Peti kosong di sudut gudang bawah tanah itu berdiri dengan papan kecilnya dan nama yang tercetak rapi di atasnya, dan Mursid berdiri di depannya untuk waktu yang lebih lama dari yang diizinkan tugasnya di gudang itu — karena peti itu bukan peti. Peti itu adalah mesin itu berdiri dengan bentuknya yang paling jujur dari semua bentuknya: satu peti kosong yang menunggu korban berikutnya, dengan nama yang sudah tercetak sebelum korban itu dihapus, dengan pasir dan batu yang menunggu di dalamnya untuk menimbun orang yang tidak dicari dengan sopan.
Dan nama di papan kecil itu adalah nama yang tidak dikenalinya, dari orang yang tidak dicarinya — dan Mursid membacanya dengan tangan yang tidak bergerak dan dengan satu kebenaran yang berdiri lebih dingin dari semua yang sudah dibacanya dari mesin ini: mesin itu tidak berhenti untuk orang-orang yang dibebaskan dari rumah susun dan rumah pagar tinggi. Mesin itu berjalan terus dengan kecepatan yang sama, dengan peti-peti kosong yang tercetak nama berikutnya di papan-papan kecilnya, dengan orang-orang yang tidak dicari yang berdiri di ujung jalurnya menunggu dihapus dengan cara yang sama dengan tiga puluh delapan nama di buku tulisnya.
Dan nama di papan kecil itu, dari orang yang tidak dicarinya, menunggu dihapus dalam minggu-minggu ini dengan cara yang sama — dan peti yang enteng dan tanah di TPU Pasir dan buku tamu yang berdiri di meja Pak Hartono dengan sopan.
Mursid berjongkok di depan peti itu, dengan pinggangnya yang linu mengingatkannya bahwa jongkok bukan lagi pekerjaan untuk punggung empat puluh tiga tahun, dan membacanya dari dekat dengan cara yang dibacanya segala sesuatu sejak dua puluh tahun kerja lapangannya: kayunya kayu murah yang dipotong rapi, papan kecilnya papan yang dicetak dengan mesin cetak yang sama dengan mesin cetak papan-papan kecil untuk peti-peti sebelumnya — dan nama di atasnya tercetak dengan tinta yang masih baru, dengan tanggal kecil di sudutnya yang berdiri seminggu sebelum hari ini.
Nama itu sudah berdiri di sana sejak seminggu. Orangnya masih berjalan di suatu tempat di kota ini dengan nama itu di kertasnya sendiri, masih bernapas dengan napas yang tidak tahu bahwa petinya sudah dicetak, dan mesin itu sudah menimbangnya dengan pasir dan batu yang menunggu di dalam peti ini dengan sopan.
"Pak," kata satu petugas dari sudut rak, dengan suara yang lebih rendah dari suara tugasnya yang biasa. "Pasirnya ditimbang?"
Dan Mursid membaca pertanyaan itu sebagaimana ia dibacanya: petugas itu pernah membaca peti enteng Tigor di TPU Pasir dulu, dari berkas yang sama, dan ia membaca dari peti kosong ini jawaban yang tidak perlu diucapkan — pasir dan batu ditimbang sampai beratnya cukup untuk sebuah jenazah yang tidak ada, supaya tanah menimbunnya dengan sopan dan tidak ada satu pun yang bertanya mengapa petinya terasa terlalu ringan di bahu-bahu yang memikulnya.
"Ditimbang sampai cukup," jawab Mursid, pelan. "Itu cara mesin ini bekerja dengan hormat yang salahnya yang paling dalam: bukan menghapus orang dengan kasar — menghapusnya dengan sopan, dengan peti yang beratnya benar, dengan tanah yang menimbunnya dengan benar, dengan buku tamu yang mencatatnya dengan benar. Orang yang dihapus dengan sopan tidak pernah dicari, karena tidak ada satu pun dari penghapusannya yang berdiri dengan cara yang salah untuk dibaca dari luar."
Dan petugas itu tidak bertanya lagi, dan kembali ke kamera kecilnya dengan tangan yang lebih pelan dari sebelumnya.
Dan Mursid mengambil satu foto kecil dari peti kosong dengan papan kecilnya itu dengan kamera kecilnya — bukan untuk bukti, untuk dirinya sendiri — dan berkata kepada dua petugas yang memotret rak-rak di sudut-sudut gudang itu dengan suara yang tidak berubah dari suara tugasnya yang biasa:
"Foto yang ini juga. Peti kosongnya, dengan papan kecilnya, dengan nama yang tercetak di atasnya. Itu satu-satunya bukti yang berdiri dengan bentuk yang paling jujur dari mesin ini: satu peti kosong yang menunggu korban berikutnya dengan nama yang sudah tercetak sebelum korban itu dihapus. Tidak ada satu pun dari mesin ini yang bisa membantah peti kosong dengan nama yang tercetak rapi di papan kecilnya — dan nama itu, dari orang yang tidak dicarinya, akan berdiri lagi di atas kertasnya sendiri sebelum peti ini terisi, dengan jalur yang sama dengan jalur yang memulangkan tiga puluh delapan nama di buku tulisku satu per satu."
Dan dua petugas itu memotretnya dengan cara yang sama dengan memotret rak-rak lainnya, dan peti kosong dengan papan kecilnya itu berdiri di kamera-kamera kecil mereka dengan nama yang tercetak rapi di atasnya — dan nama itu, dari orang yang tidak dicarinya, berdiri di buku tulis Mursid malam itu juga, di baris baru di daftar yang sudah berubah fungsinya menjadi daftar orang yang ditemukan, dengan satu kolom kecil yang ditulisnya dengan huruf yang lebih dalam dari huruf-huruf lain di buku tulisnya: masih dicari, dari peti kosong di sudut gudang bawah tanah rumah duka Kasih Abadi, dengan papan kecil yang sudah tercetak namanya sebelum ia dihapus.
Dan gudang bawah tanah itu menyerahkan pembukuannya ke kamera-kamera kecil mereka dalam satu jam yang berjalan dengan kaki yang benar di atasnya — dan Mursid berdiri di depan peti kosong itu sekali lagi sebelum naik dari gudang itu dengan kunci yang disalin Yopi dengan tangan yang gemetar dua minggu sebelumnya, dan berkata kepada peti kosong itu dengan suara yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun di gudang bawah tanah itu sebelumnya:
"Kau tidak akan terisi dengan nama di papan kecilmu, atau dengan nama mana pun lagi. Itu janji yang bisa kuberikan kepadamu dari satu hantu yang pernah dihapus dengan cara yang sama dengan yang kau tunggu di papan kecilmu — dan janji itu berdiri di atas semua yang berdiri di atas tangga ini dengan kaki yang benar dan kamera-kamera kecil yang memotret pembukuanmu dengan hormat yang salah. Peti yang ringan dengan nama yang tercetak rapi di papan kecilnya: kosong selamanya, mulai hari ini, dan itu satu-satunya hal yang benar yang pernah berdiri untukmu di gudang bawah tanah ini."