Mereka datang dari seluruh penjuru.
Kawanan Pradipta hadir lengkap—setiap anggota, dari tetua hingga bayi yang digendong. Kawanan Wijayakusuma datang dipimpin Pratama, saudara tiri Sasi, dengan putranya Adi di sampingnya; perselisihan masa lalu dilupakan di hadapan kematian seorang legenda. Tetua dari kawanan Yogyakarta, Surabaya, bahkan Presiden Kawanan dari Surabaya sendiri—pemimpin tertinggi seluruh kawanan Nusantara—datang menundukkan kepala.
Pemakaman diadakan di lereng bukit di belakang rumah Sukabumi, di tempat yang dulu Damar pilih sendiri bertahun-tahun lalu. "Di sini," katanya pernah pada Maya, "agar aku bisa terus mengawasi rumah kita."
Tapi ini bukan acara kesedihan semata. Sasi memastikan itu. "Ayahku tidak ingin kita meratap," katanya. "Ia ingin kita merayakan. Karena ia menjalani hidup yang penuh."
Maka pemakaman itu menjadi perayaan. Orang-orang berbagi cerita. Tetua tua menuturkan bagaimana Damar muda mempersatukan kawanan-kawanan yang berperang. Anggota kawanan paruh baya mengenang bagaimana Damar menyelamatkan mereka saat kecil. Pratama, dengan suara berat, mengakui di depan semua orang: "Ayahku ini... kakeknya adalah alpha yang seharusnya menjadi musuhku. Tapi Damar memperlakukanku seperti darahnya sendiri. Ia mengajariku bahwa kawanan lebih besar dari dendam."
Lalu tibalah momen yang ditunggu—ritual penghormatan tertua.
Saat senja turun, di bawah langit jingga keunguan, kawanan Pradipta berkumpul mengelilingi makam. Satu per satu, dimulai dari yang tertua, mereka berubah bentuk. Tulang bergeser, bulu tumbuh, manusia menjadi serigala dalam keheningan khidmat. Puluhan serigala mengelilingi gundukan tanah merah—abu-abu, hitam, cokelat keemasan—mata mereka berkilau di temaram senja.
Lalu mereka melolong.
Lolongan itu naik ke langit, satu suara dari puluhan tenggorokan, lagu duka dan hormat yang telah dinyanyikan kawanan untuk para alpha mereka selama ribuan tahun. Suara itu menggema di lembah, memantul dari pegunungan, naik menuju bintang-bintang yang baru bermunculan. Penghormatan terakhir kepada sang alpha. Bentuk serigala terakhir yang dipersembahkan untuknya.
Maya, yang berdiri sebagai manusia di tengah lautan serigala, mendengarkan lolongan itu dan tidak menangis. Ia tersenyum. Karena ia tahu inilah cara mereka mengantar Damar pulang.
Saat lolongan mereda, Sasi maju. Ia tetap dalam wujud manusia, dan berdiri di hadapan kawanan dan tamu yang berkumpul. Pidato yang ia siapkan menguap dari ingatannya. Maka ia bicara dari hati.
"Ayahku mengajariku bahwa pemimpin tidak pernah tidur tenang," katanya, suaranya bergetar namun jelas membelah keheningan. "Ia menjaga kita semua, setiap malam, selama lima puluh tahun, tanpa pernah benar-benar beristirahat. Maka biarkan ini menjadi hadiah terakhir kita untuknya." Ia menatap makam, dan air mata jatuh. "Tidurlah, Ayah. Sekarang giliranku yang berjaga. Tidurlah dengan tenang. Kawanan ada di tangan yang benar."
Tidak ada mata yang kering. Bahkan Presiden Kawanan dari Surabaya, lelaki tua yang keras, menyeka pipinya. Dan di langit, purnama yang menjemput Damar semalam masih membayang, samar di ufuk barat, seolah enggan pergi.
(bersambung...)