Pesawat dari Schiphol mendarat di Adisutjipto saat fajar masih ragu-ragu di langit Yogyakarta. Bayu turun dengan satu koper kecil dan satu rahasia yang jauh lebih berat dari koper itu. Dia tidak memberi tahu siapa pun—tidak Anke di Utrecht. Tapi kali ini dia tidak datang sendiri: Sasi sudah mengizinkannya, dalam batas satu bulan yang dijanjikan, untuk menempuh jalan ketiga itu—menemui anaknya sebelum kawanan Yogyakarta menutup pintu selamanya. Hanya alamat sebuah sanggar di pinggiran Kotagede yang dia simpan selama bertahun-tahun tanpa pernah berani datang.
Perempuan itu bernama Larasati. Dulu mahasiswa pascasarjana yang duduk di kelas Bayu di Utrecht, lalu menjadi kekasihnya hampir dua tahun, lalu menghilang tanpa jejak. Bayu baru tahu belakangan siapa dia sebenarnya: anak kawanan Yogyakarta, dikirim untuk menjebaknya, lalu kembali ke klan-nya membawa keturunan garis Pradipta di dalam kandungannya. Mereka tidak berpisah dengan baik. Itu yang akhirnya Bayu akui pada dirinya. Bukan perpisahan sopan—sebuah penjebakan yang baru terbongkar lima belas tahun kemudian.
Larasati membuka pintu. Wajahnya menua dengan tenang, dan di matanya ada pengetahuan yang membuat Bayu langsung mengerti bahwa malam itu tidak benar-benar berakhir dengan baik.
"Kau datang juga," kata Larasati. "Empat belas tahun. Aku kira kawananku tidak akan pernah membiarkanmu sampai sejauh ini."
Di ruang tamu yang sederhana, seorang gadis duduk membaca. Empat belas tahun, rambut sebahu, dan mata yang—Bayu menahan napas—mata yang sama dengan mata Maya. Lengkung alis yang sama. Cara memegang buku yang sama persis seperti neneknya membaca naskah.
"Aria," panggil Larasati. "Ini Om Bayu. Teman lama Ibu."
Aria mengangguk sopan, lalu kembali ke bukunya. Dia tidak tahu. Tentu saja dia tidak tahu.
Larasati menuangkan teh dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Bayu—dulu. Aku diperintahkan. Kau tahu itu sekarang. Tapi anak ini... darahnya terlalu kuat. Pendengarannya terlalu tajam, dia bisa mendengar tetangga bicara dari tiga rumah. Bulan lalu matanya menguning saat marah. Kawanan menjaganya dari jauh, tapi mereka tidak mengizinkan dia tahu siapa ayahnya. Aku tidak tahan lagi menyimpan ini sendirian."
Bayu menutup matanya. Darah kawanan. Bukan hanya dari Yogyakarta. Dari dirinya. Dari garis Pradipta yang mengalir lewat Maya, lewat ibunya, lewat malam yang dia kira sudah dia tinggalkan—dua garis darah yang sengaja disatukan dalam satu anak.
"Dia putri kita," kata Bayu pelan, dan mengucapkannya membuat lantai terasa miring.
"Dia putri dua kawanan," koreksi Larasati lirih. "Pradipta dan Yogyakarta dalam satu tubuh. Itu sebabnya mereka tidak akan pernah melepaskannya." Dia menatap Bayu lama. "Aku tidak tahan lagi, Bayu. Aku tidak tahu cara menjaga anak yang lebih kuat dari ibunya, dan yang diperebutkan dua kawanan."
Di seberang ruangan, Aria menutup bukunya dan menoleh ke arah mereka. Telinganya, Bayu sadar, telah menangkap setiap kata yang dibisikkan.
"Ibu," kata gadis itu, suaranya bergetar antara ingin tahu dan takut. "Kenapa Ibu bilang aku diperebutkan dua kawanan?"
Bayu dan Larasati sama-sama membeku. Rahasia yang dijaga empat belas tahun retak dalam satu detik, dan di luar jendela, fajar Yogyakarta akhirnya pecah menjadi pagi.
(bersambung...)