Kembali ke Jakarta, Sasi menghadapi kenyataan yang belum pernah ia rasakan sepenuhnya: ia benar-benar sendirian di puncak.
Selama ini, bahkan setelah menjadi alpha, ada Damar. Selalu ada Damar. Sebuah suara di ujung telepon, sebuah nasihat di malam yang sulit, sebuah jaring pengaman tak kasat mata. Setiap keputusan besar, ia bisa bertanya: "Ayah, apa aku melakukan hal yang benar?" Dan Damar akan menjawab, kadang setuju, kadang menantang, tapi selalu ada.
Sekarang tidak ada lagi.
Minggu-minggu pertama terasa seperti berjalan di tepi jurang tanpa pegangan. Kawanan datang padanya dengan masalah tanpa henti. Sengketa wilayah di Surabaya. Anggota muda yang melanggar protokol penyembunyian. Pertanyaan tentang kebijakan Transparansi Bertahap. Permintaan dari Profesor Hartono untuk perluasan penelitian. Konflik internal di Divisi Preservasi. Setiap hari, dua puluh pertanyaan, tiga puluh pertanyaan, semua menatapnya menunggu jawaban.
Pada malam-malam tersulit, Sasi mendapati dirinya meraih telepon untuk menghubungi ayahnya—lalu teringat. Tangannya akan turun perlahan, dan kesunyian kamar akan terasa seperti tekanan fisik di dadanya.
Tika menyaksikan istrinya berjuang. "Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri," katanya suatu malam, memijat bahu Sasi yang tegang. "Aku di sini. Rino di sini. Dewangga di sini."
"Aku tahu," gumam Sasi. "Tapi pada akhirnya, keputusan terakhir selalu di tanganku. Ayah benar. Pemimpin tidak pernah tidur tenang."
Tapi sesuatu mulai berubah.
Tanpa Damar untuk dikonsultasi, Sasi terpaksa mempercayai dirinya sendiri. Dan secara perlahan, ia menemukan iramanya. Keputusan yang dulu butuh berhari-hari perenungan kini ia ambil dalam hitungan jam. Ia berhenti bertanya "apa yang akan ayah lakukan?" dan mulai bertanya "apa yang harus aku lakukan?"
Jawaban-jawabannya berbeda dari Damar. Lebih berani. Lebih cepat. Lebih selaras dengan visi yang hanya ia miliki—visi tentang kawanan yang terintegrasi dengan dunia manusia, modern namun berakar.
Saat sengketa Surabaya memanas, Damar mungkin akan menengahi dengan diplomasi berhari-hari. Sasi terbang ke Surabaya, duduk dengan kedua pihak, dan menyelesaikannya dalam satu sore dengan solusi yang tak terpikirkan siapa pun. Saat anggota muda melanggar protokol, ia tidak menghukum dengan cara lama—ia menciptakan sistem mentor baru yang langsung mencegah pelanggaran serupa.
Dan kawanan memperhatikan.
Perlahan, rasa hormat mereka berubah sifatnya. Dulu mereka menghormati Sasi karena ia putri Damar—warisan, darah, nama besar. Sekarang mereka menghormatinya karena sesuatu yang sepenuhnya miliknya: kompetensi. Mereka melihat alpha yang memutuskan dengan tegas, yang membaca situasi dengan tajam, yang membawa kawanan ke tempat yang Damar sendiri tak pernah bayangkan.
Suatu pagi, Rino datang ke kantornya. "Alpha," katanya, "kawanan Yogyakarta meminta kau menjadi penengah sengketa internal mereka. Bukan kawanan kita, kawanan mereka. Mereka memintamu secara khusus."
Sasi mengangkat alis. "Mengapa aku? Mereka punya alpha sendiri."
Rino tersenyum. "Karena reputasimu menyebar, Alpha. Mereka bilang—" ia berhenti, lalu melanjutkan dengan bangga, "—mereka bilang kau pemimpin paling tajam di seluruh Nusantara saat ini."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Damar pergi, Sasi tidur tanpa meraih telepon. Ia masih tidak tidur tenang—ayahnya benar tentang itu. Tapi ia tidur sebagai dirinya sendiri. Alpha yang berdiri sendiri.
(bersambung...)