Halaman kosong terakhir buku tulis kedua itu berdiri di mejanya di kamar tanpa nama itu di malam biasa itu, dan Mursid menulis satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertamanya: untuk yang belum ditemukan.
Dan halaman untuk besok itu berdiri dengan satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap, dengan satu buku tulis kedua yang mulai ditulis dengan nama-nama yang akan dicarinya dengan cara yang sama dengan cara ia mencari Tigor Marpaung dari kamar kontrakan yang bocor — dan dengan satu buku tulis pertama yang penuh dengan daftar orang yang dihapus yang berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar, disimpan di tempat yang sudah dibacanya dari pembacaan-pembacaannya dari pembukuan-pembukuan yang disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus.
Dan sebelum menulis satu baris itu, ia membaca ulang buku tulis keduanya dari halaman pertama dengan cara yang sudah lama dipakainya membaca pembukuan-pembukuan — pelan, baris demi baris, dengan jempol yang berhenti di nama-nama yang berdiri dengan cerita yang lebih panjang dari barisnya: Tigor Marpaung di baris-baris pertama dengan jam tangan yang berdetak lagi di tangan istrinya, Ratna di bawahnya dengan nama yang sudah pulang ke kertasnya sendiri, dan nama-nama yang pulang lainnya yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertamanya — tiga puluh delapan nama yang berdiri lagi dengan kaki yang benar di atas kertas yang benar. Dan di antara halaman-halaman itu ada satu amplop kecil yang tidak pernah dikirimnya — surat untuk adiknya di kampung, yang ditulisnya dan ditulis ulangnya sejak malam ia berdiri lagi di atas kertasnya sendiri, dengan kalimat-kalimat yang selalu berhenti di tempat yang sama: kabar bahwa kakaknya masih hidup dan bekerja dengan cara yang benar, dan permintaan maaf yang tidak pernah selesai ditulisnya dengan benar untuk dua puluh tahun yang salah. Surat itu belum dikirimnya — bukan karena takut, melainkan karena ada hal-hal yang harus dibawa sendiri dengan motor bebek dan bukan dengan amplop, dan ia sudah membacanya akan dibawanya sendiri suatu hari dengan tangan yang mantap, di musim yang benar, dengan debu proyek tol di sepatunya dan dengan semua yang sudah dijawabnya dengan kehidupan yang dijalani dengan cara yang benar.
Dan kamar tanpa nama itu — yang dulu dipilihnya karena tidak ada yang membaca siapa yang tidur di dalamnya, dengan bohlam yang bergoyang kalau angin lewat dan kasur yang membaca pinggang yang linu dengan benar — sudah lama berhenti dibacanya sebagai persembunyian. Sekarang kamar itu dibacanya sebagai rumah kecil yang berdiri dengan kaki yang benar: satu meja dengan buku tulis kedua di atasnya, satu termos dari Bu Nah, satu gantungan dengan jaketnya yang masih membawa bau warung dan jalanan, dan satu jendela yang menghadap ke gang yang sudah menjadi kampungnya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Orang yang pernah dihapus dari kertasnya sendiri membaca rumah dengan cara yang berbeda dari orang-orang yang tidak pernah dihapus — bukan dari besar atau bagusnya, melainkan dari satu pertanyaan sederhana yang tidak pernah diajarkan kertas resmi mana pun: kalau aku tidak pulang tiga hari, apakah ada yang mencari. Dan untuk kamar tanpa nama itu jawabannya sudah berdiri dengan kaki yang benar — ada, dan lebih dari satu, dan itu dibelinya dengan dua bulan menjadi hantu dan dengan semua malam yang tidak biasa sejak malam surat kematiannya diterbitkan dengan kaki yang salah. Dan malam itu ia membakar rokok terakhirnya di jendela dengan cara yang sudah lama tidak berubah — bukan rokok untuk narasumber esok, melainkan rokok untuk dirinya sendiri, untuk satu halaman kosong yang menunggu satu baris di mejanya dengan tangan yang mantap.
Dan Mursid membacanya dari meja kecilnya di kamar tanpa nama itu dengan satu halaman kosong terakhir buku tulis keduanya yang berdiri dengan satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap, dan dengan satu malam biasa yang datang di akhir minggu pertama kantor kecil di atas warung Bu Tarmi itu — dan menuliskannya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu:
Halaman untuk besok itu berdiri dengan satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap: untuk yang belum ditemukan. Dan halaman itu tidak akan pernah penuh dengan cara yang sama dengan buku tulis pertama itu penuh — karena untuk yang belum ditemukan itu tidak pernah selesai ditulis dengan baris terakhirnya, dan baris-barisnya akan terus ditulis dengan nama-nama yang kucari dengan cara yang sama dengan cara kumencari Tigor Marpaung dari kamar kontrakan yang bocor, dengan buku tulis anak sekolah dan motor bebek dengan bensin di garis E dan warung-warung yang membaca orang-orang yang hilang dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan itu pekerjaan yang tidak pernah selesai, dan itu pekerjaan yang tidak perlu selesai: selama ada yang menghapus, akan ada yang mencari, dan selama ada yang mencari, halaman untuk besok itu akan terus ditulis dengan nama-nama yang kucari dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun.
Dan ia menutup buku tulis keduanya dengan halaman untuk besok yang berdiri dengan satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap, dan mematikan lampu kecil di mejanya di kamar tanpa nama itu, dan tidur sebelum jam tiga lewat sepuluh dengan malam biasa yang datang di akhir minggu pertama kantor kecil di atas warung Bu Tarmi itu — dan tidur tanpa mimpi tentang mesin, dengan satu buku tulis kedua yang berdiri dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap, dengan satu halaman untuk besok yang berdiri dengan satu baris di atasnya dengan tangan yang lebih mantap juga: untuk yang belum ditemukan.