"Mas, aku hamil lagi!..." Suara Ranti terdengar lirih. Sambil terisak Ranti memegang perutnya yang masih datar. Bukannya tidak senang karena dia hamil lagi, Ranti hanya khawatir akan ada masalah nantinya pada anaknya yang masih berusia 5 bulan. Juga kondisi ekonomi mereka yang terbilang cukup sulit.
"Alhamdulillah, harus bersyukur kita itu berarti dikasih kepercayaan sama yang diatas. Harus bekerja lebih ekstra berarti akunya, untuk memenuhi kebutuhan malaikat-malaikatku". Radit tersenyum sambil mengusap puncak kepala Ranti. "Padahal kamu percaya sekali sama kata-kata dosen kamu yang bilang enggak usah cepet-cepet KB, kasih full ASI eksklusif juga itu merupakan KB alami. Tapi nyatanya kita kok kebobolan juga".
"iya mas aku sama kamu subur banget mas". harus disyukuri, rejeki dari Allah. Diluar sana banyak sekali orang-orang yang ingin mengandung, udah berobat sana sini cek sana sini tapi belum dikasih sama yang diatas. Ini artinya kita dikasih kepercayaan yang ekstra oleh Allah".
...
Ranti terbangun dari tidurnya, tidak tahan menahan rasa ingin buang air kecil. Ranti pun buru-buru menarik diri dari baby Tian yang sedang menyusu. Namun sepeninggal Ranti baby Tian menangis dengan sangat kencang, sehingga membangunkan seisi Rumah.
"Ranti... Radit... anaknya nangis kok dibiarin begitu?" Linda, ibu mertua Ranti berteriak menyaingi suara baby Tian yang menangis dengan sangat kencang. "Radit... bangun dong, diemin tuh anak kamu berisik aja pagi-pagi begini".
"hushh, hushh, hushh... tunggu mama yah sayang mama lagi ketoilet, cup, cup, cup." Radit berusaha mendiamkan baby Tian agar ibunya tidak berteriak lagi.
"maafin mama sayang, mama kebelet tadi ketoilet". Ranti kembali menyusui baby Tian dan dengan sigap baby Tian pun langsung menyusu dengan lahapnya. "Mas, aku kok nggak nyaman yah denger suara ibu yang suka teriak-teriak begitu kalo anak kita lagi nangis, mama kamu tuh kayak nggak seneng gitu mas dengan kehadiran anak kita, bahkan sekalipun mama nggak pernah nyentuh baby Tian"!. keluh Ranti, namun tidak digubris oleh Radit dan ternyata radit kembali tertidur, pantas saja pernyataan Ranti diacuhkannya.
...
"Ranti... Ranti... bantuin mama masak dong, ini mama lagi kerepotan udah nyuci, masak sayur, masak nasi. Kamu enak-enakan tidur sampe siang gini." Omel Linda dari arah dapur.
"Ranti lagi nyusuin anakku ma, mana yang bisa aku bantu kebetulan hari ini lagi nggak ada kerjaan." Tawar Radit kepada ibunya.
"Kamu itu yah Radit harus rajin kerjanya, ini kita itu hidup beli beras beli sayur beli lauk sama kebutuhan dapur tiap hari itu banyak yah jadi kalo ada duit tuh harus di bagi juga sama ibu." Linda berkata sambil menekankan tiap poin perkataannya pada Radit.
"Iya ma, biasa kan Ranti juga belanja ma kalo ada duit. Ini karena lagi sepi kerjaan jadi kita numpang sama ibu dulu yah." Radit memohon pada ibunya berharap dimaklumi.
"Numpang gratis mulu kalian maunya." Linda dengan ketusnya berkata sambil berlalu ke kamarnya.
"Ibu jangan keras-keras dong bicaranya, nanti Ranti denger bisa nggak enakan Rantinya buk". Keluh Radit sambil menghadap kearah kamarnya. "Jangan gitu dong bu, masa sama anak, cucu dan mantu sendiri ibu hitung-hitungan begitu sih. Radit janji kalau radit ada uang pasti aku kasih ke ibu juga kok.
...
Sementara didalam kamar Ranti yang mendengar perkataan dari ibu mertuanya terasa sangat kecewa dengan sikap ibu mertuanya yang sangat menyinggung mereka. "Andai saja kami punya cukup uang untuk pindah dan memiliki rumah sendiri, pasti kehidupan kami tidak akan semenyedihkan ini. ya Allah berilah kami kesabaran dalam menghadapi semua ini." Gumam Ranti dalam hati sambil meneteskan air matanya. Pekerjaan Radit yang tidak menentu membuat kondisi ekonomi keluarga kecil mereka tidak karuan, apalagi keadaan Ranti yang tengah mengandung anak kedua akan tambah banyak memakan biaya kedepannya.
...
"Gimana kalau aku merantau ke kota B saja yah? Disana tidak terlalu mementingkan ijasah, asalkan bisa kuat dengan pekerjaan dilaut untuk menangkap ikan dan bekerja sama dengan baik bersama para kru kita bisa kumpulin sedikit demi sedikit uang untuk bisa pindah, bagaimana?." Radit bertanya pada Ranti.
"Mas yakin mau tinggalin aku sendirian disini mas, aku lagi hamil dan anak kita masih bayi begini mana bisa sih mas aku ditinggalin sendirian? aku sih kurang yakin bakalan aman disini mas apalagi dengan sikap ibu kamu yang seperti itu, kedapur saja aku takut mas!"
"Yah jadi gimana dong, disini kita hanya akan terlilit hutang terus. Aku nggak bisa dapat kerjaan yang layak dengan hanya bermodalkan ijasah SMA disini, nggak bisa memenuhi kebutuhan kamu sama anak-anak, termasuk kebutuhan lahiran kamu nanti, pasti kita akan membutuhkan biaya yang tidak kecil."
"Nggak bisa bawa aja aku sekalian mas ke kota B sama anak kita?" Tawar Ranti.
"Yah duit dari mana kalo kita bertiga bersamaan kesananya? Kamu itu suka ngeyel deh kalo ngomong." Protes Radit sambil berpikir keras. Ranti yang mendengarkan hanya diam saja tak tahu harus bicara apa lagi.
...
"Iya jeng anak aku itu orangnya sibuk banget sih jadi lupa nyari jodohnya, dia itu wanita karir dan lagi sukses-suksesnya sekarang. Sampe bingung anak aku satu-satunya gak nikah-nikah ini sampe sekarang." Keluh salah seorang teman dari Linda saat mengikuti arisan.
"Aku punya ide cemerlang ini untuk menjodohkan radit dengan anaknya bu Yuli, secara Radit masih mudah dan lumayan tampan pasti anak bu Yuli yang perawan tua itu pasti bisa kepincut deh sama Radit." Gumam Linda dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kenapa sih jeng kamu senyum-senyum gitu? awas kesambet loh". Tawa teman linda lainnya.
"Jeng Linda, Radit sekarang kerja dimana. Kok aku jarang sekarang yah liat Radit nganterin jeng Linda arisan?".
"ini Radit lagi sibuk jeng, kerjaan nggak bisa ditinggal soalnya." Bohong linda. Mereka tidak tahu menahu soal pernikahan Radit dengan Ranti karena mereka menikah secara kekeluargaan saja tanpa resepsi, disebabkan karena orang tua Radit yang kurang setuju dwngan hubungan Radit dan Ranti.
"Eh jeng kira-kira radit kalo aku comblangin sama ismi, mau nggak dia yah jeng?" tanya Yuli kepada Linda dengan antusias.
"Wah pasti mau dong Radit, aku bisa jamin itu jeng." Sahut Linda tak kalah antusias. Tanpa peduli sedikitpun pada keluarga kecil anaknya Linda merencanakan hal gila yang nantinya bisa menghancurkan hubungan anaknya. "Aku yakin radit akan suka pada Ismi secara ismi seorang wanita karir yang cantik, sedangkan ranti hanya seorang ibu rumah tangga yang bisanya hanya memasak, cuci piring, cuci baju, nyapu, ngepel pokoknya gitu-gitu aja"