Bu Karsih menebus gelangnya dari gadai dengan uang dari jalur yang dibantu Linda dengan kaki yang benar, dan memakainya kembali di pergelangan kirinya dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya sejak dipasangnya kembali — dan bekas pucatnya di pergelangan kirinya itu hilang oleh waktu dan kerja, pelan-pelan, dengan cara yang sama dengan cara bekas-bekas yang lain hilang oleh waktu dan kerja dari keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar setelah berdiri dengan kertas yang salah lebih lama dari yang seharusnya ditanggung keluarga mana pun.
Dan keluarga itu berdiri utuh dengan kertas yang benar: dengan Tigor yang menarik lagi dengan Bang Jul di pangkalan depan pasar Cibitung dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya, dengan Surti yang berdiri dengan jam tangan kecil yang berdetak lagi di tangannya dengan maksud yang terjawab penuh dengan cara yang ditulisnya dengan tangannya sendiri di malam ia dibawa dengan kurir jam tiga itu, dengan bayi yang didaftarkan dengan nama pilihannya sendiri kelak dengan dua orang tua yang mendaftarkannya dengan tangan-tangan yang tidak berhenti menyentuh akta kelahirannya dengan jempolnya, dan dengan Bu Karsih yang berdiri di belakangnya dengan gelangnya yang sudah kembali di pergelangan kirinya dan dengan bekas pucatnya yang hilang oleh waktu dan kerja.
Penebusan itu dikerjakannya di kantor gadai yang sama dengan kantor yang menerima gelangnya di malam yang lebih berat dari malam-malam mana pun dalam hidupnya — dengan surat gadai yang disimpannya dua lapis di dalam lipatan kain seperti orang menyimpan napasnya sendiri, dengan uang yang dikirim Linda dari jalur yang dibantunya dengan kaki yang benar, dihitung lembar demi lembar di depan petugas yang sama dengan petugas yang menimbang gelangnya dulu dengan mata yang tidak naik dari timbangannya. Dan petugas itu menyerahkan gelangnya kembali dengan cara petugas menyerahkan barang kepada pemiliknya — tanpa tahu bahwa barang yang diserahkannya itu pernah berdiri sebagai harga untuk satu pencarian yang membawa satu mesin jatuh dengan dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya.
"Gelang emas, dua belas gram, sesuai surat," kata petugas itu dengan suara loket yang biasa. "Ditebus lunas. Suratnya boleh disobek, Bu."
Dan Bu Karsih tidak menyobeknya. Ia melipatnya dengan dua tangan yang sudah tua dan menyimpannya kembali ke lipatan kain yang sama — karena surat itu bukan lagi surat utang, surat itu adalah pembukuan dari satu malam ketika ia memilih menantunya di atas satu-satunya barang berharga yang dimilikinya, dan pembukuan yang benar tidak disobek dengan cara yang salah. Dan gelang itu dipasangnya kembali di pergelangan kirinya di depan kantor gadai itu juga, dengan dua tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya, dengan Linda yang berdiri di sisinya dengan mata yang basah dengan cara yang tidak berusaha disembunyikannya.
"Sudah kembali ke tempatnya, Bu," kata Linda pelan.
"Sudah kembali ke tempatnya," jawab Bu Karsih, dan jempolnya menyentuh gelang itu sekali lagi dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam ia melepaskannya di loket yang sama. "Dan yang membayarnya bukan emas, Nak. Yang membayarnya orang-orang yang berdiri dengan kaki yang benar, satu per satu, dengan sabar yang lebih panjang dari sabar mesin mana pun."
Dan malam itu keluarga kecil itu makan bersama di rumah kecil mereka dengan lauk yang dibeli Tigor dengan uang yang ditagihnya sendiri dari setirnya di pangkalan depan pasar Cibitung — dengan bayi yang tidur di pangkuan Surti dengan jam tangan kecil yang berdetak lagi di tangan ibunya, dengan gelang yang berkilau pelan di pergelangan kiri neneknya di bawah lampu rumah yang tidak pernah berubah, dan dengan tidak ada satu pun di meja itu yang berdiri dengan kertas yang salah lagi.
Dan Bu Karsih berdiri di kebun kecil di belakang rumah kecil mereka dengan gelangnya di pergelangan kirinya dan dengan tangan-tangan yang menanam dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam ia menggadaikan gelangnya untuk membayar pencarian menantunya dengan uang empat ratus ribu seminggu — dan menceritakannya kepada Mursid yang datang berkunjung dengan oleh-oleh dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi, dengan suara yang lebih pelan dari suara yang biasa di warung soto itu:
"Gelangku sudah kembali di pergelangan kiriku, dan bekas pucatnya hilang oleh waktu dan kerja, dan keluargaku berdiri utuh dengan kertas yang benar dengan cucuku yang mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya. Dan itu terbayar dengan satu gelang yang kugadaikan untuk membayar pencarian menantuku dengan uang empat ratus ribu seminggu, dan satu jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor yang menerima orderku dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya — dan satu mesin yang dijatuhkan dengan orang-orang yang berdiri untuk menjatuhkannya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis ulang perhitungan mana pun. Dan aku berdiri di kebun kecilku dengan gelangku di pergelangan kiriku dan dengan keluargaku yang berdiri utuh dengan kertas yang benar — dan itu lebih dari yang pernah kupikirkan sejak malam aku menggadaikan gelangku dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya."
Dan Mursid membacanya dengan oleh-oleh dari kantor kecil di atas warung Bu Tarmi di tangannya dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang hangat: gelang Bu Karsih kembali di pergelangan kirinya, dan bekas pucatnya hilang oleh waktu dan kerja, dan keluarga itu berdiri utuh dengan kertas yang benar dengan cucu yang mulai sekolah dengan dua orang tua yang berdiri dengan kertas yang benar di belakangnya. Dan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya itu terbayar dengan satu keluarga yang berdiri utuh dengan kertas yang benar, dengan satu gelang yang ditebusnya dari gadai dengan uang dari jalur yang dibantu Linda dengan kaki yang benar, dengan satu mesin yang dijatuhkan dengan orang-orang yang berdiri untuk menjatuhkannya dengan cara yang tidak pernah bisa ditulis ulang perhitungan mana pun.