Sore itu hujan deras dan lagi-lagi aku tidak membawa payung…
[Sembari mendengarkan lagu favoritnya menggunakan headphone]
Aku duduk menunggu hujan di stasiun kota hingga tiba-tiba ada seorang lelaki yang datang ke arahku sambil berkata “mau pulang kan, ayo kita pulang” ucapnya.
Aku kaget suaranya tak asing aku bahkan tak sempat bicara ia langsung menggandeng tanganku lalu mengajakku berlari dibawah hujan menuju ke angkutan umum.
Ditutupinya kepalaku seraya berkata “kamu kebiasaan ya ga pernah bawa payung”. Kutatap wajahnya benar saja itu nesta, dia teman bermain ku sejak kecil, tidak-tidak lebih tepatnya cinta pertamaku.
Dengan pipi memerah kutatap wajahnya seraya berkata “nesta? kamu benar nesta teman bermain ku yang suka ngompol itu kan?” ia langsung memukul kecil kepalaku “enak aja aku ga pernah ngompol!”. Aku tertawa dan tersenyum ke arahnya, ternyata ia masih sama persis seperti saat dulu kita bermain.
“Kamu ga kangen sama aku? “ Ujar nesta.
“K..K..Kangen” Ucapku sambil menundukkan kepala. Ia tersenyum kearahku, mulutnya yang cerewet tidak berhenti bicara selama diangkutan umum menceritakan betapa rindunya ia dengan masa kecil kita.
Rumah kita sangat berdekatan sehingga kita jalan kaki berdua setelah turun dari angkutan umum, bercerita banyak hal namun aku tidak banyak bicara.. Aku masih kaget kalau ternyata aku bertemu dengan cinta pertamaku setelah sekian lama terpisah.
Senang sekali rasanya bisa bertemu kembali dengannya, kita tidak bertemu sejak masuk sma dikarenakan aku harus pindah ke kota kecil untuk ikut ayah bekerja. Sejak itu kita tidak ada komunikasi karna kita tidak mempunyai handphone.
“Sudah sampai! “ ucap nesta. Ia mengantarku hingga depan rumah, aku tersenyum sambil melambaikan tangan kearahnya,
“Makasi ya nes, besok pagi libur?” Tanyaku ke nesta.
“emmm libur apa masuk yaaa..” Sambil meledek ke arahku ia menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah.
Kami berpisah pulang kerumah masing masing, aku bergegas untuk mandi dan istirahat karna besok pagi aku berencana mengajak nesta jalan pagi di lapangan komplek.
Seraya mencoba tidur aku masih kepikiran bagaimana bisa jantungku masih berdetak kencang saat didepannya sedangkan aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Semakin dipikirkan semakin panas rasanya wajahku baiknya aku segera tidur.