi berjalan duluan dan di susul oleh Lavina yang berjalan di belakangnya, setelah sampai mobil Garvi tidak fikir panjang lagi, langsung menjalankan mobilnya dan suasana menjadi sedikit canggung lagi sampai Garvi mencoba untuk memulai obrolan di karena kan sangat penasaran dengan Lavina seseorang yang waktu itu bersama dengan Devandra atau bukan.
“Muka kami ga asing!” kata Garvi.
“Apa kita pernah bertemu?” sambung Garvi.
“Ah saya juga merasa seperti itu pak!” jawab Lavina.
“Kalo boleh tau, apa bapak kenal dengan Devandra?” tanya Lavina.
“Devandra Dipta yang kamu maksud!” ujar Garvi.
“Iya pak, benar!” tutur Lavina.
“Oh iya dia itu sodara saya, oh Iya saya ingat, saya ketemu sama kamu dan Devandra di caffe!” ungkap Garvi.
“Oh iya saya juga sebenarnya udah berfikir kalo itu bapak yang ketemu sama saya dan Devandra do Cafe waktu itu! Waktu itu saya kerja di perusahaan bapak tapi saya gatau bapak! Maafkan saya pak!” ucap Lavina.
“Ah iya iya benar, teryata dunia sempit ya, ya gapapa lagian waktu itu pertemuan pertama juga! Saya juga gatau kalo kamu karyawan saya!” jawab Garvi.
“Kamu pacarnya Devandra?” tanya Garvi lagi.
“Ah iya pak tapi saya gaenak aja, masa sebagai karyawan gatau bosnya siapa!” cibir Lavina.
“Ah ga pak! Saya udah putus sama Devandra udah lama! Waktu itu kebetulan aja ga sengaja ketemu sama Devandra jadi ya ngobrol sebentar, dan yg dia waktu itu cerita kayanya dia mau kuliah di luar negri, terus yaudah gatau lagi sekarang gimana!” jelas Lavina.
“Hmm ... kenapa kalian putus, padahal cocok kayaknya, Devandra suka cerita sama saya dulu, tapi gatau itu kamu bukan ya orangnya!” jawab Garvi sambil terus memperhatikan jalan.
“Ya gimana ya pak! Selama saya pacaran sama Devandra, Devandra lebih mendahulukan sahabatnya ketimbang saya! Lagi jalan sama saya aja, misalkan sahabatnya menghubungi dia minta tolong atau apa, kita langsung pulang! Atau bahkan saya sering di tinggal di tempat, dan pulang sendiri!” jelas Lavina.
“Mungkin wanita yang dia ceritakan ke bapak itu ya sahabatnya, bahkan saya aja ragu dia pacaran sama saya memiliki perasaan yang sama kayak saya juga! Mungkin hanya saya yang menyukai dia dengan sangat, sedangkan dia biasa aja! Mungkin baginya saya terlalu mudah untuk di lepas kemudian di gengam kembali!” lirih Lavina.
“Lah kok kayak gitu! Kalo kayak gitu kenapa dia ga mencoba aja berpacaran dengan sahabatnya, ketimbang harus berpacaran sama orang lain tapi menyakiti perasaan wanita lain!” tutur Garvi.
“Saya juga gatau pak! Setiap saya berbicara seperti itu, dia hanya selalu bilang bahwa dia dengan wanita itu sebatas sahabat tidak ada perasaan lain! Tapi setiap kali dia di hubungi sahabatnya dalam keadaan apapun dia selalu menjadi yang pertama! Entah dia menolak perasaannya dan bersembunyi di balik kata sahabat, atau memang sahabat dia tidak ingin ada hubungan lebih selain ikatan persahabatan!” ucap Lavina sambil melamun memperhatikan jalan.
“Hmm kayak gitu ya! Ya kita gatau sih apa yang ada di hati dan fikiran Devandra, tapi kamu pacaran sama dia berapa lama, dan sahabatnya tau ga kalo Devandra punya pacar!” tanya Garvi mulai penasaran.
“Pacaran sama Devandra tuh sekitar 1 setengah tahun pak, tapi ya selama pacaran saya yang lebih banyak berkorban dan mengalah, sampai putus pun itu gara-gara saya udah ga kuat lagi dengan tingkah dia yang terlalu mudah mengeyampingkan saya, tau bahkan saya pernah ketemu sama sahabatnya Devandra pak!” tutur Lavina.
“Hmm ... yaa iya sih cape lah selama pacaran kalo cuman 1 pihak yang berkorban, itu putusnya kenapa emang, kamu tau sahabatnya dari mana? Emang udah kalian rencana buat ketemu bertiga atau gimana?” tanya Garvi.
“Iya mangkaya udah lah cukup bodoh, gamau bodoh berkepanjangan, lebih baik tidak memiliki daripada memiliki tapi hatinya tidak bersama kita kan, gimana ya gini ceritanya tuh, saya tuh lagi jalan pak sama Devandra nah terus Devandra di telfon sama sahabatnya itu katanya bapaknya masuk rumah sakit gitu! Nah yaudah tuh sih Devandra langsung ngajak pulang, padahal waktu itu kita udah lama ga jalan karena dia sibuk kerja terus, terus yaudah karena saya udah ga kuat lagi menahan rasa sakit, jadi ya saya bilang kalo misalkan kamu mau pulang sekarang kita putus aja! Sempat debat juga dia bilang kalo aku ga boleh kayak gini!” jelas Lavina.
“Tapi masalahnya aku cape! Dia selalu kayak gitu! Setiap lagi ketemu sama aku, kalo di chat sama sahabatnya malahan keasikan terus aku di anggurin! Kan sakit hati! Padahal udah lama ga ketemu saya pak! Tapi tetep aja! Setiap mau ketemu udah ada perjanjian! Udah nanya! Ga ada janji sama siapa-siapakan! Nanti jawab iya tapi ya kayak gitu dan selalu di ulang-ulang! Jadi ya males lah! Udah cape banget! Ngejalanin hubungan kayak gitu! Dan sampe akhirnya saat aku ngancem minta putus kalo dia pergi ke sahabatnya! Dia juga tetep milih pergi ke sahabatnya buat nemenin sahabatnya! Dan malah putus sama aku!” rintih Lavina.
“Wah kok kayak gitu ya? Ya jelas lah itu sakit banget! Gabisa ngebayangin kalo ada di posisi kamu!” ujar Garvi berempati.
“Ya gitu lah pak! Aduh jadi curhat nih pak!” gumam Lavina.
“Ya udah gapapa santai aja! Dia kalo kayak gitu pasti suka sama sahabatnya sih! Sampe berani memilih untuk putus sama kamu mah! Cuman kenapa dia pacarin kamu ya! Kalo dia suka sama orang lain!” ucap Garvi penasaran.
“Ya saya juga gatau kenapa, ya mungkin dia mau selalu ada aja buat sahabatnya cuman sayanya yang ga sabar!” ucap Lavina.
“Ya saya juga kalo jadi kamu mah ga kuat! Apalagi dalam waktu yang lama! 1 tahun setengah kan lumayan!” ujar Garvi.
“Ya gitu lah pak! Gatau saya juga kenapa bisa kuat lama! Karena terlalu sayang kayaknya sampai bodoh!” ungkap Lavina.
“Jadi penasaran siapa yang jadi sahabatnya Devandra itu!” ujar Garvi.
Lavina mengeluarkan ponselnya dan mencari nama i********: Aurora kemudian menunjukannya kepada Garvi.
“Ini pak!” ujar Lavina menyerahkan ponselnya.
“Lah ini Aurora istri saya!” ungkap Garvi tercengang saat tau istrinya adalah sahabatnya sepupunyq sendiri.
“Lah serius pak! Devandra tau kalo bapak nikah sama sahabatnya dia!” ucap Lavina.
“Lah iya ini istri saya, gatau deh tau ganya soalnya nikah pas dia udah berangkat ke sana, yang ada orang tuanya aja, cuman ya gatau orang tuanya tau ga sahabatnya Devandra, soalnya cuman ngabarin kalo mau nikah, dan ya waktu itu saya punya pacar, mungkin dia kira saya nikah sama pacar saya!” ucap Garvi.
“Istri bapak tau kalo Devandra sepupu an sama bapak!” tanya Lavina.
“Tau ganya mah ya gatau, Cuman dia emang sering sih saya denger telfonan sama Devandra, saya kira cuman temen biasa aja bukan sahabatnya gitu!” ucap Garvi.
“Hmm gitu ya, wah rumit juga ya kisah cinta kamu!” sambung Garvi.
“Ya begitu lah pak!” jawab Lavina.
“Yaudah kita makan siang aja dulu , belum makan kan! Sekarang udah sore!” ucap Garvi.
“Ah gausah pak, gapapa kok pak!” tolak Lavina.
“Lah ya gapapa, kamu kan belum dapet istirahat hari ini!” ujar Garvi.
“Gapapa pak ga istirahat juga!” ungkap Lavina.
“Yaudah saya laper mau makan! Kamu yakin gamau makan!” gumam Garvi.
“Udah hayo turun, ngapain disini mulu! Nungguin saya makan gitu!” ajak Garvi.
Setelah perdebatan yang lama akhirnya mereka makan juga, Lavina akhirnya turun juga dan mengikuti langkah Garvi, Lavina masih merasa canggung namun tidak di sangka teryata Garvi tidak semenakutkan itu.
Mereka mencari tempat duduk dan memesan makanan yang akan di makan, selagi menunggu makanan dan minuman datang, Garvi membicarakan soal kejadian di kantor tadi meminta Lavina untuk mengurusnya.
“Oh iya saya minta tolong kamu urus masalah yang tadi ya! Dan cari penggantinya untuk posisi Kepala cabang!” perintah Garvi.
“Iya siap pak!” jawab Lavina patuh.
Akhirnya makanan yang di pesan pun datang mereka berdua fokus makan sampai selesai dan bergegas pulang karena sudah sore dan Garvi harus pulang juga Aurora pasti sudah menunggunya di rumah.
~Place Aurora~
Aurora sudah selesai dengan kerjaannya dan ingin pulang kerumah, namun Aurora harus memesan grab dulu, ya akibat ulahnya Garvi yang tidak membolehkan Aurora membebani mobil sendiri, Aurora jadi harus kerepotan untung saja hari ini hanya berdiam diri di kantor tidak harus pergi kemana-mana.
Aurora memesan grab mobil dan menunggu beberapa saat sebelum mobil datang, Aurora membuka ponselnya dan teringat akan janjinya yang akan menelfon Devandra ketika sudah sampai di Indonesia, mengigat janjinya Aurora langsung menelfon.
Namun Aurora kembali berfikir daripada menelfon sekarang, panggilannya akan berlalu cepat saat mobil datang, dan akhirnya Aurora memutuskan untuk menelfonya nanti saat perjalanan pulang, beberapa menit kemudian grab yang di pesan Aurora tiba, dan Aurora bergegas turun ke lobi.
Setelah naik mobil Aurora mengeluarkan ponselnya dan memasangkan Handset di kuping Aurora kemudian menelfon Devandra.
“Tut ... tut ...!” bunyi panggilan Aurora.
Menunggu beberapa menit dan teryata tidak di angkat.
“Devandra marah kah!” batin Aurora.
“Apa dia masih kerja!” sambung Aurora lagi.
“Ah yaudah deh, nanti aja coba nelfon lagi!” gumam Aurora.
Setelah mencoba menelfon Devandra namun tidak ada jawaban dari Devandra, Aurora memutar musik do ponselnya dan menikmati setiap lagu yang di dengannya, sampai pada akhirnya lagunya berputar pada lagu yang selalu mengingatkan Aurora pada seseorang dan mendengar lagu ini membuat mood Aurora menjadi buruk.
Meskipun kejadiannya sudah sangat lama, tapi rasa sakit di hati Aurora belum juga kering, masih sangat basah dan sangat menyakitkan bagi Aurora untuk mengenang setiap kenangan bersama Kevin.
Ya Kevin adalah mantan Aurora seseorang yang pernah mengisi hati Aurora, sekaligus seseorang yang pernah sangat membuat Aurora merasa bahagia sampai rasanya Aurora tidak bisa lagi jatuh cinta kepada orang lain, hatinya sudah di penuhi oleh Kevin dan sampai sekarangpun Kevin masih menjadi seseorang yang mengisi hati Aurora.