Sebuah motor terparkir bersama pemiliknya yang sedang bediri dengan sebelah tangan memeluk helem biru. Siapa lagi kalau bukan Alaska. Kepalanya berapa kali menengok ke dalam pagar besi yang menjadi pembatas antara dirinya dengan rumah Rea.
Pagi ini Alaska ingin menjemput sahabat karibnya itu untuk berangkat bersama. Bukan kali pertama, tapi dari SD Alaska selalu berangkat sekolah bareng Rea.
Sambil membenarkan rambut dan tas sekolahnya, cowok itu menengok kembali ke arah pekarangan rumah Rea yang sepi. Aska nampak kesal karena Rumah bercat hijau itu belum juga menampakkan pemiliknya. Lampu teras masih menyala, gorden jendela masih ketutup dan si Roi masih ngorok di kandangnya.
Alaska geleng-geleng. pasti Rea masih santai-santai di tempat tidur. Lupa ya kalau hari ini hari yang sakral.
"Kebiasaan." dengus Aska, "Laurea Sri Ningsih!" Teriak Alaska dengan suara beratnya.
Teriakan pertama sepertinya tidak berhasil. Buktinya si Roi masih aman-aman aja. jarak dua meter Anjing berbulu putih itu masih tertidur jauh dari pandangan alaska yang di luar pagar.
Sudah menjadi kebiasaan Rea tiap pagi, cewek itu selalu membuat Alaska pergi pagi-pagi dan nentengin helem di depan pagar.
"Rea woi! Rea, bukain pagar!" kedua kalinya Alaska berteriak dan saat itu juga lampu teras rumah Rea mati dan artinya cewek pendek itu sudah bangun dari tidurnya.
Menghela nafas, Alaska menyender di pagar, sebelah tangannya memegang besi pagar. Alaska mengipas lehernya, mulai kepanasan berdiri di terik matahari pagi. Cowok itu mulai bergerak gelisah tak kalah wajahnya yang mulai bete karena sang putri yang di tunggu-tunggu belum juga keluar dari istananya.
"OIIII REA!!!"
GUK! GUK! GUK!
"ANJING!"
Kaget setengah mati Alaska hampir saja kabur dari rumah rea.
Untung saja cowok itu hanya mengumpat secara beringas sambil menendang pagar.
Anjing emang pantas dipanggil Anjing.
Ya Tapi tetap aja gak ada yang mau dikatain Anjing. Ya enggak?
Melihat Alaska marah, Roi awalnya hanya duduk dalam kandang berlari ingin menerkam Alaska untung saja Alaska cepat menghindar dari pagar.
"Wwoow!!! Sabar bro, kita friends oke?" seru Aska mengakat kedua tangannya.
Guk! Guk! Guk! Eueerrrr!!!
Namun tak disangka Anjing itu malah mengamuk seperti ingin menggigit Alaska.
Alaska mulai ketakutan kedua tangannya di angkat ke atas. Dengan bercampur gugup Alaska tidak bisa membayangkan jika saja Roi menggigitnya dengan gigi-gigi tajamnya itu. Alaska menatap ngeri, sedangkan anjing itu beringas dengan wajah meraung marah.
"Rea anjing lo Rea!!! Woi! Rea." teriak Alaska melihat ke rumah Rea yang masih tertutup.
AAUUURGH! GUK! GUK!
"HUSSH... HUSSHH PERGI... PERGI LO! " usir Aska. Tapi Anjing itu malah semakin murka dan tidak sabar untuk menggigit Aska yang berada di luar jangkauannya.
Guk! Guk! Aueerrghh! Guk!!
"Si Rea mana sih! REA WOI!! " Teriak alaska mulai panik melihat Anjing putih itu mencoba keluar dari sela-sela besi pagar.
GUK! GUK! GUK! AUUUU!!! GUK!!
"IYA IYA SABAR AH!!!"
Alaska akhirnya bernafas lega setelah melihat cewek berambut pendek keluar dari rumah dengan muka sedikit jengkel. Tak ada yang bisa mengalahkan ekspersi sekesal itu dan sepagi ini. Rea yang terkenal jutek, super Flat and boring itu Rea banget!
"Pagi-pagi teriak di rumah orang ganggu tau!" gerutu Rea berjalan ke halaman Rumahnya.
Alaska mendengus sambil berkacak pinggang, bukannya mendapat pujian atas jasanya yang menunggu terlalu lama, ia malah mendapat Sapaan paling menjengkelkan sampai-sampai Alaska ingin saja berkelahi dengan Roi.
"Ya siapa suruh melihara Anjing serigala macam Roi!" tunjuk Alaska tepat di depan anjing itu. Sedangkan Rea mendelik cuek, tak peduli drngan omelan Alaska yang menjadi.
"Udah. gak usah marah-marah," Rea mendelik, "Mau cepat tua?".
Aska mendengus. "Pokoknya' Urusin tuh anjing lo! Bikin gue jantungan tau gak!" Kesal Alaska menaruh helem yang di pegangnya di atas motor lantas mengambil helm yang segaja di gantung di spion. Alaska memakainya dengan sebal.
"Roi jangan diambil hati yah omongan Aska, kamu tau kan Aska orangnya rada Aneh. " Sindir Rea langsung mendapat pelototan Aska.
Mendapat pelototan seperti itu, Rea berbalik malas sembari menarik tali Anjing dan membawa Roi kembali ke kandangnya. Seperjalanan Rea terus mencibir tidak jelas hingga ketika sampai di depan rumah Berukuran mini milik Anjingnya, Rea langsung mengait tali Roi ke tiang, namun belum sempat mengikat talinya, anjing itu kembali berlari ke arah Alaska sambil menggonggong keras.
Haeuurrr!! Guk!!!
Guk!!! Auuuuuu!!! Guk!!! Guk!!!
Amuk Roi kembali menggonggong di sela-sela pagar. Alaska berjingkat sedikit menjauh, sepertinya anjing itu tidak terima jika Alaska terus mengatainyanya anjing. Jarang-jarang menemukan anjing yang cukup manusiawi seperti Roi.
Guk!!! Guk!!! Guk!!!
"ROI! BERHENTI MENGGONGGONG!"
Bentakan Rea itu mampu menghilangkan suara Roi yang teramat berisik. Anjing itu rupanya sangat penurut dengan majikannya. Buktinya Hewan berbulu putih nan besar itu berbalik malu sambil berjalan lesu ke arah Rea dan tanpa di suruh anjing itu masuk ke dalam kandangnya sendiri.
"Jangan buat masalah sampai Rea pulang oke?"
"Auuu..."
Suara lirih anjing itu menjawab rea. Ekspersi wajah rea berubah riang berganti dengan senyum manis. Cewek berbadan mungil itu kemudian merunduk mengelus bulu tebal roi. Hal yang selalu dilakukannya ketika berpamitan dengan Roi.
Roi memang bukan anjing biasa. Anjing itu sudah bersamanya dari umurnya masih 10 tahun. Jadi jangan heran jika Roi sangat menurut pada Rea. Anjing berjenis kelamin laki-laki itu adalah Anjing Serigala yang di berikan ayahnya ketika ia berulang tahun yang ke-10. Ia memiliki bulu putih yang sangat tebal dan bersih. Rea memberi nama Roi karena dekat dengan nama panggilnya Rea. Rea selalu merawat Roi sepenuh hati, tiap hari libur Rea selalu membawa Roi berkeliling kompleks, tak jarang Roi selalu bersama Rea, kecuali ada Alaska. Rea tidak mau ambil pusing karena jika kedua jantan itu bertemu maka bukan Roi kalau nggak ngajak Alaska berantem.
"Maaf gue bangun telat, " usai membuka pagar Rea langsung mendekati alaska. "Ketiduran abis sholat subuh." ungkapnya biar cowok itu tidak mengomelinya karena sudah menunggu lama.
"Lo tau jam berapa sekarang?"
Tuh kan. Rea sudah menduga Aska akan menanyakan jam dengan tampang sok mengintrogasi Rea. Memang salah siapa Rea bangun jam segini.
"Jam 07:20." jawab Rea santai.
"Yang artinya?" tanya Alaska penuh penekanan.
"Telat." balas Rea singkat.
Cowok itu mendekati tubuh pendek Rea, dengan postur tubuhnya yang tinggi membuatnya benar-benar mengunci Rea yang bertubuh pendek.
"Dan akhirnya lo dan gue?"
Rea mengibas tangan depan muka Aska, mukanya semakin malas menanggapi cowok di depannya ini bikin mules aja perut Rea.
"Ayo jawab." lagi-lagi Alaska menindas, dan Rea? cewek itu itu malah mengerutkan alis kebingungan.
Setelah mendapat tatapan menjengkelkan dari Aska barulah ia Memutar bola matanya malas.
"Dan akhirnya kita di hukum deh." Rea tersenyum paksa, "Udah ah brangkat, yuk?." dan akhirnya, senyum itu berubah jadi Flat face khas Laurea.
Alaska hanya bisa menghela nafas dan harus sabar kalau sudah begini.
"Makanya jangan suka ngelindur kalau malem, telat bangun kan jadinya. " Alaska belum puas mengomeli Rea. Cowok itu memberikan helem pada Rea dengan ekspresi super kesal.
"Ya kan kamu yang ngajakin curhat malem-malem lupa lo?" balas Rea membuat muka Alaska memudar tidak percaya. emang iya, Alaska mengajak Rea telfonan sampai jam 1 malam? hanya karena membahas rencananya untuk menembak Gauri si cewek kelas sebelah. Cewek super cantik dan baik hati. Tambatan hati Alaska sang pangeran cinta. Alay kan? Terserah Alaska!
"Oke soal itu gue yang salah, tapi gak usah lupa bangun juga, " cerca Aska gemas mengacak rambut Rea. "Aska!"
"Kebiasaan suka berantakin rambut orang." kesal Rea sembari menyisir rambutnya, "lagian gue udah minta maaf." decak Rea.
"Gak usah bete."
Mendengar itu Rea hanya mengangkat sudut bibirnya mencibir Alaska. Tanpa peduli cewek itu berbalik kembali untuk mengunci pagar.
Jima sudah seperti ini, Alaska hanya bisa sabar menghadapi tingkah Rea, kalau soal debat Rea memang bukan lawan yang tepat. Alaska selalu mengalah.
Sambil menyalakan mesin. Alaska menungu Rea menutup pagar, hingga selesai mengunci pagar, cewek itu kembali menghampiri Alska dengan muka kesulitan. Helem yang di kenakannya pun sampai miring begitu.
"Pasangin." Suara manja Rea terdengar merengek. Dan Alaska mau tak mau menuruti cewek itu lagi.
Sambil mendekati tubuh Alaska Rea memasang wajah cemberut, "Sini gue pasangin."
Alaska mulai dengan membenarkan letak helem dikepala Rea, setelah itu mendekatkan wajahnya untuk melihat seberapa kecil kaitan helem hingga susah untuk dikancing, sementara Rea hanya diam memeperhatikan Alaska yang begitu lembut memasangkannya helem.
Sampai helm biru itu terpasang sempurna di kepalanya. Alaska tidak menyadari kalau cewek itu sejak tadi memperhatikan garis wajahnya yang tampan.
"Udah nih. "
Rea tersadar sendiri, berubah tingkah. Wajahnya panas karena baru kali ini ia berani memandang wajah sahabatnya sedatail itu. Baru kali ini Rea merasakan hal yang benar-benar ekstrime memacu andrenalinnya. Hanya karena mengikuti tantangan pertama Mahyani.
Mengetes perasaannya pada Alaska!
Yang benar saja si Yani, mana mungkin cewek sejutek dan secuek dirinya bisa suka sama alaska yang suka banget makan jengkol.
"Buruan, udah telat banyak kita." kata Alaska melihat Rea yang masih bengong.
"Eumm oke. "
Setelah susah payah naik di atas motor kawasaki Alaska yang super tinggi itu, Rea menarik ujung roknya yang kependekan sedangkan isi kepalanya masih membayangkan detik-detik ia menatap wajah Alaska, bukan main, jantuntungnya kembali memompa dengan cepat. Rea lantas memeluk pinggang Aska tanpa canggung. Dan saat itu juga aska mulai memainkan gas motornya.
"Pegangan. "
"Udah."
"Yang kenceng."
Rea memutar bola matanya malas.
"Ogah. "
Aska mendengus. "Ya udah seterah lu. "
"Terserah!"
Motor itu baru saja mau melaju tapi tiba-tiba tepukan di punggung Alaska. Membuat cowok itu tidak jadi menarik gas.
"Ada apa Re'?" tanya Alaska menoleh melihat Rea.
"Gue lupa bawa hp, tadi gue cas di kamar, " dengan muka memelas Rea kembali turun dari motor, "Dua menit gue balik. " teriak Rea kemudian berlari membuka pagar.
Alaska menghela nafas terpakasa harus menunggu cewek itu kembali kedalam rumahnya.
"Pantas aja dihubungin gak aktif, ternyata hpnya dimatiin." kesal Aska muali uring-uringan.
Rea benar kembali setelah dua menit berlalu, setelah mengecek tak ada lagi yang ketinggalan Alaska dan Rea memutuskan ke sekolah dengn keadaan terburu-buru. Alaska sampai melajukan motornya membela jalan kota dengan motor kebanggannya. Dan jangan lupakan Rea yang nyaris teriak kencang karena Aska dengan berani menyalip motornya di antara bus dan mobil truk yang melaju kencang, kedua tangan Rea sudah terlilit sempurna di perut Aska. Lupa kalau tadigak mau pegangan, sekaeang malah pelukan. Berdoa saja mereka baik-baik saja.
Gue lebih milih nunggu lo ampe bertelor dari pada nunggu Ayam bertelor.
Curahan hati Aska.