Arsya terdiam sepersekian detik, lalu sudut bibirnya terangkat nakal.
"Udah nggak usah dikasih perhatian. Dia memang suka unjuk rasa kalau ada pasangannya."
Dede langsung menepuk bahunya pelan. "Ckk ... nanti keterusan."
"Nggak, aku bisa tahan " jawab Arsya agak ngotot. Seolah ia sendiri berusaha meyakinkan dirinya.
Ia kembali mencium bibir Dede, kali ini lebih singkat tetapi tetap penuh rasa ingin. Dede sempat membalas beberapa detik, tetapi pikirannya mulai berteriak waspada.
Ini bahaya.
Jantungnya berdegup terlalu cepat. Nafasnya semakin pendek. Ia mencoba melepaskan diri, namun Arsya masih menahannya dengan pelukan yang kuat.
Di sela - sela ciuman itu, Dede berbisik, "Aku nggak tanggung kalau kepalamu pening."
Arsya tidak menjawab. Kepalanya memang sudah terasa pening sejak tad