“Iya nak! Kamu hati-hati di jalan! Jangan ngebut-ngebut!” ucap Carissa.
“Ya mom! Udah mommy tenang dulu aja ya! Garvi tutup dulu ya!” sahut Garvi.
Panggilan telfon di tutup lalu Garvi dengan langkah terburu-burunya langsung saja menuju parkiran menyalakan mobil tanpa dan berjalan menggunakan kecepatan tinggi, Garvi merasa perasaan tidak tenang terfikir oleh Aurora dan mamah mertuanya pastinya.
Di tempat lain Carissa yang terduduk lemas melihat keadaan yang sangat kacau dan perasaan hatinya sangat tidak tenang, memikirkan Ganendra, Bagaimana bisa padahal tadi baik-baik saja tapi mengapa sekarang tiba-tiba begitu.
Di rumah sakit juga ada Aurora yang merasa sangat terpukul dengan keadaan seperti ini, ini pertama kalinya Aurora melihat Ganendra tiba-tiba mendadak drop, selama ini Aurora tidak pernah tau, dan daddynya selalu saja menutupi rasa sakitnya sama aku.
“Maaf in aku dad, yang ga pernah tau, rasa sakit yang daddy alamin, dan selalu menuntut daddy buat kuat!” batin Aurora.
Aurora berjalan bolak balik di ruangan ICU sampai beberapa lama, perasaannya tidak tenang dan sambil menelfon Garvi yang sudah berada dimana, rasanya Aurora tidak sanggup menahan ini semua.
Aurora mengeluarkan ponselnya mencari nama Garvi dan langsung menelponnya, Garvi yang masih menyetir mobil menyambungkan ponselnya dengan sambungan di mobilnya, Garvi mengangkat telfonnya mendengar suara Aurora yang terdengar sedang menahan tangis.
“Hallo ...!” kata Aurora.
“Iya hallo sayang, kamu gapapa kan! Sabar ya sayang aku sebentar lagi sampe kok!” ucap Garvi menenangkan.
“Da...dy ... Vi!” jawab Aurora terbata-bata.
“Iya sabar ya sayang! Udah kamu tenang dulu aja ya! Allah tau yang terbaik kok! Tunggu sebentar lagi! Aku bentar lagi sampai kok!” ujar Garvi menenangkan.
“Hiks ... hiks .. hiks ...! aku ga sanggup Vi!” jawab Aurora terbata-bata.
“Yaudah ini aku baru sampe rumah, aku turun dulu ya! Mau manggil mommy! Udah dulu ya! Udah kamu tenang aja pokoknya!” ujar Garvi.
“Yaudah kamu hati-hati ya! Cepet sampe sini!” gumam Aurora.
“Iya udah dulu ya! Assalamualaikum!” papar Garvi.
“Iya udah Walaikumsalam!” jawab Aurora kemudian menutup ponselnya.
Telfon di tutup dan Garvi segera turun dari mobil dan berlari menghampiri Carissa dan teryata Carissa sudah berada di ruang tamu dengan posisi duduk melamun sambil menahan tanggis, Garvi yang tak kuasa melihat mamah mertuanya seperti tidak kuasa menahan tangis dan tidak siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Garvi langsung menghampiri dan menepuk pundaknya dengan sambil duduk di samping mamah mertuanya menenangkan dengan sekuat tenaga dan mengajak untuk bergegas pergi.
“Mom ...!” panggil Garvi sambil menepuk bahu Carissa.
Carissa tidak bisa menjawab apapun, Carissa hanya menengok Garvi yang sudah ada sampingnya tanpa berkata apapun, dan Garvi yang paham jika mertuanya sedang syok dan tidak tau arah fikirannya masih berusaha untuk terus menguatkan.
“Udah yuk mom! Daddy pasti gapapa! Mommy tenang dulu aja! Jangan sedih! Kalo mau nangis ya gapapa sok keluarin aja mom!” kata Garvi lembut.
“Sekarang kita pergi yuk! Kasian Aurora udah nunggu disana! Aurora nunggu kita!” cakap Garvi.
Carissa yang juga sadar kalo disana ada Aurora yang sudah pastinya fikirannya tidak tenang pasti membutuhkan seseorang di sampingnya, dan Carissa juga sudah tidak sabar ingin melihat Ganendra sambil selalu mendoakan Ganendra di dalam hatinya terdalam.
“yaudah yuk!” tutur Carissa dengan langkah lesunya.
Garvi dan Carissa langsung pergi menuju rumah sakit, Garvi menyetir dengan sangat hati-hati tentunya dengan kecepatan yang tidak di bilang ngebut dan tidak di bilang lambat juta, karena Garvi mengajak mertuanya juga harus membuat mertuanya merasa nyaman.
Selama perjalanan Carissa bergumam-guman seorang diri, mengigat-ngingat masa-masa mudanya bersama Ganendra sesekali ekspresi kesalnya muncul dan dengan itungan dering ekspresinya menjadi kembali sedih.
“Dulu ya daddy itu sosok seorang laki-laki yang paling berani! Udah mommy tolak beberapa kali bahkan sampai bosen mommy nolaknya, dan mommy waktu di deket in sama daddy sebenernya mommy punya pacar dan mau serius sama pacar mommy!” ungkap Carissa.
“Tapi karena daddy itu terus berusaha dan ga pernah berhenti berjuang, dan ga pernah lelah, meskipun daddy mu merasa sakit melihat mommy sama orang lain, tapi daddy tetep teguh pada pendiriannya! Sampai akhirnya mommy luluh akan semua perjuangan daddy kamu!” sambung Carissa.
“Entah mengapa setiap bersama daddy kamu! Mommy ngerasa kebahagian mommy ada di daddy kamu, apapun yang di lakukan sama daddy kamu mau hal sekecil apapun itu mampu membuat mommy bahagia!” sambung Carissa.
“Tapi kenapa? Sekarang! Mommy ngerasa takut banget!” kata Carissa sambil menahan tangis.
“Udah mommy tenang aja! Serahin sama Allah mom! Semua pasti bakal baik-baik aja! Doa in daddy mom biar daddy kuat!” ucap Garvi.
“Iya tapi mommy belum siap kehilangan Vi! Mommy takut!” sahut Carissa.
“Udah mommy gausah takut! Apa yang mommy takutin coba!” ujar Garvi.
“Hiks hiks hiks!” suara tangis Carissa.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya Carissa dan Garvi sampai juga di rumah sakit, tanpa fikir panjang lagi langsung saja Carissa turun duluan berjalan dengan cepat mendatangi ruangan ICU dan melihat keadaan Aurora.
Dari kejauhan Carissa melihat Aurora yang jongkok di depan ruangan ICU dengan posisi kepala menunduk kebawah, dengan bahu bergetar seperti menahan tanggis, Carissa yang tak kuasa melihat putri kecilnya merasa sedih mendatanginya menyentuh pundak Aurora dengan lembut sambil berkata.
“Nak .. mommy disini! Kamu gak sendiri kok!” ucap Carissa lembut.
Aurora yang merasa bahunya di sentuh langsung mengalihkan pikirannya dan mengangkat kepalanya lalu Aurora langsung saja memeluk Carissa dan pecahlah tangis mereka berdua.
“Daddy ... mom!” kata Aurora sambil terbata-bata.
“Iya daddy kenapa! Kenapa kok tiba-tiba bisa kumat lagi!” tanya Carissa berusaha menenangkan suasana.
“Gatau Aurora juga kaget, tadi pas mommy pulang, Aurora kasih makan terus udah minum obat, siang juga kayak gitu! Eh pas habis sholat adzar daddy ngeluh sakit kepala, nah yaudah tuh Aurora gatau harus kayak gimana! Terus Aurora panggil perawat sama dokter! Terus kata Dokternya pindahan keruangan ICU, keadaannya memburuk lagi!” jelas Aurora.
“Aurora jadi takut kan mom!” keluh Aurora.
“Yaudah gapapa nak! Kita berdoa bareng-bareng ya! Buat kesembuhan daddy! “ jawab Carissa sambil mengelus pundak Aurora.
“iya mom! Garvi mana mom!” tanya Aurora.
“Ada tadi dia lagi markirin mobil! Mungkin sekarang lagi kesini! Tapi mommy turun duluan soalnya! Kepikiran kamu! Sama ga tahan mau tau kondisi daddy!” jawab Carissa.
“Oh ya Aurora mah gapapa! Aurora malah kepikiran mommy! Pasti mommy syok banget ya! Mommy kuat ya! Soalnya yang paling ngerasa kehilangan pasti mommy! Ya meskipun Aurora pasti sedih banget! Tapi pasti mommy lebih lebih sedih! Mommy kuat ya! Daddy gapapa kok! Daddy lagi berjuang!” ucap Aurora.
“Iya nak! Kita berdoa bareng-bareng ya!” ungkap Carissa.
Tidak lama kemudian Garvi datang menghampiri Carissa dan Aurora, melihat Aurora dengan mata sebabnya Garvi langsung mendekati Aurora untuk memastikan kondisinya dan sekaligus Garvi ingin menjadi seseorang yang selalu ada di samping Aurora dalam kondisi begaiamanapun.
“Sayang ... kamu oke kan!” ucap Garvi.
“Iya aku oke kok!” jawab Garvi.
Namun dari mata Aurora bisa terlihat jika sekilas ada kesedihan yang berusaha gadis itu tutupi dan Garvi hanya bisa berusaha menenangkannya sedangkan Aurora hanya bisa menatap mata Garvi lekat karena ia memahami apakah pemuda itu serius dengan ucapannya.
"Kadang semesta memberikan hujan demi menyegarkan tanah yang gersang ... untuk itu kamu harus tetap tersenyum dan kuat ya, Aurora! Gue yakin daddy akan segera pulih dan semua akan baik-baik saja jadi sekarang mending gue isiin aplikasi nonton lu aja? Gimana mau? Atau mau gue pesenin makanan di aplikasi makanan aja," tutur Garvi menghibur.
"Ucapan Garvi mungkin ada benarnya ... hanya saja dia ini serius dengan apa yang dia katakan atau hanya sedang kasihan sama diri gue? Tolong jangan berpura-pura baik hanya demi gue yang sedang lelah dengan semua hal yang ada di dunia ini ... semakin lu terlihat serius rasanya seperti mencekik juga membingungkan buat gue! Mau lu apa, Garvi?" batin Aurora khawatir.
Di tengah-tengah suasana terasa begitu sendu tidak lama Aurora tanpa sadar mengatakan hal yang membuat Garvi semakin merasa sedih, tetapi ia perlu tegar dan menenangkan Aurora yang terlihat baik-baik saja padahal hatinya sedang hancur dan ia tak bisa mengekspresikan segala perasaannya saat ini.
"Tolong jangan kasihan sama gue ... jangan tunjukkan wajah itu seolah-olah di dunia ini cuma gue yang terluka, Vi! Gue memang sedih, tapi gue gak perlu dihibur dengan wajah itu! Satu hal yang gue butuhin itu hanya daddy gue jadi berhenti terlihat perduli kalau nyatanya lu gak benar-benar ingin melakukannya! Buat apa Vi," gumam Aurora sedih.
"Lah lu berbicara apaan, Aurora? Udah jangan berpikir aneh-aneh dan buang aja hal yang tidak pernah gue pikirkan begitu ... saat ini yang gue prioritasin itu cuma diri lu! Gue mau lu baik-baik saja dan jangan menyimpan semuanya sendiri! Kesedihan yang lu rasa bisa di bagi ke gue jadi please jangan bikin gue semakin khawatir sama lu," tutur Garvi khawatir.
Aurora yang tidak ingin larut dalam kesedihannya hanya bisa menggenggam tangan Garvi erat sambil ia meminta pemuda itu untuk jangan mengkhawatirkan dirinya sebab saat ini yang lebih penting adalah keadaan daddy gue bukan dirinya.
"Tenang aja, Vi ... sekarang yang lebih penting ini keadaan daddy bukan gue! Untuk itu tolong bantu gue sama mommy kuat melewati semua hal yang terjadi, Vi! Insyaallah gue gak apa-apa selama mommy dan daddy baik-baik aja gue pasti juga akan baik-baik aja kok," lirih Aurora tegar.
Entah mengapa hari itu rasanya seperti menyesakkan juga mengguncangkan hati mereka lalu tiba-tiba mesin di samping Ganendra terdengar berbunyi nyaring membuat Aurora menghampiri daddynya sedangkan Garvi bergegas memanggil perawat untuk memeriksa mertuanya.
"Daddy ... astagfirullah! Daddy jangan bercanda seperti ini? Kenapa alat itu berbunyi begini? Tolong katakan sesuatu, daddy! Daddy bisa mendengar suara aku bukan? Dad, please ... jangan buat aku khawatir begini! Tolong jawab aku dad," panggil Aurora khawatir.
"Suster?! Dokter! Pasien yang bernama Ganendra butuh bantuan, suster! Ventilator dan EKGnya mengeluarkan suara bising, dokter! Tolong lakukan sesuatu pada daddy kami!" ujar Garvi serius.
Mendengar nada panik dari salah satu keluarga pasien membuat beberapa perawat dan dokter langsung bergegas masuk dan memeriksa keadaan Ganendra yang masih dalam kondisi yang belum membaik sejak terjadi penurunan fungsi tubuhnya.
Sementara Aurora yang melihat daddynya belum membuka matanya semakin membuat gadis itu memandangi sambil memandangi pintu dihadapannya berharap jika daddynya mengerti betapa ia menginginkan daddynya segera pulih.
"Bukankah daddy berjanji ingin melihat malaikat kecil dari kami, dad? Kenapa daddy harus seperti ini? Rasanya kemarin daddy masih baik-baik saja lalu kenapa semuanya terjadi begitu cepat? Aurora masih berharap kalau daddy mengerti sesayang apa aku dan seberapa besarnya keinginanku untuk melihat daddy pulih ... tolong jangan buat aku takut dad," batin Aurora sendu.
Dalam diam Garvi yang melihat punggung istrinya bergetar tanda jika gadis cantik itu sedang menangisi keadaan daddynya, entah mengapa membuat Garvi hanya bisa mengusap-usap punggung Aurora lembut sebab ia tau jika ucapannya tak akan cukup untuk menenangkan hati Aurora saat ini.
Di lain sisi Aurora yang benar-benar tak sanggup menahan semua rasa sesak yang menekan hatinya membuat gadis itu memeluk Garvi erat, bukan tanpa alasan Aurora seperti ini rasanya ia tak sanggup jika harus mendengarkan keadaan daddynya yang terlihat tersiksa di dalam sana.
"Gue gak mau kehilangan daddy, tapi gue juga gak sanggup kalau harus mendengar keadaan daddy yang kelihatannya tersiksa di sana ... bisa gak sih daddy baik-baik aja tanpa harus terluka di sana? Gue mau daddy pulih! Gue mau dia seperti sebelumnya, apa gak bisa? Apa permintaan gue terlalu sulit dikabulkan ya," lirih Aurora sedih.