Prolog
Emy yang baru datang dari kampung dan sangat membutuhkan pekerjaan mendapat tawaran dari sepupunya jika bosnya di kantor mencari seorang pengasuh untuk anaknya.
Karena sulitnya mencari pekerjaan, Emy langsung setuju apalagi dengan jumlah gaji yang ditawarkan terbilang sangat lumayan untuk seorang pengasuh, dia pikir mengurus balita juga bukan pekerjaan yang sulit.
Emy baru terkejut saat mengetahui jika yang dia urus ternyata bukan balita, tapi seorang pria dewasa. Pria dewasa yang sangat pemarah setelah kecelakaan yang menimpanya tahun lalu dan membuatnya kehilangan penglihatan.
Karena sudah banyak pengurus sebelumnya yang tidak tahan dan menyerah, maka Emy disarankan untuk menjadi gadis bisu dengan harapan bisa mendapatkan sedikit simpati.
Tapi sayangnya mereka tidak pernah berpikir jika si buta dan si bisu, jelas bukan kombinasi yang tepat untuk disatukan.
Karena bagaimana mungkin dua orang bisa saling mengerti jika yang satu tidak bisa melihat dan yang satu lagi tidak boleh bersuara?
Yang satu hidup dalam gelap dan hanya bisa menilai dunia lewat suara. Yang satu lagi diminta membisukan dirinya sendiri dan hanya bisa menjelaskan segala sesuatu lewat sentuhan atau ketukan. Mereka menaruh dua orang seperti itu di dalam satu rumah besar yang sepi, lalu berharap semuanya akan baik-baik saja.
Tentu saja tidak.
Setahun sebelum semua ini terjadi, Eric Hardy adalah pemuda yang punya segalanya. Wajahnya, namanya, perusahaan ayahnya yang tinggal menunggu tangannya, dan masa depan yang sudah tersusun rapi seperti jadwal penerbangan. Sampai sebuah kecelakaan mengambil semuanya hanya dalam hitungan detik. Yang tersisa untuknya setelah itu hanyalah gelap. Gelap yang tidak pernah berganti pagi, tidak peduli berapa lama pun dia menunggu.
Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan. Tapi bagi Eric, waktu justru hanya memperpanjang hukumannya.
Dia menolak semua orang. Menolak dokter, menolak terapi, menolak teman-teman yang datang membawa wajah kasihan yang untungnya tidak perlu dia lihat. Dia pindah ke sebuah villa di kawasan Puncak, jauh dari kota, jauh dari kantor ayahnya, jauh dari siapa pun yang pernah mengenalnya sebagai Eric yang dulu.
Dan dari sanalah para pengurus itu berdatangan, satu per satu, lalu pergi satu per satu juga.
"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sanggup."
Kalimat itu sudah terlalu sering didengar Mr. Hardy sampai dia hafal jedanya. Ada yang bertahan dua bulan, ada yang tiga minggu, dan yang terakhir bahkan menyerah sebelum genap empat hari. Perempuan itu keluar dari kamar Eric dengan tangan gemetar sambil memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Dia bahkan tidak mau saya bicara, Pak. Kalau saya diam dia marah, kalau saya bicara dia lebih marah."
Mr. Hardy hanya bisa mengangguk sambil menambahkan uang tambahan di amplop. Dia sudah tidak punya kalimat lagi untuk membujuk orang bertahan menghadapi putranya. Yang dia tahu, kalau ini terus berlanjut, Eric akan benar-benar sendirian sampai mati di rumah sebesar itu.
Malam itu Mr. Hardy sempat berdiri cukup lama di depan pintu kamar putranya sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk.
"Eric, makan malammu sudah dingin."
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menabrak jendela besar di ujung lorong.
"Ayah tahu kau masih bangun," katanya lagi sambil menempelkan telapak tangannya di daun pintu.
"Pergi."
Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat pria tua itu menunduk. Dulu putranya adalah anak yang paling ribut di rumah ini, yang selalu memanggilnya dari lantai bawah hanya untuk menceritakan hal-hal kecil yang tidak penting. Sekarang untuk mendapatkan satu kata pun dia harus bicara lewat pintu yang tertutup.
"Ayah akan mencarikan orang lagi," kata Mr. Hardy pelan.
"Untuk apa? Supaya ada satu orang lagi yang kabur dari rumah ini?"
Mr. Hardy tidak menjawab. Dia hanya meletakkan nampan makanan itu di lantai, tepat di depan pintu, lalu berjalan pergi dengan langkah yang terdengar jauh lebih tua dari usianya. Besok paginya nampan itu memang kosong, tapi gelasnya kembali pecah.
Sementara itu, jauh dari villa yang dingin dan sunyi itu, ada seorang gadis yang sedang menghitung sisa uang di dompetnya untuk yang kesekian kali.
Emy baru saja kehilangan semuanya. Ayahnya meninggal tiga bulan lalu dan meninggalkan tumpukan hutang yang harus dibayar oleh satu-satunya orang yang masih memakai nama keluarga itu. Rumahnya disita. Keluarga pamannya menerimanya dengan tatapan seolah dia adalah tamu yang datang untuk mengurangi jatah makan mereka. Maka Emy pergi ke ibu kota, membawa satu koper, satu ijazah, dan satu harapan kecil untuk menemukan ibu yang meninggalkannya sejak usia tujuh tahun.
Ibu kota ternyata tidak seramah yang dia bayangkan. Lamaran yang dia kirim tidak pernah dibalas. Dan ketika akhirnya ada satu tawaran datang dari sepupunya, tawaran itu terdengar terlalu bagus untuk masuk akal.
Lima belas juta untuk seorang pengasuh.
Emy setuju tanpa berpikir panjang. Dia pikir dia hanya akan mengurus seorang anak kecil yang manja, mungkin balita yang suka melempar mainan dan menangis saat disuruh mandi. Dia bahkan sempat membayangkan pekerjaan itu akan menjadi pekerjaan paling ringan yang pernah dia dapatkan.
Sepupunya sempat memperingatkan bahwa gaji sebesar itu untuk seorang pengasuh jelas mencurigakan, tapi Emy hanya tertawa dan bilang dia sudah kebal menghadapi anak nakal. Waktu itu dia belum tahu bahwa yang akan dia urus bukan anak nakal, melainkan seorang pria dewasa yang bahkan tidak mau diselamatkan.
Emy baru tahu kebenarannya ketika dia sudah berdiri di ruang tamu villa itu dengan koper yang masih disandarkan di kaki sofa.
"Ada satu hal lagi yang harus kau lakukan," kata pria tua di hadapannya dengan suara yang direndahkan. "Putraku tidak akan mau menerima orang normal. Dia benci dikasihani dan dia benci merasa dirinya satu-satunya yang cacat di rumah ini."
Emy menunggu, meskipun dia sudah mulai punya firasat buruk.
"Mulai hari ini, kau seorang gadis bisu."
Begitulah cara Emy masuk ke dalam rumah itu. Bukan sebagai Emilia yang pernah tiga tahun jadi bendahara dan tahan menghadapi makian para supir truk, tapi sebagai seorang gadis yang tidak boleh membuka mulutnya sama sekali di hadapan majikannya.
Mereka pikir itu jalan keluar yang cerdas. Seorang yang tidak bisa bicara tentu tidak akan bisa menyinggung, tidak akan bisa membantah, dan mungkin bisa mendapat sedikit rasa iba dari pemuda yang hatinya sudah terlanjur mengeras.
Mereka lupa satu hal.
Orang buta mendengar segalanya. Setiap langkah, setiap tarikan napas, setiap sendok yang diletakkan terlalu keras di atas piring. Dan orang yang dipaksa diam pada akhirnya akan mencari cara lain untuk bicara, entah lewat ketukan jari di meja, entah lewat pintu yang ditutup sedikit lebih kencang dari seharusnya.
Nanti akan ada hari-hari di mana pemuda buta itu berteriak memanggil nama yang bahkan bukan nama gadis itu, dan gadis itu berdiri diam di ambang pintu sambil menelan seluruh kalimat yang ingin dia lemparkan balik. Nanti akan ada hari di mana keduanya duduk berhadapan di meja makan yang sama tanpa satu pun kata terucap, tapi entah bagaimana keduanya tahu persis siapa yang lebih dulu kalah.
Dan nanti, jauh setelah semua kemarahan itu reda, salah satu dari mereka akan sadar bahwa yang paling ditakuti bukanlah gelap atau sunyi, melainkan kehilangan satu-satunya orang yang mau bertahan.
Tapi semua itu masih jauh.
Semuanya bermula dari sebuah siang di ibu kota, dua minggu setelah Emy turun dari bus dengan koper yang rodanya sudah miring sebelah, ketika dia masih duduk di depan layar laptop sepupunya, menunggu satu saja balasan lamaran yang tidak kunjung datang.