Buku tulis kedua itu hampir penuh dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertamanya, dan Mursid membaca ulang dari baris pertamanya dengan satu malam yang tidak pernah ia bayangkan sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya.
Tigor di baris pertamanya dengan tanggal pulangnya dari rumah susun tanpa nama dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar — dan satu anak laki-laki yang mengajar anak-anak pangkalan membaca penipuan dokumen dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di papan kecil di pangkalan depan pasar Cibitung dengan satu kalimat yang dibacanya dengan suara yang sudah lama tidak berubah sejak malam ia dibawa dengan kurir jam tiga dari kamar kosnya di belakang terminal: kalau ada yang minta KTP-mu untuk disimpan, itu bukan kerjaan. Itu panen. Ratna di baris keduanya dengan nama yang diucapkannya dengan cara yang sakral di kamar aman jalur Linda — dan satu perempuan muda yang berdiri di kantor Mursid dua hari seminggu dengan mata yang sudah dua tahun dibayar mesin itu untuk menjadi barangnya, dengan satu ibu yang memeluknya di pintu dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun. Dan nama-nama dari sembilan belas yang dipulihkan satu per satu dengan jalur administratif yang lambat dan sah yang dibaca Linda dari luar dengan kesabaran orang yang sudah lama bekerja dengan kertas — dengan dua tangan yang memegang KTP baru seperti memegang diri sendiri yang hilang bertahun-tahun, dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikan oleh orang-orang yang sudah lama menyimpan nama asli mereka di sudut-sudut kepalanya supaya mereka tidak lupa siapa mereka.
Membaca ulang itu dikerjakannya di malam dengan lampu kantor kecil yang tidak pernah berubah dan dengan kopi dari warung Bu Tarmi di bawahnya yang masih ditagih dengan harga yang sama seperti selalu — gratis untuk hantu yang lunas utangnya — dan dengan satu rokok yang dibakarnya pelan-pelan di jendela kecil yang membaca gang Pintu Air turun ke malamnya dengan lampu-lampu kecil yang menyala satu per satu. Dan nama-nama itu berdiri di halaman-halaman buku tulis keduanya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun: lelaki tua yang dipulihkan pertama dengan dua tangan yang sudah tua yang memegang KTP barunya seperti memegang diri sendiri yang hilang bertahun-tahun, dengan istrinya yang berdiri di sisinya dengan cara yang sama dengan cara ibu tua yang mencari anaknya setiap bulan — hanya saja pencariannya sudah dijawab dengan kaki yang benar. Dan kawan-kawan dari zaman koperasi di Bekasi yang dikabarinya satu per satu dengan jalur yang aman, yang membacanya berdiri lagi dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari perhitungan-perhitungan lama yang ditulis dengan cara yang salah. Dan sembilan belas nama lagi yang dipulihkan satu per satu dengan jalur administratif yang lambat dan sah — lambat seperti semua yang benar, sah seperti semua yang berdiri dengan kaki yang benar, dan tidak satu pun dari mereka harus membayar lima belas juta untuk berdiri lagi di atas kertasnya sendiri.
Dan setiap satu nama yang dibacanya ulang itu, jempolnya berhenti sebentar di atasnya dengan cara yang sudah lama menjadi caranya sejak buku tulis pertama — bukan mendoakan dengan kata-kata yang benar, karena ia tidak pernah pandai berdoa dengan kata-kata yang benar, melainkan mengingat dengan cara orang yang menulis daftar mengingat: satu nama, satu malam pencarian, satu jalan pulang yang berdiri dengan kaki yang benar. Dan kerikil di sepatunya diam — tidak ada yang janggal dari satu daftar yang berubah menjadi daftar orang yang ditemukan, dan tidak ada yang salah dari satu buku tulis anak sekolah yang berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar.
Dan di sela-sela nama-nama itu berdiri tanggal-tanggal yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap — tanggal pulang Tigor dari rumah susun tanpa nama, tanggal Ratna mengucapkan namanya dengan cara yang sakral di kamar aman jalur Linda, tanggal Bu Karsih menebus gelangnya dari gadai dengan uang dari jalur yang dibantu Linda dengan kaki yang benar. Dan tanggal-tanggal itu berdiri di buku tulis keduanya seperti tiang-tiang yang berdiri dengan kaki yang benar di atas tanah yang pernah dibakar dengan cara yang salah — dan kampung gang Pintu Air berdiri lagi di atasnya dengan lebih dari yang dibakar.
Dan di bawahnya, baris-baris baru yang menunggu ditulis dengan nama-nama yang akan dicarinya dengan cara yang sama dengan cara ia mencari Tigor Marpaung dari kamar kontrakan yang bocor dengan buku tulis anak sekolahnya — dengan satu ibu yang mencari anaknya yang hilang setelah ditipu penyalur kerja palsu dengan satu kalimat yang menjadi tanda tangannya sejak malam pertama itu: kita cari sampai ketemu, Bu. Dan satu baris yang tidak akan pernah dicoret dari buku tulisnya dengan cara yang salah: satu yang belum pulang dengan satu ibu tua yang mencarinya ke kelurahan setiap bulan dengan uang pas-pasan untuk ongkos, dengan satu jawaban yang benar dengan kaki yang benar: masih dicari, selalu dicari.
Dan Mursid membacanya dari baris pertamanya dengan satu malam yang tidak pernah ia bayangkan sejak malam ia membuka jasa cari orang dari kamar kontrakan yang bocor dengan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang — dan menuliskannya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu:
Daftar itu berubah dengan daftar orang yang ditemukan yang ditulisnya dengan tangan yang lebih mantap — dan buku tulis kedua itu hampir penuh dengan nama-nama yang pulang dengan kaki yang benar, dengan jalur yang benar, dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikan nama-nama mereka tanpa dibayar untuk berdiri. Dan satu buku tulis pertama yang penuh dengan daftar orang yang dihapus itu berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar, disimpan di tempat yang sudah kubaca dari pembacaan-pembacaanku dari pembukuan-pembukuan yang disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus. Dan satu daftar orang yang ditemukan itu tidak akan pernah selesai ditulis dengan baris terakhirnya — dan itu pekerjaan yang tidak pernah selesai, dan itu pekerjaan yang tidak perlu selesai: selama ada yang menghapus, akan ada yang mencari, dan selama ada yang mencari, daftar orang yang ditemukan itu akan terus ditulis dengan nama-nama yang pulang dengan kaki yang benar.