Sidang Yopi berjalan di ruang sidang kecil di kota, dan Yopi bersaksi di dalamnya dengan tangan yang tidak gemetar lagi dari tangan yang sudah berdiri lagi sejak malam ia menyerahkan kunci salinan gudang bawah tanahnya.
Dan kesaksiannya adalah kesaksian paling lengkap dari dalam mesin itu — lebih lengkap dari kesaksian Tigor yang mengetik dengan tangan yang luka di rumah susun tanpa nama, karena Yopi mengetiknya dari jantungnya, dari lantai dua di atas toko fotokopi itu, dengan mata yang melihat semua yang diketiknya dan dengan retak yang dibaca Mursid dari makan siang-makan siang pertama mereka.
"Aku cuma yang ngetik, Yang Mulia. Itu yang selalu mereka katakan kepadaku saat membawaku ke lantai dua dengan janji pekerjaan dokumen yang bersih — kau cuma yang ngetik, dan tidak perlu bertanya untuk apa. Dan aku mengetik untuk mereka bertahun-tahun dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar sejak malam pertama aku mengetik kematian untuk orang yang kudengar masih hidup dari berita yang kubaca dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar yang sama." Yopi bersaksi dengan suara yang tidak gemetar dari tangan yang sudah berdiri lagi, dengan mata yang membaca dari lantai duanya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari lantai duanya. "Dan aku melihat semua yang kuketik, Yang Mulia. Setiap nama, setiap tanggal, setiap yang berdiri di atas kertasnya setelah mesin ketikku berhenti. Dan aku menyimpannya di kepalaku dengan cara yang sama dengan cara Tigor Marpaung menyimpannya di kepalanya dengan tangan yang luka — karena aku tidak bisa membuangnya dari kepalaku, karena setiap nama itu berdiri di sana dengan wajah yang kupikirkan saat mengetiknya, dengan keluarga yang kupikirkan mencarinya dengan cara yang sama dengan keluargaku mencariku kalau aku dihapus dengan cara yang sama."
Dan hakim yang memimpin sidang kecil itu bertanya satu hal kepadanya sebelum putusannya dibacakan, dengan suara yang tidak lebih keras dari bunyi ruang sidang kecil itu yang biasa: mengapa seorang yang sudah mengetik untuk mesin itu bertahun-tahun akhirnya berhenti, dan mengapa ia berhenti dengan cara yang paling berbahaya untuk dirinya sendiri.
Dan Yopi menjawabnya dengan tangan yang tidak gemetar lagi di atas mejanya, dengan mata yang memandang hakim itu dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya untuk memandang siapa pun dari lantai duanya:
"Karena satu malam aku mengetik satu nama, Yang Mulia, dan keesokan harinya aku mendengar orang dengan nama itu masih hidup — masih menarik ojek, masih punya ibu mertua yang menggadaikan gelangnya untuk mencarinya, masih punya bayi yang belum punya nama karena ayahnya dihapus dari kertasnya sendiri. Dan aku mengetik nama itu dengan tangan yang gemetar seperti biasa, dan malam itu aku tidak bisa tidur dengan cara yang sudah bertahun-tahun tidak bisa kutiduri, dan aku berhitung dengan cara yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku di lantai dua itu: berapa banyak nama yang sudah kuketik dengan cara yang sama, berapa banyak ibu yang menggadaikan gelangnya untuk mencari orang yang kuketik kematiannya, berapa banyak bayi yang berdiri tanpa nama karena tangan yang gemetar ini mengetik ayahnya hilang dari kertasnya sendiri." Suaranya tidak naik, dan tidak turun, dan berdiri di ruang sidang kecil itu dengan berat yang tidak perlu dinaikkan. "Dan hitungan itu tidak pernah selesai, Yang Mulia. Dan aku berhenti bukan karena berani — aku berhenti karena hitungan itu tidak pernah selesai, dan aku tidak sanggup menambah satu baris pun lagi ke dalamnya dengan tangan yang gemetar ini."
Dan Mursid membacanya dari barisan publik dengan satu kerikil di sepatunya yang sudah lama tidak terasa sejak malam ia menjadi hantu — karena jawaban anak muda itu adalah jawaban yang sama dengan jawaban yang dituliskannya untuk dirinya sendiri di halaman pertama buku tulisnya, dua bulan sebelumnya, dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya: orang yang mengetik kematian orang lain dengan tangan yang gemetar pada akhirnya berhitung juga, dan hitungan itu yang membawanya keluar dari mesin dengan harga yang dihitungnya sendiri.
Dan Baringin di sampingnya tidak berkata apa-apa, dan tidak perlu berkata apa-apa — karena ruang sidang kecil itu sudah membaca sendiri apa yang dibaca mereka berdua dari jauh sejak malam dua titik itu: mesin itu tidak dijatuhkan oleh satu orang yang berani. Mesin itu dijatuhkan oleh orang-orang yang berhenti mengetik, satu per satu, dengan tangan yang gemetar, dengan hitungan yang tidak pernah selesai, dengan harga yang dihitung mereka sendiri.
Dan putusan untuknya dibacakan dengan pertimbangan yang berdiri dari semua yang sudah dikerjakannya sejak malam ia menyerahkan kunci salinan gudang bawah tanahnya: hukuman percobaan dengan kerja sosial — di kantor dukcapil, dengan tangan yang sama yang mengetik kematian orang-orang dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar, mengetik pemulihan nama-nama yang dulu diketiknya penghapusannya dengan tangan yang tidak gemetar lagi.
Dan Yopi menerima putusan itu dengan dua tangan yang diterimakannya ke meja hakim dengan suara yang tidak gemetar dari tangan yang sudah berdiri lagi, dan berkata satu kalimat yang berdiri di atas semua yang sudah diketiknya untuk mesin itu dan untuk meja hijau itu:
"Aku menerima putusan ini dengan tangan yang tidak gemetar lagi, Yang Mulia. Dan aku akan mengetik pemulihan nama-nama itu dengan tangan yang sama yang mengetik penghapusannya — dengan tangan yang sudah berdiri lagi, dengan nama-nama yang dipulihkan satu per satu di atas kertas yang sama yang menulisnya dulu untuk mesin yang menghapusnya. Itu satu-satunya cara yang kupunya untuk memperbaiki yang kutulis salah dengan tangan yang sama yang menulisnya, dan aku akan mengetiknya sampai baris terakhirnya, dengan tangan yang tidak gemetar lagi."
Dan Mursid menghadirinya dari barisan publik dengan Baringin di sampingnya, dan membaca satu anak muda yang mengetik kematian orang-orang dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar berdiri di meja hijau dengan tangan yang tidak gemetar lagi — dan menuliskannya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat: sidang Yopi selesai dengan hukuman percobaan dan kerja sosial di kantor dukcapil, dan satu anak muda yang mengetik kematian orang-orang bertahun-tahun akan mengetik pemulihan nama-nama itu dengan tangan yang sama yang mengetiknya dulu — dengan tangan yang sudah berdiri lagi, sampai baris terakhirnya. Dan itu keadilan yang benar untuk orang yang dipekerjakan mesin dengan ancaman dan memilih berhenti dengan harga yang sudah dihitungnya sendiri: bukan penjara, melainkan tangan yang sama yang memperbaiki yang ditulisnya salah dengan tangan yang sama yang menulisnya.