Dede memutar mata. "Siapa juga yang nangis dulu?"
Arsya tersenyum penuh arti. "Ada lah."
Dede menyikut pelan lengan Arsya. "Sok tahu."
Mereka tertawa kecil.
Malam itu tidak ada janji berlebihan. Tidak ada sumpah - sumpah dramatis. Hanya kesepakatan sederhana untuk saling menjaga dan menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai.
--
Dua hari kemudian, suasana rumah terasa lebih sunyi. Koper Arsya sudah siap di ruang depan. Mama Ana memastikan kembali dokumen - dokumen penting. Papa Kana menerima beberapa telepon terkait urusan di Jakarta.
Dede datang pagi - pagi diantar sama Bang Zaky. Ia tidak ingin momen perpisahan terasa tergesa - gesa.
Sebelum berangkat ke bandara, Arsya menyempatkan diri masuk ke kamarnya sekali lagi. Ia memandang ruangan itu sejenak, seolah menyimpan ulang semua k