Aku hanyalah sebuah buih di tengah lautan, menyatu dengan buih lainnya dan seharusnya kau mengabaikanku - Alkena Seara Athena
Suara deru motor-motor besar yang memasuki wilayah parkir SMA Antariksa menyita seluruh perhatian pasang mata yang berada disekitarnya. Ditambah keributan yang mereka buat sendiri membuat orang-orang spontan menjauh dari jalan. Hal yang menyebabkan mereka menjadi pusat dari seluruh perhatian.
Argon
Satu nama yang akan diingat siapapun jika sekali berurusan dengannya. Sebuah genk yang berisi murid-murid bermasalah dan penuh dengan aura yang dapat membuat orang-orang pergi menjauh dan menghindar. Dan di SMA Antariksa, geng motor Argon sendiri memiliki empat anggota intinya. Yaitu :
Alkana Reygan Theodore, sang ketua sekaligus panglima tempur dari geng motor Argon itu sendiri. Memiliki sikap dingin saat berurusan dengan orang-orang namun ramah dengan orang terdekatnya.
Dimas Pratama, wakil ketua geng motor Argon yang juga merangkap tugas sebagai penasihat. Orang paling kalem diantara ke empatnya.
Yoga Pramudya, laki-laki konyol yang kadang ucapannya suka ngelantur. Dan di Argon menjabat sebagai colourguard.
Xenon Pradipta, orang aneh tak berotak yang dipanggil oleh Yoga sebagai badut geng Argon. Namun jangan meremehkannya, karena setelah Alkan, Xenonlah yang paling jago berantem.
Dan setiap Argon berjalan bersama, ke empat orang ini akan berjalan di paling depan. Kali ini genk Argon berhasil memenuhi lorong utama. Membuat murid-mirid lainnya lantas menyingkir.
Ikan pari, ikan sapu-sapu
I love you beribu-ribu
Pantun andalan Yoga keluar dari mulut cowok itu seraya memberikan ciuman jarak jauh pada gadis-gadis yang ditemuinya di sepanjang koridor.
"Eh, eneng. Cantik amat neng. Mau gak jadi pacar bang Yoga?" Goda cowok berambut landak itu sambil bersiul.
"Jangan, neng. Jangan mau. Yoga mah pelit, gak ada duitnya" tiba-tiba Xenon menyahut sambil memberikan bendera kebanggaan Argon ke bahu Yoga. "Tugas lo"
Yoga memanggul bendera itu di bahu lebarnya. "Ganggu aja lo. Bilang aja syirik"
"Ih, maaf ya. Xenon mah masih kecil. Gak tau yang namanya cewek-cewek club" ucap Xenon dengan membuka bungkus permen lolipop lalu mengemutnya.
"Makan nih cewek!" Yoga memberikan tangannya yang sebelumnya sudah ia letakkan di ketiak ke hidung Xenon.
"Cumi! Bau banget ketek lo, sumpah. Gak tau yang namanya deodorant ya lo?" Ujar Xenon memperagakan seolah-olah ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya.
"Deodorant buat apa? Garket tetap lebih mantap"
"Jorok lo! Untung gue sabar punya temen kayak lo" Xenon membuang permen lolipopnya dan berjalan lebih dahulu.
"Yah, ngambek. Lo sih, ga. Kan susah bujuk si Xenon" kata Dimas.
Yoga berdecak. "Yailah. Si pentol korek mah dikasih kaos kaki juga balik lagi" cowok itu mengejar sahabatnya yang sudah agak menjauh.
Alkan hanya melirik kedua laki-laki itu yang kini sudah jauh didepannya. Matanya tajam memandang ke arah depan. Sebagai ketua Argon, semua orang di Antariksa takut dan segan padanya.
Namun, suara keributan yang datang dari arah belakang membuat Alkan menoleh dengan Dimas.
"PUNYA MATA GAK LO?!!" Salak Moly pada adik kelas yang tanpa sengaja menabraknya dari belakang. Moly adalah Primadona sekolah yang juga termasuk anggota perempuan dalam geng motor Argon.
Adik kelas itu menunduk takut. Merasa dirinya sekarang menjadi pusat perhatian anak Argon. "Ma-af kak. Saya gak sengaja"
"Lo pikir gue percaya?!!" Moly berdiri dengan tangan yang berkacak pinggang. Bersiap ingin memaki lebih kejam saat seseorang memanggilnya dengan nada tegas. “Molly!”
Moly menoleh ke arah orang itu. "Alkan?"
Alkan menatap Moly dengan tatapan datar. Tak menunjukkan ekspresi apapun. Cewek berstatus primadona itu menyeringai ketika Alkan berjalan mendekatinya. Alkan pasti membelanya. Kepala adik kelas itu semakin merunduk saat cowok yang ber- notabene sebagai ketua Argon berdiri didepannya. Tubuhnya gemetar, genangan air mata sudah berada di pelupuk mata.
"Lo boleh pergi"
Satu kalimat itu mengejutkan seluruh manusia yang berada disana, termasuk si adik kelas itu. Ia mendongak menatap tak percaya Alkan. "Lo gak denger? Pergi sebelum gue berubah pikiran"
Sontak, adik kelas itu berlari meninggalkan kumpulan anak Argon yang tengah menatap Alkan tak berkedip.
Apa Alkan salah berucap?
Dimas yang dari tadi hanya menonton akhirnya mendekat. "Lo kenapa, Al? Tumben dilepas orang kayak begitu, biasanya juga diincer ampe kapok"
Detik selanjutnya, Alkan meneruskan langkahnya seraya berucap. "Argon bukan kumpulan dari orang yang gak punya perasaan"
***
Kena membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi. Hari ini benar-benar tak bisa diduga. Kejadian tadi pagi takkan pernah dilupakannya. Peristiwa dimana ia benar-benar merasa dipermalukan.
Bagaimana tidak?
Ia dengan tanpa sengaja menabrak sang primadona SMA Antariksa. Walau memang tak sampai terjatuh, tetap saja sang primadona bisa memperpanjang urusannya.
"Ken, buruan! Lama banget sih lo. Semedi bukan?!" teriak Adenna dari depan pintu kamar mandi.
Kena mencebik. "Iya. Bawel"
Kena berjalan beriringan dengan Adenna yang terus mengoceh. "Emang tuh si Tomi sialan banget. Masa buku tugas gue di umpetin. Gak ada kerjaan banget tuh orang. Rasanya pengen gue keramasin aja" oceh Adenna. Kena memutar bola matanya, bosan mendengar ocehan unfaedah sahabatnya.
"Oh ya, btw kok lo tadi pagi telat? Tumben" pertanyaan Kena mengingatkan Kena akan kejadian yang menimpanya tadi pagi.
"Lo gak tau? Tadi pagi tuh gu-" langkah gadis itu terhenti disertai ucapannya.
"Lo kenapa, ken?"
"Muter balik, Na. Ke kantinnya lewat lapangan aja" Kena berjalan mendahului Adenna. Gadis itu mengernyit bingung.
"Lo kenapa dah, ken? Kan jauh kalo lewat lapangan. Harus muter dulu" ucap Adenna menyejajarkan langkahnya dengan Kena yang terburu-buru.
"Mendingan jauh daripada nyari mati. Tadi ada anak Argon lewat" jawab kena cepat.
Adenna menautkan alisnya. "Terus? Biasanya juga kan lewat aja. Kok jadi takut gini?"
"Na" gadis itu berhenti lalu menghadap sahabatnya. "Tadi pagi gue nabrak kak Moly di lorong utama yang lagi jalan sama anak Argon"
1....
2.....
3.......
"g****k!!" Maki Adenna terkejut. "Kok bisa? Trus lo gimana? Ada yang lecet gak?"
Kena menggeleng. "Gue diselametin ketua Argon"
"WHAT THE-" ucap Adenna spontan. Tak percaya jika sahabatnya berurusan dengan orang paling menakutkan di sekolah. "Alkan?"
Kena mengangguk. Sontak Adenna menutup mulut. "Jadi mulai sekarang gue gak mau lagi bersentuhan dengan sesuatu yang berbau Argon lagi. Apapun itu" ucap gadis itu.
Kena sudah kapok berurusan dengan Argon dan dia sudah tak ingin lagi merasa dipermalukan oleh mereka karena keinginan Kena bersekolah di SMA Antariksa hanyalah dapat lulus dengan aman dan tentram. Maka, mulai hari ini ia sudah memutuskan untuk menjauh dari kata'Argon'