Tiga bulan kemudian, di rumah Sukabumi yang sekarang Maya panggil "rumah" tanpa tanda kutip, Maya bangun pukul empat pagi. Mual.
Dia ke kamar mandi pelan, supaya tidak membangunkan Damar yang tidur di sebelahnya. Menatap toilet beberapa menit, mencoba memutuskan apakah ini benar-benar mual atau cuma kelelahan. Lalu, akhirnya, muntah—pelan, hampir tidak ada suara, supaya Damar tetap tidur.
Setelah selesai, dia duduk di lantai kamar mandi. Menatap kalender di HP-nya. Menggesernya ke bulan ini.
Telat. Dua minggu.
Dia tidak bilang ke Damar pagi itu. Tidak bilang ke Yuni. Membawa diri-nya seperti biasa—sarapan dengan Damar di teras, jalan ke kebun setelah sarapan, menulis di ruang kerja sampai siang.
Tapi pukul satu siang, ketika Damar sudah berangkat ke heliport untuk terbang ke Jakarta, Maya minta Yuni mengantar ke apotek terdekat—tiga puluh menit dari rumah.
"Bu, kau OK?"
"Iya, Yuni. Cuma butuh beli sesuatu."
Yuni tidak bertanya lebih banyak. Dia tahu—mate bond aktif memberi Yuni naluri yang tajam tentang Maya—tapi dia memilih tidak komentar.
Maya beli test pack. Tiga merek berbeda, untuk memastikan. Pulang. Test.
Dua garis. Tiga garis. Dua garis lagi.
Tiga merek, tiga konfirmasi.
Dia menatap garis itu untuk waktu yang dia tidak tahu. Lima menit. Sepuluh. Mungkin dua puluh.
Tubuhnya bergetar—bukan dari ketakutan, dari sesuatu yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya. Sesuatu yang lebih besar dari semua emosi yang dia pernah rasakan dalam dua puluh enam tahun.
***
Damar pulang dari Jakarta jam delapan malam. Maya menunggu di teras dengan dua cangkir kopi yang sudah dia siapkan—kebiasaan lama yang sekarang adalah ritual.
"Maya."
"Damar."
"Hari kau bagaimana?"
Maya tidak menjawab. Hanya menyerahkan tiga test pack—yang dia simpan di kantong sweater sejak tadi sore.
Damar menatap test pack. Lalu Maya. Lalu test pack lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali, seperti dia tidak yakin matanya tidak menipu.
"Maya..."
"Iya."
"Maya. Maya. Kau—"
"Iya, Damar."
Damar menjatuhkan test pack ke teras. Memeluk Maya. Mengangkatnya. Berputar—Maya hampir berteriak karena pusing.
"Maya. Maya. Maya."
"Damar, kepala saya pusing—"
"Maaf maaf maaf."
Dia meletakkan Maya. Berlutut di lantai teras. Mencium perut Maya yang masih datar dengan kelembutan yang Maya akan ingat sampai hari dia tua.
"Halo. Ini bapak. Kamu... kamu pasti hebat. Karena ibu kamu hebat."
Maya menangis. Tertawa. Menangis lagi. Air matanya jatuh ke kepala Damar.
***
Malam itu, mereka ke Bandung. Memberitahu Bibi Suti.
Bibi Suti menangis lebih keras dari Maya saat dengar berita.
"Sayang... sayang... saya tidak pernah pikir... darah kita... akan terus..."
"Bibi. Bayi ini akan separo serigala. Kalau Damar alpha murni dan saya seperempat—bayi ini setengah lebih."
"Iya, sayang."
"Bibi. Itu artinya... darah Tirtonegoro hidup. Dalam wujud baru. Setelah Bibi tidak ada lagi."
Bibi Suti memeluk Maya.
"Sayang. Anak kau akan memilih sendiri kalau dia mau jadi kawanan atau manusia. Kau dan Damar hanya perlu cinta dia. Apa pun yang dia pilih."
Mereka pulang ke Sukabumi malam itu. Maya di mobil belakang dengan Damar—Damar yang tidak bisa berhenti memegang tangan Maya sepanjang perjalanan, seolah dia takut Maya akan menghilang kalau dia melepaskan.
Di tengah jalan tol Cipularang, Damar tiba-tiba berhenti di rest area kecil yang sudah tutup.
"Damar?"
Damar menatap Maya. Mata coklatnya—yang dulu kelihatan jauh saat foto majalah—sekarang penuh dengan air mata yang dia tidak coba sembunyikan.
"Maya. Saya minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang kau lalui karena saya. Reno. Pisau perak. Racun di darah kau yang sekarang permanen. Hidup kau yang seharusnya normal."
Maya tersenyum. Mengusap air mata Damar dengan tangan-nya.
"Damar. Saya tidak menyesal."
"Maya—"
"Saya tidak menyesal. Karena tanpa semua itu, saya tidak akan tahu siapa saya sebenarnya. Saya tidak akan punya kau. Saya tidak akan punya bayi ini."
Damar menggenggam tangan Maya. Mencium telapaknya.
"Saya cinta kau, Maya."
"Saya cinta kau, Damar."
Mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Di langit Sukabumi yang gelap, bulan purnama. Damar—alpha kawanan Pradipta, suami Maya, calon ayah—menatap bulan dan, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, merasa lengkap.